Ibnu Sina : Filosof Par Excellence 3
Hosein Nasr menyebut Ibnu Sina demikian :
Seyyed Hosien Nasr introduced Avicenna as sage the sage and the most influential figure in Islamic and all science and gain such title as al-Shaikh al-Rais (the leader of among wise Men) and al-hujat al-haq, (the proof of God) .[1] And his legacy ranging from logic, metaphysics, physich and medicine, zoology, parmachology and so on,
Lewat karya terakhirnya al-Isyarat wa at-Tanbihat tergambar perubahan orientasi dan kehidupan filsuf besar ini dari kehidupan rasionalitas, hiruk pikuk politik kepada kehidupan zuhud, tasawuf dan penyucian diri. Meskipun pendekatan barunya hanya dijustifikasi dengan persuasif (khitabah) an sich. Karena tidak heran, jika ia tidak dapat memecahkan persoalan dalam keilmuan ia akan melakukan ritual ibadah.
Ayah dan saudaranya mengikuti mazhab Ismailiyah, tapi Ibnu Sina sendiri tidak mengikuti mazhab tersebut. Menurut Sebagian ahli sejarah mazhab Ibn Sina adalah Syiah Istna Asyariah atau dikenal juga dengan Ja’fari. Dalam mukadimah al-Isyarat wa tanbihat, ia memulai mukadimahnya dengan frase seperti ini : “Dan aku sampaikan shalawat kepada orang-orang terpilih dari hamba-hamba-Nya untuk risalahnya dan secara khusus untuk Muhammad dan keluarganya. “ Satu frase khas dari para pengikut ahlul bait hal yang menarik Imam al-Ghazali juga memulai kitab Ihya Ulum–ad-Din dengan memuji keluarga ahlulbayt at-Thayibbina at-Thahirin. Atau juga tentang kesyiahan Ibnu Sina juga bisa dilihat dari tema imamah yang ditulisnya secara khusus dalam kitab Magnum Opus-nya Ilahiyah Syifa.