Tamu: Amanah Kehormatan dan Ujian Akhlak 2
Imam Ali as, mengingatkan:
لَا تَنْظُرْ إِلَى مَنْ قَالَ، وَانْظُرْ إِلَى مَا قَالَ
“Jangan melihat siapa yang berkata, tetapi lihatlah apa yang dikatakan.”
Maka, menyambut tamu, terlebih yang datang sebagai pembawa dakwah, bukan hanya tentang keramahan, tetapi juga tentang kebijaksanaan dalam menyeleksi pengaruh. Kita menghormati semua, tetapi tidak mengadopsi semua. Bahkan dalam akhlak Ahlul Bait, pelayanan terhadap tamu bukan bermakna menjadi “pelayan” secara sosial, tetapi menjadi tuan yang melayani dengan martabat dan panduan hikmah.
Kadang kita dapati: tamu datang, berbicara dengan semangat, lalu pergi. Namun yang menanggung dampaknya, entah positif atau negatif, adalah tuan rumah dan masyarakat setempat. Maka, menjadi penting untuk memiliki kesiapan ilmu dan kesadaran sosial sebelum membuka pintu rumah dan podium kepada siapa pun yang mengatasnamakan dakwah.
Imam Ali Zain al-‘Abidin as, dalam Risalat al-Huquq menulis:
وَأَمَّا حَقُّ الضَّيْفِ فَإِكْرَامُهُ، وَالْقِيَامُ بِحَقِّهِ فِي الْمُجَالَسَةِ، وَالإِحْسَانُ إِلَيْهِ فِيمَا عَرَضَ مِنْ أَمْرِهِ
“Adapun hak tamu adalah memuliakannya, memperlakukannya dengan baik dalam majelis, dan berbuat ihsan terhadap apa pun yang menjadi kebutuhannya.”
Kita perlu belajar bahwa menyambut tamu bukan hanya adab sosial, tetapi cerminan jiwa dan tanggung jawab moral. Terutama dalam era globalisasi dakwah saat ini, keterbukaan harus disertai ketelitian, dan keramahan harus disertai kecerdasan spiritual.[]