Artikel
-
Al Qur'an Al Karim
Artikel: 576, Kategori: 4 -
Akidah
Artikel: 44, Kategori: 5 -
Rasulullah & Ahlulbait
Artikel: 400, Kategori: 15 -
Hadits & Ilmu Hadits
Artikel: 7, Kategori: 4 -
Fiqih & Ushul Fiqih
Artikel: 19, Kategori: 2 -
Sejarah & Biografi
Artikel: 101, Kategori: 3 -
Bahasa & Sastra
Artikel: 12, Kategori: 2 -
Keluarga & Masyarakat
Artikel: 1958, Kategori: 3 -
Akhlak & Doa
Artikel: 258, Kategori: 3 -
Filsafat & Irfan
Artikel: 306
ASYURA SEBAGAI HUKUM SEJARAH: Merumuskan Benang Merah
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
‘Asyura adalah hukum sejarah. Ia menggambarkan satu pola yang berulang: ketika elite kebenaran tunduk pada dunia dan massa kehilangan basirah, masyarakat runtuh dari dalam, dan darah orang seperti al-Husain tertumpah. Penjaganya juga satu: basirah dan keberanian bertindak pada waktu yang tepat. Karena polanya tetap, maka berlaku aksioma bahwa setiap hari adalah ‘Asyura dan setiap tanah adalah Karbala.
Rahbar: MENGAPA AL-HUSAIN BANGKIT? Wilayah sebagai Pemerintahan Cinta
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
“Kekhalifahan dan wilayah berarti pemerintahan yang disertai cinta dan keterhubungan dengan rakyat; tujuannya bukan mendominasi. Adapun seorang raja adalah penguasa yang menindas dan berbuat sekehendaknya.”⁶⁴
Rahbar: MENGAPA AL-HUSAIN BANGKIT? Massa (Awamm), Tipologi yang Melampaui Kelas, dan Basirah
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
“Massa selalu mengikuti dan meniru elite. Karena itu, kesalahan terburuk seorang tokoh terkenal adalah menyimpang, sebab penyimpangannya mengakibatkan penyimpangan banyak orang.”⁵⁵
Rahbar: MENGAPA AL-HUSAIN BANGKIT? Elite (Khawass) dan Tergelincirnya Mereka oleh Dunia
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
“Ada perbedaan antara elite dan massa. Jika elite menyimpang, mereka termasuk golongan yang dimurkai Allah; sedangkan jika massa menyimpang, mereka termasuk golongan yang tersesat.”⁴⁹
Rahbar: MENGAPA AL-HUSAIN BANGKIT? Dua Sebab Penyimpangan dan Terbaliknya Standar
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
“Moral pertama Asyura adalah bahwa Imam al-Husain mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan masyarakat Islam lima puluh tahun setelah Nabi wafat. Keadaan apa yang membuatnya yakin Islam tidak dapat diselamatkan kecuali melalui pengorbanan?”⁴⁶
Rahbar: MENGAPA AL-HUSAIN BANGKIT? Empat Pilar dan Pengosongan dari Dalam
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
“Nabi mendirikan tatanan politik di atas berbagai pilar. Empat yang terpenting adalah: penguasaan ilmu agama yang jelas; keadilan mutlak yang bebas dari pilih kasih; ibadah murni kepada Allah yang bebas dari syirik; dan cinta yang melimpah serta emosi yang hangat.⁴¹”⁴²
Rahbar: MENGAPA AL-HUSAIN BANGKIT? BAGAIMANA MASYARAKAT RUNTUH: DIAGNOSIS MORAL
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
“Sebagian orang masih hidup pada masa Nabi, tetapi mereka bersekongkol membunuh cucu Nabi dengan kematian yang paling mengerikan. Adakah contoh kemurtadan dan penyimpangan yang lebih buruk dari ini?”³⁹
Rahbar: MENGAPA AL-HUSAIN BANGKIT?Menolak Dalih yang Tampak Sah
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
“Istiqamah tidak selalu berarti menanggung kesulitan, sebab menanggung kesulitan jauh lebih mudah dibanding menanggung (secara pasif atau mendiamkan, (tambahan penulis artikel)) perkara yang tampak berlawanan dengan syariat, kebiasaan umum, dan akal sehat.”³⁷
Rahbar: MENGAPA AL-HUSAIN BANGKIT? Membedakan Kewajiban Utama dan Menentukan Musuh
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
“Imam al-Husain, pada titik genting sejarah Islam, memisahkan kewajiban utamanya dari kewajiban-kewajiban lainnya, lalu menunaikan kewajiban utama itu. Inilah kelemahan yang selalu diderita kaum Muslim.”³³
Rahbar: MENGAPA AL-HUSAIN BANGKIT? Syarat Keadaan yang Tepat dan Premis Teologisnya
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
Kewajiban besar ini tidak berlaku setiap saat. Ia menuntut dua hal: penyimpangan yang ekstrem dan keadaan yang memungkinkan seruan terdengar. Di sinilah Khamenei meletakkan premis teologis yang menopang seluruh argumennya.