Artikel
-
Al Qur'an Al Karim
Artikel: 576, Kategori: 4 -
Akidah
Artikel: 44, Kategori: 5 -
Rasulullah & Ahlulbait
Artikel: 398, Kategori: 15 -
Hadits & Ilmu Hadits
Artikel: 7, Kategori: 4 -
Fiqih & Ushul Fiqih
Artikel: 19, Kategori: 2 -
Sejarah & Biografi
Artikel: 101, Kategori: 3 -
Bahasa & Sastra
Artikel: 12, Kategori: 2 -
Keluarga & Masyarakat
Artikel: 1951, Kategori: 3 -
Akhlak & Doa
Artikel: 258, Kategori: 3 -
Filsafat & Irfan
Artikel: 306
Berharaplah Sesuatu Di Luar Harapanmu! (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Musa yang berangkat dengan harapan yang sederhana yaitu mencari dan mendapatkan kayu dan menyalakan api unggun. Tetapi ia kembali telah berubah status. Dari menantu seorang Nabi menjadi seorang Nabi dan Rasul Agung as. Ia telah Allah pilih menjadi Rasul-Nya dengan tugas besar; menyelamatkan Bani Isra`il dari cengkaman kedzaliman Fir’aun dan memimpin mereka dalam bimbingan Syari’at Allah.
Berharaplah Sesuatu Di Luar Harapanmu!
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Syaikh ash Shadûq –semoga Allah merahmati beliau– meriwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib as sebuah Hikmah Kehidupan yang sangat dalam makna dan kandungannya; Hendaknya seorang lebih besar penggarapannya terhadap suatu di luar harapannya daripada apa yang ia harapkan.
Hadis Rasullulah SAW
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Muhammad Bhagas
Dan barangsiapa menemani saudaranya untuk memenuhi kebutuhannya hingga ia menyelesaikan kebutuhan itu baginya, Allah akan mengokohkan kedua kakinya di atas shirath, yang mana pada hari itu banyak kaki tergelincir.
Alangkah Agungnya Kedudukan Syi’ah Di Surga
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
1. Menyala-nyala dan bersinar bak bintang gemintang yang menghias hamparan langit. 2. Kedudukan mereka begitu tinggi. 3. Cahaya Keimanan mereka kepada Wilâyah Ahlulbait as menyinari sebagaimana bintang-bintang di langit bersinar.
Akal, Takwa, dan Pusat Pengambilan Keputusan Batin
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Akal praktis dalam diri manusia berfungsi sebagai pusat pengambil keputusan batiniah. Namun agar ia tidak menyimpang, pusat ini harus dikendalikan oleh takwa. Dengan demikian, setiap keputusan yang dihasilkan bukan hanya benar secara logis, tetapi juga benar secara moral dan religius.
Perbedaan antara Kebodohan-ilmiah dan Kebodohan-tindakan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Dalam tradisi Islam, perlu dibedakan antara kebodohan-ilmiah (jahl) dan kebodohan-tindakan (jahālah). Kebodohan-ilmiah menunjuk pada ketidaktahuan ilmiah—yaitu ketiadaan pengetahuan dalam ranah akal teoretis. Adapun kebodohan-tindakan merupakan kebodohan dalam perbuatan, yaitu ketika seseorang mengetahui kebenaran tetapi gagal menerapkannya dalam keputusan dan perilaku praktis.
Akal Teoretis dan Akal Praktis: Dua Dimensi Rasionalitas Manusia
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Dalam kerangka filsafat Islam, akal manusia memiliki dua fungsi utama: akal teoretis (al-‘aql al-naẓhar) dan akal praktis (al-‘aql al-‘amali). Akal teoretis bertugas untuk memahami kebenaran, membedakan antara yang benar dan yang salah, serta menghasilkan pengetahuan tentang realitas.
Kehati-hatian dan Kebijaksanaan, Buah Akal Sehat
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Kehidupan yang ideal adalah kehidupan yang dijalankan dengan akal, iman, dan takwa, di mana setiap keputusan lahir dari perenungan mendalam dan disertai orientasi moral yang benar. Karena itu, buah dari kehati-hatian adalah keselamatan.
Hak dan Keutamaan Hari Jumat Menurut Hadis Ahlul Bait as
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Muhammad Bhagas
Sebab pada hari itu, Allah melipatgandakan kebaikan-kebaikan, menghapus dosa-dosa dan meninggikan derajat hamba-hamba-Nya. Dan siang harinya sama seperti malam harinya, jika engkau mampu menghidupkan malam Jumat dengan doa dan shalat, maka lakukanlah. Mishbah al-Mutahajjid, halaman 283
Sintesis: Harmoni antara Akal dan Kecerdasan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Tujuan utama pendidikan, baik spiritual maupun intelektual, seharusnya adalah menciptakan harmoni antara akal dan kecerdasan. Kecerdasan perlu diarahkan oleh akal agar tidak menyimpang, sementara akal membutuhkan kecerdasan agar tidak terjebak dalam kebodohan atau fanatisme buta.