Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Mengajarkan Pengawasan Allah

0 Pendapat 00.0 / 5

Pendidikan antikorupsi yang kuat tidak hanya bergantung pada takut kepada hukuman manusia. Anak perlu memiliki kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui dan mengawasi setiap perkataan dan tindakan yang kita lakukan, dimana pun dan kapan pun.

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Sesungguhnya Allah selalu mengawasimu.” (An-Nisa’: 1)

Prinsips ini penting karena korupsi sering dilakukan secara tersembunyi. Jika anak memiliki kesadaran bahwa Allah mengetahui dan mengawasi setiap perbuatannya, ia akan memiliki pengendalian diri dari dalam, bukan hanya takut ketika ada pengawasan dari luar.

Mengajarkan Kesederhanaan dan tidak Berlebihan dalam Mengejar Harta

Salah satu faktor yang dapat mendorong seseorang korupsi adalah keserakahan dan gaya hidup berlebihan. Nabi Saw memberikan teladan kehidupan yang sederhana dan tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama. Kekayaan sebagai amanah dan sarana untuk ibadah kepada Allah dan khidmat kepada manusia.

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ۝ إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (Al-Isra’: 26–27)

Terkait uang orang tua dapat mengajarkan anak membedakan kebutuhan dan keinginan, mengajarkan hidup sederhana dan tidak mengajarkan kemewahan meskipun mampu, bersyukur atas apa yang dimiliki, serta tidak mengukur keberhasilan seseorang hanya berdasarkan kekayaan dan barang mewah. Dan mengajarkan bahwa harta adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya cara memperolehnya dan menggunakannya.

Pendidikan itu sendiri adalah sebuah proses harus dimulai sejak dini dari keluarga melalui keteladanan orang tua, pembiasaan sehari-hari, dialog, pemberian tanggung jawab, dan penanaman iman. Dengan demikian, anak tidak hanya mengetahui bahwa korupsi itu salah, tetapi tumbuh menjadi pribadi yang malu berbuat curang, mampu mengendalikan diri, dan memandang amanah sebagai tanggung jawab kepada Allah dan manusia. Di kemudian hari jika anak tersebut memegang amanah maka akan bertanggungjawab, tidak berkhianat dan korupsi.