Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Seorang Wanita Perawi yang Berilmu

0 Pendapat 00.0 / 5

Walau tak semasa dengan neneknya, Fatimah Zahra, atau dengan kakeknya, Amirul mu`minin Ali bin Abi Thalib, keberadaan putri Imam Husein ini di dalam rumah ayahnya, menjadikan ia mengetahui apa-apa yang terjadi sepeninggal Rasulullah saw. Di antara yang dapat ia sampaikan ialah tentang bagaimana Fatimah Zahra yang di masa beliau mengalami sakit keras pasca wafat Rasulullah saw.

Ahmad bin Hasan al-Qathan menyampaikan bahwa Abdurrahman bin Muhammad al-Huseini mengabarkan dari Abu ath-Thayib Muhammad bin Husein bin Hamid al-Lakhmi dari Abu Abdillah bin Muhammad bin Zakariya bin Muhammad bin Abdurrahman al-Mahlabi dari Abdullah bin Muhammad bin Sulaiman dari ayahnya dari Abdullah bin Hasan dari ibunya, Fatimah binti Husein: “Ketika Fatimah binti Rasulullah sakit keras, para wanita kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul di tempatnya. Mereka bertanya kepadanya, “Wahai putri Rasulullah! Bagaimana keadaanmu yang dalam sakit keras?”

Beliau menjawab, “Keadaanku sekarang.. (kemudian beliau mengungkapkan kepada mereka, isi hatinya yang merupakan beban-beban berat di dalam hidupnya, dan mengenai masalah-masalah yang dihadapi suami beliau, Abul Hasan Imam Ali as). Kemudian melantunkan ayat:

Apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?..”(QS: 20:35)

Fatimah juga meriwayatkan dari ayahnya, Imam Husein as. Sebagaimana dalam kitab al-Bihar, dinukil dari Abdullah bin Hasan bin Hasan, dari ibunya, Fatimah binti Husein, dari ayahnya, Imam Husein: “Rasulullah saw dalam salat zuhur pada rakaat kedua membaca doa, (dan di antara kalimat-kalimatnya ialah yang artinya demikian):

Ya Allah, karena dosa-dosa itu aku bersandar dan bertaubat kepadamu. Sampaikanlah salawat atas Muhammad dan keluarganya, ampunilah semua dosaku baik yang lama maupun yang baru, yang tersembunyi maupun yang nyata, yang sengaja maupun tidak, yang besar maupun kecil, dan semua dosa yang aku perbuat, dengan ampunan yang pasti tanpa Engkau menyisakan satu dosapun dan tanpa aku berbuat dosa lagi setelah itu untuk selamanya.. Berilah aku kemudahan dalam mentaatimu dan maaf atas banyaknya pelanggaranku terhadap-Mu wahai Zat Yang Maha agung. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa besar kecuali Yang Maha besar…”