Psikologi Islam

Psikologi Islam25%

Psikologi Islam pengarang:
: Muhamad Taufik Ali Yahya
: Muhamad Taufik Ali Yahya
Kategori: Buku Umum

Psikologi Islam
  • Mulai
  • Sebelumnya
  • 21 /
  • Selanjutnya
  • Selesai
  •  
  • Download HTML
  • Download Word
  • Download PDF
  • Pengunjung: 11322 / Download: 3354
Ukuran Ukuran Ukuran
Psikologi Islam

Psikologi Islam

pengarang:
Indonesia

Buku Ini di Buat dan di teliti di Yayasan Alhasanain as dan sudah disesuaikan dengan buku aslinya


1

2

13. Melanggar Janji

• Berbagai Tanggung Jawab

• Pentingnya Sumpah dan Mudarat-mudarat Melanggarnya

• lslam Melarang Pelanggaran Janji

Berbagai Tanggung Jawab

Manusia menyadari tanggung jawabnya hanya ketika dia sampai pada tahap-tahap mampu membedakan antara yang hak dan yang batil. Setelah itu ia dapat memperhatikan berbagai perintah dari sistem kehidupan dan mematuhi serangkaian keputusan yang menentukan dan kepada keputusan inilah kebahagiaan dan integritas manusia bergantung. Dengan kata lain, ia mampu menciptakan keharmonisan antara perilaku dan berbagai kebutuhan jasmani dan rohaninya.

Pelaksanaan tanggung jawab materi dan rohani merupakan suatu kebutuhan, baik bagi akal maupun kesadaran; tanggung jawab meminta manusia untuk tabah mengikuti kemajuan, dan menguruk faktor-faktor yang menyebabkan kekacauan di dalam sistem kehidupan. Pelaksanaan tanggung jawab memainkan suatu peranan yang besar dalam meningkatkan akhlak yang baik dan kehidupan kerohanian. Kendati dalam beberapa kepercayaan (agama), tanggung jawab bukan merupakan perbudakan melainkan kebebasan yang sesungguhnya. Tanggung jawab menarik manusia kepada tara nan perilaku yang sesuai dengan sistem kehidupan yang paling memadai. Tanggung jawab manusia itu ada selama manusia ada, tetapi dalam bentuknya yang berbeda-beda. Sudah sepantasnyalah mengharapkan seseorang untuk memenuhi tanggung jawabnya jika ia mampu dan berkehendak untuk memenuhinya.

Ketiadaan rasa tanggung jawab dan pelanggaran berbagai peraturan hanya akan menunjukkan kejahilan akan asas-asas kehidupan dan mengantar kepada kesengsaraan dan kerusakan. Tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada pelecehan terhadap para anggota masyarakatnya. Oleh karena itu, kita harus mencegah pelanggaran kewajiban individual yang dilakukan semata-mata untuk memenuhi nafsu-nafsu kita.

Orang-orang yang menjadi tawanan hawa nafsunya sendiri lebih mengutamakan hasrat-hasrat dan berbagai kepentingan pribadi, di atas tugas-tugas mereka, yang adalah akar kerusakan dan ketidakmampuan dalam mencapai integritas manusia seutuhnya.

Menurut Dr. CarI:

Seseorang yang memandang dirinya bebas untuk berbuat segala sesuatu bukanlah seperti elang yang menjelajah langit yang tiada bertepi, melainkan seperti anjing pelarian yang menemukan dirinya di tengah-tengah keramaian lalu lintas. Orang ini dapat dibandingkan dengan anjing yang berbuat apa saja sekehendaknya, namun orang ini lebih tersesat daripada anjing karena ia tidak tahu ke mana ia pergi atau bagaimana menjauhkan dirinya dari semua bahaya yang ada di sekelilingnya.

Kita semua sepakat bahwa fitrah tunduk kepada hukum-hukum tertentu. Kita juga harus menyadari bahwa kehidupan manusia mengandung serangkaian hukum dan undang-undang. Kita mengkhayalkan diri kita sebagai makhluk yang sepenuhnya merdeka dan berbuat apa saja yang kita kehendaki. Kita tidak ingin mengakui bahwa kendali atas hidup kita tidaklah berbeda dengan mengendarai mobil dari sudut pandang bahwa keduanya tunduk kepada peraturan-peraturan tertentu. Kita berpikir seolah-olah tujuan sesungguhnya bagi manusia adalah makan, minum, tidur, berhubungan seks, serta memiliki mobil, radio, dst ...

Menaati peraturan adalah penting bagi masyarakat manusia, dan ini tidak dapat dilakukan tanpa benar-benar memperhatikan peraturan-peraturan tersebut. Orang-orang yang mengandalkan kemampuan sendiri dapat memperhatikan kenyataan-kenyataan hidup dengan kaca mata akal dan logika; dan oleh karena itu, dapat menunaikan berbagai kewajiban mereka. Mereka mengatur hidupnya sesuai dengan asas-asas keadilan dan kebenaran serta menerima semua kewajibannya tanpa adanya keluhan. Jika seseorang gagal, bagaimanapun ia masih dapat menemukan alasan untuk merasa bangga, karena kelalaian semacam ini tidak muncul melainkan setelah ia memenuhi berbagai tanggungjawabnya.

Kita harus mencari kebahagiaan dalam wujud yang sesungguhnya.

Kebahagiaan bersama, keselamatan menjadikan orang-orang yang menaati panggilan kesadarannya mencapai keberhasilan, Imbalan bagi orang-orang yang memperhatikan tanggung jawabnya adalah munculnya rasa percaya diri dan keharmonisan antara pikiran dan kesadaran. Perasaan yang menyenangkan ini berangkat dari jiwa orang-orang yang melaksanakan berbagai tanggung jawabnya dalam kehidupan.

Pentingnya Sumpah dan Mudarat-mudarat Melanggarnya

Salah satu kewajiban penting manusia dalam kehidupan adalah memperhatikan sumpahnya. Adalah fitrah manusia untuk merasa kesal bila melanggar sumpahnya dan merasakan kepuasan dan kebaikan ketika memenuhinya, baik individu maupun masyarakat, tanpa memandang agamanya. Asas-asas yang mendidik seseorang memainkan suatu peranan penting dalam tingkah lakunya di masa mendatang. Maka perlunya didikan yang memadai dan pengembangan akan keberhasilannya serta penjauhan diri dari hal-hal yang merusak fitrah manusia, sangatlah jelas. Pendidikan yang tepat merupakan kunci kepada kesempurnaan akhlak.

Moralitas dipandang perlu untuk memperhatikan dan menghargai semua sumpah lisan (persetujuan, janji) yang dilakukan di antara berbagai kelompok, bahkan jika mereka kekurangan akan jaminan-jaminan yang sah. Pelanggaran sumpah dianggap sebagai penolakan terhadap peraturan-peraturan tentang martabat dan harga diri.

Menurut Buzarjumehr:

Pelanggaran sumpah menjauhkan martabat.

Orang-orang yang menyelewengkan dirinya dari jalan yang benar dengan melanggar sumpahnya, akan menanam benih-benih penolakan dan kebencian di dalam hati orang lain: Pada akhirnya tindakan pelanggaran akan mempermalukan nya, kemudian ia akan mencoba untuk menutupi berbagai tindakannya dengan macam-macam alasan dan kontradiksi, sehingga orang-orang yang mengetahui orang ini akan melihat bahwa ia adalah seorang munafik yang tersesat.

Sesungguhnya pelanggaran sumpah termasuk di antara unsur yang paling aktif dalam menciptakan perselisihan sosial dan melemahkan ikatan di antara manusia. Tak syak lagi, suatu masyarakat yang diliputi oleh perselisihan dan saling tidak percaya lama kelamaan akan kehilangan keseimbangan dalam kehidupan sosialnya dan akibatnya para anggotanya tidak akan dapat mempercayai bahkan terhadap kerabat terdekatnya sekalipun.

Ada tipe individu yang tidak hanya lalai dalam memegang janjinya, juga memandang pengkhianatan (khianat akan amanah) sebagai tindakan yang bijaksana dan baik; orang-orang ini bahkan merasa bangga dengan tindakan-tindakannya kepada orang lain.

Pemenuhan janji itu penting bagi seseorang yang ingin hidup ber-masyarakat; ia adalah landasan bagi kebahagiaan, perkembangan dan keberhasilan sosial.

Diriwayatkan bahwa sekelompok orang Khawarij ditangkap di masa lalu yang meninjau kembali kasus-kasus mereka dan menghukum mereka sekehendaknya. Ketika orang terakhir berdiri di depan Hajjaj untuk menunggu hukumannya, waktu shalat pun tiba. Hajjaj mendengar adzan dan mengembalikan tawanan itu kepada seorang bijak serta berkata padanya untuk membawanya kembali esok pagi.

Orang bijak itu meninggalkan istana bersama sang tawanan. Sewaktu mereka berjalan, tawanan itu berkata: "Aku bukanlah salah seorang Khawarij. Aku memohon kepada Allah dengan rahmat-Nya untuk membuktikan kebenaranku, karena aku adalah tawanan yang tidak bersalah. Aku mohon padamu untuk membiarkanku menghabiskan malam ini bersama isteri dan anak-anakku sehingga aku dapat memuaskan keinginanku kepada mereka. Aku berjanji bahwa aku akan kembali sebelum ayam berkokok di pagi hari." Setelah hening sesaat, akhirnya orang bijak itu setuju dengan usul si tawanan dan mengizinkan dia pulang untuk semalam. Beberapa waktu kemudian, orang bijak itu mulai merasa takut dan membayangkan bahwa ia akan menjadi korban kemarahan Hajjaj. Malam itu orang tersebut terjaga penuh ketakutan dan heran pada sang tawanan, yang telah berjanji untuk kembali, mengeruk pintunya. Orang bijak ini kaget dan tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berseru:

"Kenapa kamu datang kembali?"

Sang tawanan menjawab: "Orang yang mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah, dan menjadikan-Nya saksi terhadap sumpahnya, harus memenuhi janjinya."

Orang bijak itu pun berjalan bersama tawanannya menuju istana Hajjaj, dan menceritakan segala perihalnya. Hajjaj, yang terkenal dengan kekejamannya, begitu tergerak dengan lelaki yang jujur itu dan mengizinkannya untuk membebaskannya.

Sekarang anggaplah suatu perusahaan komersial mengabaikan janjinya dalam memenuhi kewajiban dan undang-undangnya. Perilaku ini tidak akan menyebabkan kemajuan melainkan kemunduran, karena perusahaan ini akan kehilangan kepercayaan di mata masyarakat.

Tidak ada faktor yang lebih mapan daripada sifat saling percaya di antara para anggota masyarakat. Hubungan antar pribadi tidak akan stabil, dan sifat saling percaya tidak akan terwujud di masyarakat mana pun tanpa setiap orang memberikan perhatian yang besar kepada janji-janji lisannya, sebagaimana yang ia lakukan terhadap karyawan nya dan kontrak-kontrak sahnya. Misalnya, seorang pedagang harus mengirim barang kepada pelanggarannya tepat waktu; seorang peminjam harus mengembalikan pinjamannya dst.

Selain itu perselisihan pun dapat dihapus dan kehidupan dapat mencapai tujuan utamanya.

Adalah penting bagi seseorang untuk meninjau kembali kemampuan nya sebelum membuat berbagai janji, dan menjauhkan diri dari janji-janji yang berada di luar jangkauannya, sebab jika seseorang tidak dapat memenuhi janjinya ia bertanggung jawab atasnya. Maka, jika seseorang tidak berhati-hati dengan apa yang diucapkannya, ia akan menjadi korban kutukan dan kritikan.

lslam Melarang Pelanggaran Janji

Manusia wajib berperilaku baik sehingga dipandang sebagai manusia. Keberhasilan masyarakat manusia sepenuhnya bergantung kepada kemanunggalan para anggota nya. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi setiap orang dalam kehidupan nya bertingkah laku sesuai dengan asas-asas kebenaran dan keadilan, dan sepenuh hati berupaya untuk menjauhkan diri dari tindakan yang dapat menyebabkan perselisihan atau perpecahan. Lebih jauh lagi, jika kesucian sumpah dan janji-janji berangkat dari keimanan dan moralitas, maka hal ini lebih memungkinkan untuk diperhatikan.

lslam sangat mengutuk pelanggaran janji; lslam memandang tidak sah dan tidak etis bagi para pengikutnya dalam melanggar sumpah bahkan jika sumpah itu dibuat dengan para tiran. Imam Al-Baqir a.s. berkata:

Ada tiga urusan yang baginya Allah tidak memberikan izin (izin untuk melanggarnya): Pemberian kepercayaan kepada orang yang benar dan yang batil. Pemenuhan janji kepada orang yang benar dan yang batil. Dan kebaikan kepada orangtua, baik mereka itu benar ataupun berdosa.

(AI-Kafi, jilid II, hal. 162)

Al-Quran menggambarkan orang-orang beriman dengan kata-kata berikut ini:

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanatnya, dan janji-janjinya.”

(QS.23:8)

Di samping itu, Rasulullah Saw. memasukkan pelanggaran janji di antara tanda-tanda kemunafikan. Beliau bersabda:

"Ada empat sifat yang jika seseorang memilikinya ia dianggap sebagai seorang munafik. Jika salah satu darinya didapati pada seseorang, ia memiliki sifat munafik, kecuali bila ia menolaknya: (empat sifat itu adalah):

Orang yang berdusta ketika berbicara;

Orang yang melanggar janjinya;

Orang yang berkhianat ketika bersumpah, dan Orang yang meledak-ledak ketika berselisih (dengan seseorang)."

Imam Ali a.s. menulis kata-kata berikut kepada Malik Al-Asytar:

Jauhilah sifat menyombongkan diri terhadap bawahanmu tentang kebaikanmu (kepada mereka), dan dari lebih menyukai dirimu (sebagai gubernur) daripada bawahanmu, atau menjanjikan mereka dan mengikuti janjimu dengan khianat; karena menyombongkan diri menghalangi kebaikan, cinta diri menyembunyikan cahaya kebenaran, dan khianat patut menerima murka Allah dan manusia. Allah SWT berfirman: "Adalah suatu kemurkaan Allah bila kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan."

(Mustadrak Al-Wasa'il. jilid 11, hal. 85)

Imam Ali a.s. berkata:

Pemenuhan (janji) itu kembar dengan sifat amanah, dan aku tahu tidak ada perisai yang lebih baik daripadanya (amanah).

(Ghurar AI-Hikam, hal. 228)

Islam memberikan perhatian khusus kepada pertumbuhan anak. lslam telah menjelaskan kepada para orangtua tentang tugas-tugas moral terhadap anak-anak mereka melalui perintah-perintah yang tegas dan lengkap. Tanpa orangtua melaksanakan kewajibannya menurut prinsip-prinsip moral ini, mereka tidak akan dapat mengajarkan anak-anak mereka untuk mematuhi kemuliaan moral.

Ini semua karena berbicara lebih nyaring daripada kata-kata. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. melarang manusia melanggar janji kepada anak mereka. Beliau bersabda:

"Dan seseorang tidak semestinya membuat janji kepada anaknya dan tidak memenuhinya."

(Nahj Al-Fasahah, hal. 201)

Dr. Alindi berkata:

Anak usia enam belas tahun yang setiap hari mencuri dibawa kepada saya untuk berobat. Saya temukan bahwa ketika anak itu berusia tujuh atau delapan tahun telah dipaksa ayahnya untuk memberikan mainannya kepada putri seorang aristokrat, karena si ayah bekerja padanya. Mainan itu bagi si anak melambangkan impiannya. Si ayah berjanji untuk membelikan mainan pengganti terapi secara tidak disengaja si ayah lupa. Anak yang tiada daya itu melampiaskan dendam dengan mencuri permen dari kantong ayahnya. Hari berikutnya anak itu membongkar sebuah rumah dan mencuri barang-barangnya. Tidaklah sulit mengobati anak itu bila ia dibawa kepada saya. Mungkin saja anak itu akan menjadi seorang penjahat yang berbahaya jika tidak diobati selayaknya. Namun sekarang kesempatannya untuk menjadi orang yang berakal dan percaya diri menjadi lebih besar.

(Ma Wa Farzand e Ma)

Imam Ali a.s. menekankan cara bergaul yang semestinya antara seseorang dengan sahabat-sahabatnya. Beliau berkata:

Jika kamu mengangkat seorang menjadi sahabat karib, jadilah pelayannya dan berilah ia iman yang mumi dan ketulusan yang benar.

(Ghurar Al-Hikam, hal. 223)

Hanya orang-orang yang memiliki sifat yang mulia dan moral yang baik yang memenuhi syarat bagi cinta dan persahabatan (relationship).

Rasulullah Saw. bersabda:

"Bila kamu bergaul dengan orang-orang yang memiliki sifat-sifat mulia, kamu akan merasakan suatu kekuatan yang tak terkalahkan memanggil jiwa dan akhlakmu kepada kemuliaan dan keagungan. Persahabatan dengan orang-orang yang memiliki akal yang kuat, sifat yang mulia, dan lebih berpengalaman, adalah suatu hal yang sangat bernilai, karena bubungan seperti ini memberikan suatu kesempatan untuk mencapai rohani yang tinggi, mengajarkan kita cara-cara baru tentang perilaku yang layak, dan mengarabkan pandangan kita tentang orang lain kepada jalan yang benar."

Pergaulan dengan orang-orang yang baik mengajarkan kita tentang kebaikan dan kebajikan, karena akhlak yang baik itu laksana cahaya yang menerangi sekelilingnya dan semua yang berada di dekatnya. Kesimpulannya, semua insan harus mengetahui tanggung jawab mereka terhadap sumpah dan janji-janji mereka.

14. Khianat

• Saling Percaya dan Penunaian Tugas

• Khianat dan Keburukannya

• Agama Mengutuk Pengkhianatan

Saling Percaya dan Penunaian Tugas

Sifat saling percaya merupakan unsur terpenting bagi perjuangan hidup suatu masyarakat yang sehat dan bersatu. Suatu masyarakat dianggap bahagia dan sentosa apabila hubungan di antara para anggotanya didasarkan pada sifat percaya (amanah). Jadi, jika manusia melanggar batas kewajiban-kewajiban mereka dan tidak peduli terhadap hak-hak orang lain, mereka kelak akan turun ke lembah kerusakan sosial.

Ada beberapa macam hukum yang mengatur berbagai urusan manusia. Setiap manusia memiliki andil atas hukum-hukum yang ditetapkan kepadanya oleh akal, fitrah dan agama untuk diikuti. Tujuan hukum-hukum ini adalah untuk mewujudkan sinar kepercayaan dan keharmonisan dalam kehidupan manusia. Tanpa hukum ini manusia tidak akan mengetahui atau lalai akan dosa-dosanya kepada Allah dan masyarakatnya. Manusia, sebagai makhluk sosial, tidak mempunyai pilihan lain kecuali berinteraksi dengan lingkungannya, yang oleh karenanya terciptalah berbagai hubungan sosial yang terhitung jumlahnya. Sebagai akibat dati hubungan-hubungan ini lahirlah serangkaian hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban ini melindungi masyarakat dari perselisihan, dan meratakan jalan bagi pemecahan segala problema yang umumnya terjadi dalam suatu hubungan.

Tanpa menghiraukan kesulitan dan pengorbanan yang muncul bersama kewajiban-kewajiban sosial, bagaimanapun harus dipenuhi guna memberi manusia kesenangan dan kebahagiaan. Memang sudah fitrah manusia mencari kebahagiaan dan berharap dapat meraihnya tanpa menanggung beban penderitaan, tetapi ia harus menyadari bahwa kebahagiaan tidak dapur diperoleh secara mudah dengan hanya melaksanakan berbagai kewajiban. Pernah dikatakan bahwa: "Kebahagiaan adalah imbalan bagi terlaksananya kewajiban."

Tidak saja kebahagiaan masyarakat lebih penting daripada kebahagiaan individu, tetapi juga kebahagiaan individu sepenuhnya bersandar pada kesejahteraan sosial. juga sudah jelas bahwa pengkhianatan atas hak-hak sosial adalah melanggar ruh keadilan sosial dan menciptakan kekacauan dalam sistem sosial. Setiap manusia bertanggung jawab dalam menghargai kehidupan dan kebebasan orang lain.

Orang-orang yang membiasakan diri taat dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya dan mengambil tanggung jawab mereka kepada Allah dan masyarakat secara serius, akan menambah kebahagiaan orang lain dan membantu mereka untuk berhasil dalam berbagai urusannya Mereka juga memperoleh kepercayaan dari orang lain dan berhasil dalam kehidupan.

Dr. S. Smiles berkata:

Kewajiban-kewajiban (tugas) adalah hutang manusia. Orang yang cenderung untuk menjaga dirinya dari kecemaran dan nilai-nilai amoral di mata orang lain harus membayar hutangnya, Namun, tindakan-tindakan seperti ini hanya dapat dilaksanakan dengan perjuangan yang terus menerus dan serius. Pelaksanaan kewajiban merupakan masalah pokok yang membebani manusia sejak pertama ia memasuki dunia ini hingga berpisah darinya. Oleh karenanya, semakin seseorang berkuasa dan mampu, ia lebih dibutuhkan untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya; karena manusia itu laksana pramuniaga yang tugasnya melayani. Tugas ini didasarkan pada cinta keadilan, dan itu tidak hanya merupakan kewajiban ideologis tetapi juga suatu kebutuhan mendasar kehidupan manusia. Sekalipun begitu, sifat-sifat tersebut menunjukkan pengaruhnya dalam kata-kata dan amal perbuatannya. Rasa tanggung jawab merupakan suatu pembawaan besar bangsa-bangsa; dan suatu bangsa memiliki harapan akan keberhasilan jika para anggotanya memiliki rasa tanggung jawab yang mulia dengan kesombongan, keangkuhan dan keegoisan. Jenis tindakan ini pantas menerima belasungkawa, karena cepat atau lambat fitrah akan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak pantas untuk terus hidup.

Khianat dan Keburukannya

Tidak seorang pun ragu bahwa banyak faktor yang sangar mempengaruhi berkembangnya kerusakan, Ketika diadakan suatu penelitian mengenai faktor-faktor yang menyebabkan ketiadaan moral dan kemerosotan sosial, menjadi jelas bahwa faktor yang paling berpengaruh adalah merasuknya pengkhianatan ke dalam hati dan pemikiran manusia. Kita juga menemukan bahwa bahaya yang menimpa masyarakat yang ditimbulkan oleh pengkhianatan dan akibat-akibatnya yang menghancurkan ruh sosial, melebihi segala faktor lainnya.

Khianat menjadikan ruh manusia suram dan mengarah kan pemikiran dan rasa kasih sayangnya kepada kesesatan dan kerugian total. Ancaman ini muncul karena merasuknya nafsu-nafsu; ketika pemikiran-pemikiran jahat mendorong untuk menerima kerendahan dan kehinaan sebagai ganti dari menerima berbagai inspirasi akal dan iman.

Setiap orang membutuhkan orang lain untuk mempercayainya. Seorang buruh atau pedagang dapat memperoleh pendapatan materi melalui berbagai macam pengkhianatan; dan mungkin ia mampu untuk menyembunyikan komplotan dan pemalsuannya untuk sementara waktu, tetapi suatu hari kelak masalahnya akan terungkap yang menyebabkan ia kehilangan kepercayaan yang merupakan modal utamanya. Dengan tindakan semacam ini juga ia akan menodai martabat dari kelas sosialnya.

Para pengkhianat terus-menerus hidup dalam ketakutan. Mereka merasa gelisah dan goncang serta kebanyakan dari mereka merasa pesimis.

Kenyataannya bahwa ketenteraman dan tatanan umum bergantung kepada keamanan umum. Keresahan dan kegelisahan yang mematikan -akibat pengkhianatan- akan memukul lingkungan sosial, juga mengancam hakikat kehidupan sosial. Sebenarnya, setiap tidak ada keamanan akibat pengkhianatan, tidak akan ada kebebasan, persaudaraan, atau kemanusiaan.

Khianat tidak terbatas kepada urusan-urusan tertentu saja, juga meliputi segala tindakan manusia. Bila kita mengucapkan kata-kata dan atau perbuatan, kita menemukan batas-batas yang jelas dan gamblang; dan jika seseorang sedikit saja menyimpang dari perbatasan ini, berarti ia menolak keberadaan sifat amanah, dan ia pun masuk ke daerah pengkhianatan dan kebatilan.

Diceritakan bahwa seorang berjiwa besar memberikan nasihat berikut ini kepada putranya:

Anakku, jadilah orang miskin dan terampas sementara orang-orang menjadi kaya dan berharta lewat pengkhianatan. Hiduplah tanpa ketenaran dan kedudukan dan biarkanlah orang lain mencapai kedudukan yang tinggi dengan desakan dan perjuangan. Pikullah penderitaan, keletihan dan kerugian; biarlah orang-orang meraih cita-cita dan harapan mereka dengan penyombongan diri dan permohonan. Jauhilah persahabatan dengan orang terkemuka yang semua orang berlomba-lomba untuk dekat kepadanya. Kenakanlah pakaian takwa dan moral hingga rambutmu memutih, tetapi jangan biarkan rasa malu yang menyuramkan menodaimu, Maka bersyukurlah kepada Tuhanmu dan tunduklah kepada-Nya dengan hati yang suci dan kesadaran yang baik.

Kejujuran adalah modal manusia dalam kehidupan. Manusia memberi kepercayaan dan menyandarkan diri mereka kepada orang yang jujur, mereka mengizinkan orang yang jujur untuk membina suatu kehidupan yang bersih dan mulia. Ketika kita menyandarkan diri kita kepada orang jujur, kita akan melihat kejujuran dalam setiap sektor kehidupan dan dapat meraih berbagai hikmah serta mempelajari berbagai pengalaman; dengan demikian kita dapat meningkatkan kehidupan dengan perasaan aman dan bahagia.

Agama Mengutuk Pengkhianatan

Allah Yang Mahakuasa -merujuk hukum-hukum yang Dia syariatkan bagi makhluk-makhluk-Nya sebagai "Amanah"- memberi banyak perumpamaan di dalam AI-Quran untuk memperingatkan manusia terhadap khianat:

"Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."

(QS.8:27)

"Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyerahkan amanat (kepercayaan) kepada yang berhak menerimanya."

(QS.4:58)

Amirul Mukminin, Imam Ali a.s. berkata:

Yang terburuk di antara pengkhianatan adalah mengkhianati teman karib dan kepercayaan serta melanggar janji.

(Ghurar AI-Hikam, hal. 501)

Beliau juga, sebagaimana dikutip, mengatakan:

Yang terburuk di antara manusia adalah orang-orang yang tidak percaya kepada amanah dan tidak menjauh dari pengkhianatan.

(Ghurar Al-Hikam, hal. 446)

Dan:

Hindarilah khianat karena ia adalah yang terburuk di antara dosa-dosa; sesungguhnya para pengkhianat akan disiksa di dalam api khianat mereka.

(Ghurar AI-Hikam, hal. 150)

Imam Ash-Shadiq a.s. menasihati salah seorang sahabatnya:

Jangan pernah mengatakan selamat jalan kepada kami tanpa menasihati kami tentang dua sifat: Taat menyampaikan kebenaran, dan menyampaikan amanat-amanat kepada orang yang benar dan berdosa karena mereka (dua sifat ini) adalah kunci kepada makanan.

(Safinah Al-Bihar. jilid I, hal. 41)

Islam menyeru semua manusia untuk hidup stabil dan bahagia di bawah peraturan tentang pelaksanaan kewajiban yang ditetapkan sesuai dengan perintah-perintahnya yang mulia. Islam juga menekankan pentingnya menyampaikan amanah.

Imam Ash-Shadiq a.s. berkata:

Taatilah penyampaian amanah. Karena dengan amanah Dia mengurus Muhammad Saw. sebagai seorang Nabi yang benar, bahkan jika seorang yang membunuh ayahku menitipkan kepadaku pedang yang digunakannya untuk membunuhnya, aku akan mengembaIikan kepadanya.

(Amali Ash-Shadiq, hal. 149)

Tidak ada tenggang rasa dalam lslam terhadap para pengkhianat. Di bawah keadaan tertentu Islam bahkan mensyariatkan untuk memotong tangan orang yang mencuri harta kaum Muslimin. Secara keras lslam melaksanakan hukuman terhadap para pengkhianat guna melindungi hak-hak sosial dan memelihara keamanan umum. Prosedur ini menempatkan rasa tanggung jawab dalam masyarakat dan membantu menciptakan suatu masyarakat yang baik.

Setiap kesalahan yang dilakukan mempunyai dampak-dampak yang buruk di dunia ini dan di akhirat, di samping itu ia juga menjadi faktor yang meruntuhkan kemanusiaan.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Barangsiapa yang berbuat jahat akan dihukum karenanya di dunia ini.”

(Nahj Al-Fasahah)

Menurut Dr. Rose Keen:

Setiap kesalahan yang saya lakukan dalam hidup saya akan menghadang jalan saya dan menjauhkan saya dari kebahagiaan; ia akan mengganggu pemahaman dan realisasi saya. Sebaliknya juga benar; setiap mencoba kebenaran atau tindakan yang benar menyertai dan mendorong saya untuk mencapai segala cita-cita dan harapan saya.

Teori Mesin mengatakan:

"Aksi dan reaksi adalah sama" bila digunakan kepada psikologi tingkah laku. Tindakan baik dan buruk memiliki pengaruh berlawan yang sama atas individu-individu dan orang-orang sekitarnya atau yang menirunya.

Imam Ali a.s. berkata:

Penyampaian amanat merupakan ciri orang-orang yang benar-benar beriman.

(Ghurar AI-Hikam, hal. 453)

Iman adalah senjata defensif rohani. Ia merupakan salah satu dari faktor-faktor penting yang dapat mencapai kedalaman jiwa, ia mengatur amal perbuatan dan perilaku manusia dengan tatanan yang tepat. Iman juga membangun kembali rasa tanggung jawab individu dan sosial, memperingatkan manusia terhadap pengaruh kerusakan sosial, dan membimbing masyarakat kepada keadilan dan kebenaran.

Iman mencegah kerusakan dan pengkhianatan. Ia menjadi tanggung jawab orangtua untuk meratakan jalan bagi anak-anak mereka agar hidup bahagia dengan memelihara kebiasaan anak-anak mereka secara hati-hati sejak awal; menanamkan iman ke dalam hati mereka dan mendukung sifat-sifat mereka yang patut dipuji.

Imam Zainal Abidin a.s. berkata:

Kamu bertanggung jawab atas orang yang kamu jaga; akhlaknya, petunjuknya kepada Tuhannya SWT, dan membantu untuk menaati (Tuhannya).

Dr. Raymund Peach berkata:

Tidaklah cukup (bila) secara umum mematuhi aturan-aturan agama. Karena perhatian yang terus menerus dan tepat kepada setiap rinci mengenai tingkah laku dan emosi anak berkenaan dengan agama, penting untuk menanamkan iman di dalam hati mereka. Penanaman asas-asas agama dan genggamannya yang kuat di dalam kemurnian dan kebaikan hatinya menciptakan kesiapan untuk menerima nasehat dan teguran anda. Lakukanlah hal itu tanpa batas. Hal ini akan melindungi iman dan keyakinan mereka, serta menjaganya dari kesesatan dan kerusakan.

(Ma Wa Farzandane Ma)

Imam Ali a.s. berkata:

Sesungguhnya di dalam akal manusia ada suatu kebutuhan akan moral sebagaimana panen memburuh kan hujan.

(Ghurar Al-Hikam, hal. 224)

Dr. C. Robin berkata:

Beberapa orang yang mungkin membantah fakta bahwa akhlak itu seperti berjalan dan berbicara, adalah tindakan-tindakan alamiah. Dengan kata lain, ia berada di antara masalah-masalah awal yang kita pelajari dalam kehidupan. Harus pula diketahui bahwa akal tidak membantu manusia mempelajari akhlak yang baik; namun, akhlak mengatur manusia sebelum ia menyadari kepentingannya, lebih daripada tanda-tanda kedewasaan mental. Dengan kata lain, akhlak tidak bergantung kepada akal tetapi merupakan kegunaan baginya. Oleh karena itu, saya merasa tidak enak ketika mendengar seorang ibu berkata tentang perilaku putranya: 'Dia akan bangkit sendiri mempelajari hal yang benar.' Jika anak-anak tidak dibawa kepada akhlak yang baik dari usia muda, mereka tidak akan mampu mendapatkannya melalui akal dan pemahaman. Memang, kita dapat mengatakan bahwa akhlak adalah alat yang membimbing kita dan membuka gerbang-gerbang jalan terdekat menuju keadilan. Alat ini melindungi kita dari kemalasan, walau demikian ia juga memiliki nafsu dan keinginan yang berlimpah ruah; akal menjaga kita dari permusuhan, kebencian dan dendam. Dengan kata lain, ia menjadikan kita dapat hidup bermasyarakat dan memperingatkan kita akan kelalaian terhadap orang lain dan terhadap egoisme. Individu-individu berakhlak baik tidak pernah menyendiri; mereka dapat mewakili masyarakat dan membantu menyadarkan manusia kepada kebenaran.

(Chi Madanam)

Kendati segala upaya tengah dibuat untuk mensyariatkan hukum-hukum yang keras guna mengurangi kejahatan pengkhianatan, dan juga dibuat program-program pendidikan guna menyadarkan manusia akan berbagai akibatnya, dan meskipun dibuat berbagai hukum dan cara penerapannya untuk memerangi pengkhianatan, tindakan khianat terus menerus meningkat jumlahnya dan cenderung menjadi sesuatu yang mengerikan.

15. Sifat Kikir

• Kerja Sama dan Bantuan

• Bakhil Meniadakan Kasih Sayang

• Sekilas Pandang atas Berbagai Pandangan Para Pemimpin tentang Sifat Bakhil

Kerja Sama dan Bantuan

Secara alamiah setiap manusia memiliki bakat-bakat khusus dan kita membutuhkan kerja sama dengan orang lain untuk menyempurnakan dan agar bakat-bakat kita menjadi produktif. Kerja sama merupakan suatu unsur yang efektif dalam proses peningkatan dan keberhasilan individu dan masyarakat.

Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, oleh karena itu sudah menjadi watak manusia untuk turut serta dalam tugas memecahkan berbagai problema kehidupan.

Peristiwa-peristiwa alam dan keinginan menciptakan sejumlah problema bagi manusia. karenanya membuat mereka menghadapi berbagai kesulitan, karena faktor inilah manusia terus menerus membutuhkan pertolongan orang lain. Ditinjau dari segi hukum alam (sunnatullah), kewajiban tidak terbatas kepada satu individu saja tetapi untuk semua tingkatan dalam masyarakat. Membantu seseorang, tidak pandang seberapa kecil dan besarnya kewajiban itu, sangatlah bermanfaat bagi perkembangan masyarakat dan akan mencakupi satu di antara berbagai kebutuhannya.

Karena keadaan-keadaan sosial terwujud melalui para anggota masyarakat -dari banyak sisi - kita dapat mengumpamakan struktur sosial dengan tubuh manusia. Sebagaimana tubuh manusia terdiri dari anggota-anggota yang secara alamiah saling berhubungan satu sama lain dan di atasnya pula perjuangan hidup (survival) manusia bersandar, masyarakat juga terdiri dari bagian-bagian yang berbeda-beda, yang menjadikannya utuh. Jadi, tiap-tiap anggota masyarakat harus mengetahui kewajiban-kewajibannya yang vital dan melaksanakan sesuai kemampuannya sehingga masyarakat dapat tumbuh dengan subur. Para anggota harus menyelami segala kemampuan materi dan rohani mereka, dan mengerahkan demi kepentingan masyarakatnya dengan terus menerus memperhatikan untuk selalu berada dalam lingkup kemampuan dan peraturan sosial.

Bagaimanapun juga ketenteraman dan keamanan menyeluruh bagi masyarakat, dan penanggulangan berbagai kesulitan hanya dapat dicapai jika ada rasa kerja sama dalam perhubungan (relationship) manusia satu sama lain. Hanya dengan kerja sama, kehidupan menjadi lebih manis, tindakan menjadi lebih berfaedah, dan kereta masyarakat bergerak maju di jalan kemuliaan.

Kikir Meniadakan Kasih Sayang

Ada perasaan-perasaan tertentu yang berasal dari dalam hati manusia, buah-buah dari perasaan ini tidak terhingga nilainya; inilah akar-akar dari kerja sama manusia. Perasaan  ini, yang terwujud dalam menolong orang-orang miskin, termasuk sifat rohaniah khusus dan sifat-sifat mulia manusia. Inilah perasaan yang membuat manusia bereaksi ketika melihat kesengsaraan atau penderitaan yang dialami orang lain; ia mengilhami manusia untuk mau berkorban dan melupakan berbagai keinginan pribadi guna mengurangi penderitaan orang lain. Manusia tersebut babu at demikian tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Dr. Carl mengatakan:

Peningkatan di segala bidang membutuhkan tingkat pengorbanan tertentu, kebesaran, dan ketulusan; kemurnian jiwa hanya dapat dicapai dengan mengorbankan materi dan popularitas demi kepentingan negara atau tujuan yang lebih besar. Pengorbanan diri adaIah kebiasaan orang-orang yang memahami keindahan keadilan dan kebenaran iman kepada Allah. Inilah orang-orang yang mengorbankan jiwa mereka untuk melaksanakan keadilan, cinta dan keharmonisan di seluruh dunia. Akal saja tidak dapat membimbing manusia menuju kesempurnaan. Cinta dan kasih sayang juga merupakan faktor yang penting dalam urusan ini. Hal ini benar, karena jiwa mengatasi perasaan daripada akal dan renungan. Setiap orang dapat maju pada jalan ini melewati mega ke puncak cahaya dan mencapai kebenaran.

Ada suatu sifat yang dapat menghancurkan akar-akar kasih sayang, yang dapat bersembunyi di bawah sadar manusia.

Sifat ini dikenal sebagai kikir. Kikir meratakan jalan bagi fitrah manusia untuk menyingkirkan moral-moral baiknya.

Kikir adalah sifat jahat yang selalu menyusup ke dalam akhlak dan rohani. Di samping kikir dapat mengarahkan orang menjadi berpikiran sempit, ia juga menjerumuskan manusia kepada kehinaan dan kebencian masyarakat. Sebagai akibat dari sifat kikir dan egois. pikiran si kikir terpusat di sekitar materialisme dan kekayaan. Oleh karena itu, mereka terasing dari kebebasan berpikir dan sesudah itu terasing dari fakta-fakta kehidupan dan nilai-nilai akhlak dan rohani. Orang kikir tidak menganggap kekayaan merupakan suatu cara mengamankan kebutuhan materi dalam kehidupan. Sesudah mengamankan kebutuhan mendasar kehidupan dalam kesenangan, keharmonisan atau dalam menanggulangi kegelisahan dan penderitaan-penderitaan psikologis, maka tidak ada suatu peran pun bagi kekayaan.

Rasa takut miskin yang terbayang-bayang merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi pikiran orang kikir. Karena alasan inilah si kikir tidak pernah dapat menjauhkan dirinya dari kekhawatiran dan depresi. Kendati orang kikir itu memiliki harta kekayaan. ia terasing dari kesenangan dan ketenteraman.

Menurut seorang sarjana Inggris:

Ada beberapa orang mengharapkan kekayaan seolah-olah tidak ada lagi selainnya yang berharga. Bahkan ada yang menjauhkan diri mereka dari pengetahuan dan tidur karena tujuan utama mereka adalah memperoleh kekayaan. Orang-orang seperti ini menjauhkan diri mereka dari kebenaran karena membayangkan harta sebagai tujuan dan bukan sebagai alat. Harta adalah laksana jembatan yang membantu kita dari kerusakan. Betapa kelirunya orang-orang yang menghabiskan hidup mereka dalam memperkuat jembatan itu sementara tidak mengetahui tujuannya. Jangan sampai kita menyerahkan diri kita demi uang, sebaliknya kita harus menyerahkan uang demi kita Banyak orang yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari uang dan saat mereka mendapatkannya, mereka membutuhkan kehidupan yang lain untuk menghabiskannya tetapi saat-saat yang sangat mereka inginkan tidak pernah datang.

Tampaknya ada hubungan langsung antara kekayaan dan sifat kikir. Kebanyakan orang-orang kaya adalah orang-orang yang kikir. Suatu penelitian mengungkapkan bahwa bantuan kepada orang-orang miskin pada umumnya dilakukan oleh kelas menengah dan tidak kaya.

Orang kaya yang kikir. yang menjadi korban rasa frustrasi dan amarah orang miskin, adalah pokok dari beberapa kerusakan sosial. Tekanan yang berada di atas orang miskin, dan akibat komplikasi psikologis yang menimpa mereka. merupakan faktor-faktor yang menyuburkan kerusakan dan kekacauan. Tiada seorang pun mengingkari peranan yang sangat merusak ini, dan problema ini telah menyebabkan kejahatan dan permusuhan.

Banyak orang kaya yang melewati batas kemanusiaan sebagai akibat kecenderungan mereka yang kuat untuk memperoleh kekayaan. sehingga menambah penindasan mereka dengan merampas hak-hak orang-orang miskin. Para penindas seperti ini sudah pasti kehilangan sinar kemanusiaannya dari diri mereka.

Di lain pihak kita memiliki sifat murah hati, faktor ketulusan manusia. Ia merupakan perwujudan dari kemurnian perasaan manusia dan sebagai tanda dari pemikiran yang mapan. Kemurahan hati juga merupakan sifat yang paling baik di antara segala sifat murni lainnya.

Kemurahan hati menduduki suatu tingkatan yang sangat tinggi di antara sifat-sifat lainnya. Nama Hatim Ta'i masih tetap bersinar di seluruh negeri karena kemurahan hatinya yang termasyhur.

Sudah jelas bahwa sifat murah hati hanya dapat dipuji jika kedekatan kepada Allah dicari dengan mengurangi penderitaan orang-orang miskin sebagai tujuannya. Menyombongkan diri dan ingin terkenal jangan sampai menyusup ke dalam kemurahan hati.

Sekilas Pandang atas Berbagai Pandangan Para Pemimpin tentang Sifat Kikir

Islam menekankan semua aspek masyarakat manusia. la menganjurkan pengorbanan dan kemurahan dalam memberi untuk memperkuat ikatan cinta dan kasih sayang antara si kaya dan si miskin. lslam juga sangat membenci kekikiran dan ketiadaan moral.

Islam menanamkan akar-akar cinta dalam masyarakat Islami dengan mengatur perasaan-perasaan manusia dan rasa kerja sama di antara sesama Muslim. Islam melarang Muslim yang kaya bersikap acuh tak acuh terhadap yang miskin; ia juga melarang sifat kikir yang menghalangi kaum Muslimin dari membayar zakat yang diwajibkan bagi mereka untuk kaum Muslimin yang miskin.

Rasulullah Saw. bersabda:

"lslam tidak membenci sesuatu lebih daripada kekikiran. "

(Nahj Al-Fasahah, hal. 549)

Kikir adalah sifat jahat yang menjauhkan seseorang dari kebahagiaan dan ketenteraman dan meninggalkannya dalam penderitaan.

Rasulullah Saw. juga bersabda:

"Sedikit-dikitnya keharmonisan (kerukunan) di antara manusia adalah orang-orang yang kikir. "

(Nahj Al-Fasahah, hal. 21)

Seorang sarjana Barat berkata:

Orang yang kekurangan cinta dan mencarinya (bahkan di bawah sadarnya) selalu mengutuk dirinya dan tidak pernah puas dengannya; karena alasan ini banyak di antara kita bernafsu terhadap kehidupan orang lain dan sangat iri terhadap mereka. Perasaan ini tidak terbatas kepada orang-orang miskin terhadap orang-orang kaya: dengki mempengaruhi kita semua karena adanya suatu unsur dalam kehidupan setiap orang di mana mereka merasa lemah. Misalnya, seseorang yang mempunyai isteri, anak dan kedudukan yang baik, merasa tamak melebihi orang-orang yang jauh dari keadaannya yang seperti ini. Orang-orang seperti itu memandang pakaian, misalnya, sebagai bukti dari kelebih-unggulan mereka; atau seseorang mungkin melihat orang lain yang pakaiannya lebih bagus dan berpikir bahwa orang yang berpakaian lebih bagus itu lebih bahagia daripadanya, karena jika ia tidak lebih bahagia ia tidak akan memiliki pakaian-pakaian yang lebih bagus ...

(Ravankavi)

Rasulullah Saw. diperintahkan oleh Allah SWT agar mengasihi orang-orang yang tidak mencintai harta untuk dirinya sendiri tetapi mengeluarkan kelebihan (harta) itu kepada orang-orang yang kekurangan. Beliau bersabda:

"Semoga Allah memberi rahmat atas orang-orang yang menahan diri dari kata-kata yang tidak perlu dan yang mengeluarkan kelebihan dari apa yang dimilikinya."

(Nahj Al-Fasahah, hal. 81)

Nabi Saw. juga bersabda:

"Hindarilah kekikiran karena akan menyebabkan kamu binasa dan mengarahkan meraka kepada pertumpahan darah serta menodai kesucian mereka."

(Nahj Al-Fasahah, hal. 8)

Imam Ali a.s. berkata:

Aku heran kepada orang-orang kikir yang sengsara, karena mereka merasa miskin padahal daripadanya mereka lari lebih cepat. dan merasa kehilangan harta yang mereka cari. Dalam kehidupan ini mereka hidup dari kehidupan orang-orang miskin dan akan dihukum di akhirat dengan hukuman orang-orang kaya.

(Ghurar AI-Hikam, hal. 497)

Seorang sarjana Inggris menyatakan:

Beberapa orang tampak kaya tetapi sebenarnya miskin. Mereka memiliki uang tetapi tidak dapat mengeluarkannya untuk dirinya sendiri. Kekayaan mereka menjadi seperti rantai emas yang mencekik leher mereka sehingga daripadanya mereka tidak memperoleh apa-apa kecuali penderitaan dan siksaan. Di sini uang menjadi kemalangan dan kekayaan menjadi bencana.

(Dar Aghushe Khush Bakhti)

Bahkan anak dari orang-orang kikir mengeluh tentang ayah mereka. Kenyataan ini dijelaskan oleh Imam Ali a.s. yang mengatakan:

Kemurahan hati seseorang membuat musuhnya mencintainya, dan kekikiran membuat anak-anaknya membenci nya.

(Ghurar AI-Hikam, hal. 368)

Beliau juga berkata:

Tamak dan kikir dibangun atas keraguan dan kurangnya keyakinan.

(Ghurar AI-Hikam, hal. 488)

Dr. Farmer telah berkata:

Sifat murah hati dan percaya diri lahir dari keharmonisan dan mempercayai diri dan orang lain, ketika anda menemukannya sekaligus di dalam diri seseorang, ia akan menyempurnakan akhlak masyarakat dan memberi peluang kepada kesempurnaan untuk menempati kehidupan sosial. Yang berlawanan dengan itu yakni ketika sifat ini sedang kekurangan, keutuhan akhlak masyarakat tidaklah mungkin sehingga seseorang tidak mampu menikmati kehidupan sosial.

(Raz Khusbhakhti)

Imam Musa Al-Kazim a.s. menjelaskan nilai sifat murah hati dengan mengatakan:

Orang yang murah hati dan berakhlak baik selalu berada di bawah lindungan Allah. Allah tidak menjauhi mereka tetapi membimbing mereka ke sorga. Allah SWT tidak mengutus seorang nabi atau penggantinya kecuali seorang yang murah hati; tidak ada orang adil (benar) yang tidak murah hati. Hingga saat-saat kematiannya, ayahku memerintahkanku agar menjadi orang yang murah hati.

(Furu’ Al-Kafi, jilid IV, hal. 38)

Suatu kali ketika Imam Ali a.s. sedang bertempur di medan laga, seseorang yang sedang beliau serang meminta pedang beliau. Imam Ali a.s. memberikan kepadanya sehingga membuatnya terheran-heran. Kemudian Imam Ali a.s. mengatakan bahwa orang-orang kikir sangat membutuhkan bimbingan agama, dan jika mereka jauh dari bimbingan itu, mereka akan terap berada dalam perangkap materialisme, kerugian dan kesengsaraan.

6. Fitnah

• Masyarakat yang Ternodai Fitnah

• Mudarat-mudarat Fitnah

• Apakah yang Membuat Fitnah Berkembang

• Agama Terhadap Akhlak yang Buruk

Masyarakat yang Ternodai Fitnah

Tidak syak lagi bahwa saat sekarang ini masyarakat manusia menderita berbagai macam penyelewengan rohani dan korupsi sosial dan telah lalai dalam mengembangkan akhlak mereka, pada langkah yang sama mereka mampu menjaga kemewahan-kemewahan materi bagi diri mereka: Hari demi hari masyarakat semacam ini menghadapi sejumlah besar penyakit gawat yang telah membanjiri lautan kehidupan dengan berbagai penderitaan yang fatal. Orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang untuk menghindari berbagai penderitaan pun menyudahi keracunan mereka dengan dosa-dosa dan' mencari tempat berlindung dalam pangkuan kerendahan guna mengurangi berbagai penderitaan rohani dan kegelisahan mereka. Namun sinar matahari kebahagiaan tidak akan pernah mengalihkan cahayanya yang menerangi kehidupan mereka.

Orang-orang ini telah menipu diri sendiri dengan meyakini bahwa mereka telah bebas dari segala pembatasan dan peraturan-peraturan, dan kini mereka berlomba-lomba di medan-medan kerendahan dan kelalaian, Bila secara hati-hati kita memeriksa kehidupan orang-orang yang tanpa akhlak ini, kita temukan bahwa mereka menggunakan cara-cara peningkatan materi yang cepat terhadap berbagai tujuan yang mereka ciptakan untuk kepentingan itu. Mereka telah menjadikan fenomena materi sebagai suatu poros bagi berbagai hasrat dan keinginan mereka, dan mendung dosa-dosa pun telah membayangi masyarakat mereka.

Akan lebih produktif lagi jika mereka menggunakan harta kekayaan mereka yang melimpah, yang mereka habiskan untuk penyelewengan dan kekacauan, di wilayah akhlak yang baik yang tidak dapat dirubah. Meskipun begitu norma-norma perilaku yang mereka terima, secara terus menerus berubah.

Tiada gunanya untuk mengatakan bahwa kalau sifat-sifat yang mulia menjadi hakim bagi kepribadian-kepribadian yang baik, para anggota masyarakat tidak akan melaksanakannya melainkan akan selalu dipengaruhi oleh pikiran sosial yang mengarahkan mereka untuk meniru perbuatan-perbuatan masyarakat lain, mereka pun tidak tahu menahu tentang adanya kemungkinan pengaruh-pengaruh yang merugikan. Atas dasar ini kita harus menyadari bahwa peradaban kontemporer kurang mampu menciptakan watak-watak yang sehat dan mulia, mereka juga tidak dapat menjamin keselamatan atau kebahagiaan bagi masyarakat mana pun. Dr. Carl, seorang sarjana Perancis terkenal berkata:

Kira membutuhkan suatu dunia di mana setiap orang dapat menemukan suatu tempat yang pantas bagi dirinya tanpa membeda-bedakan antara kebutuhan materi atau kebutuhan rohani. Dengan ini kita mampu menyadari bagaimana kita bisa hidup, kemudian kita menyadari pula bahwa kemajuan pada jalan kehidupan tanpa suatu pedoman yang benar adalah suatu hal yang berbahaya. Kini kita menyadari bahaya ini, namun mengherankan betapa kita telah lalai untuk mencari cara-cara berpikir yang benar. Kenyataannya bahwa hanya sedikit yang benar-benar mengetahui bahaya ini. Kebanyakan manusia dikuasai oleh nafsu-nafsu mereka dan mereka begitu mabuk dengannya yang, tanpa menghiraukan seberapa tinggi teknologi mereka, mereka tidak berkehendak untuk menghentikan segala kesenangan yang haram itu demi suatu peradaban yang layak.

Kehidupan hari ini seperti sungai indah yang mengalir dari lereng yang curam, menghanyutkan harapan dan mimpi-mimpi kira ke dalam lautan kerusakan dan penyelewengan demi memuaskan keinginan-keinginan sementara dan kebutuhan-kebutuhan sesaat. Banyak orang telah menemukan kebutuhan-kebutuhan baru dan kini berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan ini. Di samping kebutuhan ini, ada hal-hal lainnya yang membawa kebahagiaan sementara kepada mereka, seperti fitnah, bergunjing, perbincangan tanpa arah tujuan, dan lain-lainnya yang sebenamya lebih berbahaya daripada alkohol terhadap kesehatan.

Salah satu penyelewengan sosial yang hendak kami uraikan adalah fitnah; tidaklah perlu untuk menjelaskan makna teknis dari fitnah, karena setiap orang telah mengetahuinya.

Mudarat-mudarat Fitnah

Mudarat fitnah yang paling berbahaya adalah pengrusakan kepribadian rohani dari kesadaran orang yang memfitnah. Orang-orang yang menyimpang dari jalan pemikiran alami mereka akan kehilangan keseimbangan berpikir dan sistem perilaku mereka yang mulia; di samping itu juga merusak perasaan-perasaan manusia dengan menyingkap rahasia dan kesalahan mereka.

Fitnah menghancurkan singgasana moralitas manusia dan merampas martabat dan sifat-sifatnya yang tinggi dengan kecepatan yang menakjubkan. Sebenarnya, fitnah membakar lapisan-lapisan moralitas di dalam hati pemfitnah hingga menjadi abu. Fitnah menggelapkan pemikiran yang jernih hingga akhirnya gerbang-gerbang akal dan pemahaman menjadi mati. Bila kita berpikir tentang bahaya fitnah terhadap masyarakat, kira temukan bahwa fitnah telah membuat kerusakan besar terhadap para anggota masyarakat.

Fitnah memainkan suatu peranan yang menghancurkan dalam menyebabkan terjadinya permusuhan dan kebencian di antara para anggota masyarakat yang berbeda-beda. Jika fitnah dibiarkan berkembang dalam masyarakat, akan merampas kebesarannya, reputasi baiknya dan menciptakan perselisihan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan di antara anggota masyarakat.

Patut disayangkan bahwa kita harus mengakui kenyataan bahwa fitnah telah menemukan jalannya menuju semua kelas sosial. Hal ini menunjukkan suam kenyataan bahwa berbagai peristiwa kehidupan itu saling terkait, sehingga penyelewengan-penyelewengan psikologis yang mungkin timbul dalam suatu kelas sosial akan merasuk ke semua kelas lainnya. Sebagai akibat dari berkembangnya fitnah ini; sifat pesimis dan prasangka pun membayang-bayangi masyarakat; manusia kehilangan kepercayaan satu sama lain dan berubah menjadi kecurigaan. Mengingat hal ini, kita dengan aman dapat mengatakan bahwa tanpa mencerahkan diri dengan berpikir secara bersaudara dan dengan sifat-sifat yang mulia, masyarakat tidak akan pernah memperoleh keharmonisan atau persatuan di dalamnya. Sebuah masyarakat yang kurang akan karunia sifat-sifat yang mulia sudah pasti jauh dari watak-watak kehidupan yang sesungguhnya.

Apakah yang Membuat Fitnah Berkembang

Dengan tidak menghiraukan fakta bahwa fitnah merupakan suatu pengejawantahan dari dosa-dosa praktis, ia secara langsung berhubungan dengan rohani manusia. Fitnah adalah suatu tanda dari bahaya yang mendasari kekacauan jiwa, yang karena itu kita harus mencari alam rohani dan kejiwaan.

Para sarjana behavioris menyebutkan sejumlah alasan bagi berkembangnya fitnah. Hal terpenting adalah: dengki, amarah, sombong, egois dan prasangka. Tidak syak lagi, setiap perbuatan yang dilakukan individu berangkat dari keadaan tertentu yang berada dalam kesadarannya, dan sebagai akibat dari pengejawantahan keadaan-keadaan semacam ini, yang adalah seperti bara api di bawah abu yang dingin, yakni lidah; penerjemah perasaan-perasaan manusia, mengeluarkan fitnah.

Ketika watak-watak tertentu secara mendalam telah berakar dalam kesadaran manusia, ia membutakan matanya dan menguasai pemikirannya. Salah satu alasan fitnah yang berkembang luas adalah bahwa para pemfitnah tidak mempedulikan dampak-dampak bahaya sesudahnya. Kita melihat orang-orang yang menahan diri dari dosa-dosa lainnya tetapi tidak berpikir dua kali terhadap perbuatan jahat yang menyengsarakan ini. Pengulangan fitnah tanpa mempertimbangkan dampak-dampak sesudahnya akan merampas kendali kemampuan manusia Untuk menahan diri dari mengikuti nafsu-nafsunya tanpa menghiraukan pengetahuannya tentang realitasnya yang berbahaya. Orang-orang ini berusaha untuk meraih integritas dan kesempurnaan. Orang-orang seperti ini melarikan diri dari realitas dan menolak untuk menanggung sedikit penderitaan dalam mencapai kebahagiaan. Dengan demikian mereka menjadi korban kekuasaan nafsu-nafsu mereka yang rendah.

Orang-orang yang tidak memperhatikan martabat dirinya sendiri atau orang lain, tidak patuh kepada hukum etika; dan seseorang yang membuat kehidupan sebagai arena bagi nafsu-nafsunya, akan menerima kesengsaraan akibat melanggar batas hak-hak orang lain.

Sifat akhlak yang miskin ini berasal dari keimanan yang lemah, sedangkan akhlak merupakan buah dari keimanan. Jika seseorang tidak mempunyai iman, ia tidak mempunyai motif untuk berkelakuan baik atau menjalankan moral yang mulia.

Setiap orang memiliki pendapat mengenai cara terbaik dalam menolong orang dari penyelewengan dan pengrusakan moral. Menurut pendapat saya cara yang paling efektif adalah mendorong, kehendak baik mereka dengan menyadarkan terhadap seruan-seruan kepada kebaikan dan berbagai naluri manusiawi serta mengarahkan mereka untuk menggali kekayaan pikiran manusia dalam meraih kebahagiaan. Dengan menarik perhatian manusia. kepada dampak-dampak akhlak yang buruk dan dengan memperkuat kehendak mereka, kita dapat mengalahkan segala watak buruk dan mengganti rel kegelapan dengan sifat-sifat yang mulia.

Dr. Jago menulis:

Bila kita berniat memerangi kebiasaan yang tidak baik pertama-tama kita harus menyadari akibat-akibat buruknya. Kemudian kita harus mengakui kebiasaan tersebut dan akhirnya merenungkan kejadian-kejadian yang membuat kita menjadi korban kebiasaan semacam ini. Jika kita mengenal diri kita sendiri melalui tahap-tahap kebiasaan ini. kita akan mengalahkan niat buruk itu dan merasa senang dalam menyingkirkannya.

Dengan adanya benih-benih integritas dalam jiwa manusia dan dengan tersedianya cara-cara untuk bertahan, kita mampu menyadari sebab-sebab di balik kesesatan dan kebingungan serta menyingkirkannya dari jiwa dan kesadaran kita membangun tembok yang kuat dalam menghadapi berbagai keinginan dan nafsu yang tiada habis-habisnya.

Berbagai tindakan merupakan gambaran dari si pelaku dan oleh karenanya merupakan pencerminan dari martabat dan realitas mereka. Dengan alasan ini jika seseorang mendambakan kebahagiaan, ia harus. memilih tindakan-tindakan yang benar guna merubahnya menjadi benih-benih kebahagiaan yang berharga. Manusia juga harus menyadari bahwa Allah mengetahui semua tindakannya, tidak pandang seberapa pun kecilnya.

Menurut seorang filosof:

Janganlah mengatakan bahwa alam semesta ini tidak memiliki akal atau perasaan, karena dengan berkata demikian berarti anda menuduh diri anda sendiri tidak berakal dan atau berperasaan. Jika alam semesta tidak berakal atau berperasaan, maka anda juga tanpa perasaan dan akal.

Dengan cara yang sama, masyarakat membutuhkan barang-barang materi agar mampu untuk terus hidup, ia membutuhkan sejumlah keharmonisan tertentu untuk memelihara berbagai ikatan rohani di antara anggotanya. Suatu masyarakat yang dengan teliti mengamati beban yang berat di antara tugas-tugas sosialnya dapat memanfaatkannya dalam memperoleh integritas.

Bagi kita. untuk mengeluarkan jiwa kita dari kegelapan kepada cahaya, kita harus memperkuat segala pemikiran yang mulia di dalam hati kita guna menangkis berbagai gagasan atau niat yang merusak. Dengan menjaga lidah kita dari fitnah, berarti kita mengambil langkah pertama untuk kebahagiaan. Bagi kita, menangkis berkembang pesatnya pengrusakan adalah wajib untuk menciptakan suatu revolusi psikologis di antara umat ini. Kita dapat melaksanakan ini dengan memperhatikan hak-hak orang lain yang nantinya akan menumbuhkan akar-akar kemanusiaan dan kerohanian, kemudian mengambil langkah lagi untuk membela sifat-sifat yang mulia, yang kepadanyalah perjuangan hidup setiap masyarakat bergantung.

Agama Terhadap Akhlak yang Buruk

Al-Quran mengungkapkan realitas fitnah dalam sebuah ayat yang singkat namun mengesankan:

“Apakah salah seorang di antara kamu senang memakan daging mayat saudaranya? Tentu kamu tidak menyukainya.”

Oleh karena itu, sewajarnyalah jika manusia menolak memakan daging orang yang telah mati, akalnya pasti membenci fitnah. Para pemimpin agama begitu banyak memberikan perhatian kepada perbaikan perasaan dan watak kejiwaan manusia sebanyak yang mereka berikan kepada perjuangan untuk menyingkirkan politeisme dan ateisme.

Rasulullah Saw. bersabda:

"Aku tidak diutus melainkan untuk menyempurnakan akblak yang mulia."

Manusia telah dibimbing kepada moralitas oleh mazhab besar lslam dan didukung dengan pemahaman yang kuat dan logis. lslam memandang segala pelanggaran batas dari sudut moralitas sebagai suatu dosa besar dan tercela.

Sesungguhnya, Islam tidak hanya berhenti pada penunjukan fitnah sebagai dosa yang mengerikan, tetapi juga mewajibkan kepada semua kaum Muslimin untuk mempertahankan martabat orang-orang yang terkena fitnah.

“Jika seseorang difitnah sementara kamu ada di sana, maka jadilah penolong orang tersebut, celalah pemfitnah dan asingkanlah kelompoknya.”

(Nahj Al-Fasahah, hal. 48)

Rasulullah Saw. bersabda:

"Barangsiapa yang mempertahankan martabat saudaranya di saat ketidakhadirannya, maka adalah haknya atas Allah untuk melindunginya dari api neraka."

(Nahj Al-Fasahah, hal. 613)

Rasulullah Saw. juga bersabda:

"Barangsiapa yang memfitnah seorang Muslim selama bulan Ramadhan, tidak akan ada pahala bagi puasanya."

(Bihar Al-Anwar, jilid XVI, hal. 179)

Rasulullah Saw. juga menggambarkan tentang kedudukan seorang Muslim sebagai berikut:

"Seorang Muslim adalah orang yang menjaga Muslim yang lain dari tangan dan lidahnya."

Jelaslah bahwa jika seseorang membiarkan lidahnya memfitnah saudara Muslimnya yang lain maka ia telah melanggar aturan-aturan moralitas dan menjadi seorang kriminal di mata kemanusiaan dan lslam. Semua mazhab Islam dengan suara bulat setuju bahwa fitnah merupakan dosa besar; karena pemfitnah melanggar perintah-perintah Ilahi dan melanggar hak-hak orang lain dan tidak mengindahkan perintah-perintah Sang Pencipta.

Sebagaimana seorang yang tidak hadir tidak dapat mempertahankan martabat dan kehormatannya, orang yang telah mati pun tidak dapat mempertahankan diri, oleh karena itu, adalah tugas setiap orang untuk menghormati hukum mengenai kehormatan orang yang telah mati.

Fitnah dan gunjingan adalah semacam tekanan rohani. Imam Ali a.s. berkata:

Fitnah adalah suara orang yang lemah.

(Ghurar Al-Hikam, hal. 38)

Dr. H. Shakhter berkata:

Kekecewaan dalam memperoleh berbagai kebutuhan mengakibakan siksaan rohani. Siksaan rohani ini menghasut kita untuk melukiskan suatu bentuk pertahanan. Dalam keadaan seperti ini manusia berbeda-beda dalam jenis perbuatan yang mereka lakukan. Jika seseorang merasa bahwa orang lain tidak memberinya perhatian yang ia harapkan, karena merasa takut akan ditolak, ia memilih jalan pengasingan dan penyendirian dari hidup bermasyarakat. Ia mungkin duduk di sudut suatu perkumpulan dengan berdiam diri dan terpisah, tidak berbicara kepada siapa pun, mengkritik mereka, atau tertawa sendiri tanpa ada alasan. Atau mungkin ia berdebat dengan orang lain, memfitnah yang tidak hadir dan mengecam sampai ia membuktikan kehadirannya dengan cara seperti ini.

(Rushd e Syakhshiat)

Dr. Mann dalam bukunya yang berjudul The Fundamentals of Psychology menulis:

Untuk memelihara martabat kita, kita mungkin mencoba untuk mengganti kekalahan atau kelemahan kita dengan mengecam orang lain. Misalnya, jika kira gagal dalam ujian, maka kita mengecam guru dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikannya; atau jika kita tidak diangkat ke suatu kedudukan, kita melepaskan kedudukan kita atau memfitnah orang yang mendapat kedudukan tersebut. Atau kira mungkin mengambil tanggung jawab orang lain karena ketidakmampuan kita.

Kesimpulannya, untuk Dr. Mann dalam bukunya yang berjudul The Fundamentals of Psychology menulis:

Untuk memelihara martabat kita, kita mungkin mencoba untuk mengganti kekalahan atau kelemahan kita dengan mengecam orang lain. Misalnya, jika kira gagal dalam ujian, maka kita mengecam guru dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikannya; atau jika kita tidak diangkat ke suatu kedudukan, kita melepaskan kedudukan kita atau memfitnah orang yang mendapat kedudukan tersebut. Atau kira mungkin mengambil tanggung jawab orang lain karena ketidakmampuan kita.

Kesimpulannya, untuk mengembangkan sifat-sifat yang baik, kita harus memperhatikan diri kita dan memelihara niat-niat yang bersih kita harus memulai dari diri kita sendiri sehingga kita dapat memperoleh landasan yang tepat bagi kebahagiaan kita dan bagi kebahagiaan masyarakat kita di segala bidang.

7. Mencari-Cari Kesalahan

• Ketidaktahuan Atas Kesalahan Sendiri

• Sindiran dan Para Penghina

• Ajaran Agama Terhadap Sifat Menyindir

Ketidaktahuan Atas Kesalahan Sendiri

Salah satu perilaku manusia yang paling lemah adalah ketidaktahuan atau kejahilannya atas kesalahan-kesalahannya sendiri. Dalam banyak hal jiwa tidak tahu akan suatu sifat yang tidak dikehendaki, yang akibatnya secara tidak sadar mengambil sifat semacam ini sebagai dasar kesengsaraan. Ketika seseorang menjadi budak kejahilannya, ia membunuh ruh moralitas di dalam dirinya. Setelah itu menjadi korban berbagai kecenderungan dan beragam nafsunya yang mengasingkannya dari kebahagiaan dan kesenangan. Di bawah keadaan seperti ini, baik petunjuk maupun nasehat yang bersifat membangun tidak akan berpengaruh.

Kebutuhan pertama bagi keselamatan diri adalah menyadari kelemahan-kelemahan anda. Satu-satunya jalan agar manusia dapat menyingkirkan akhlak-akhlak buruknya dan menolong dirinya dari berbagai bahaya dalam kepribadiannya yang dapat mengarahkannya kepada penderitaan, adalah jika ia menyadari akhlak-akhlak semacam ini.

Suatu telaah yang hati-hati atas watak-watak jiwa manusia untuk mendidik umat manusia, merupakan langkah penting menuju integritas rohani dan perilaku. Renungan diri membuat seseorang menyadari berbagai kelemahan dan hal-hal positifnya, menghapus sifat-sifat yang tidak dikehendaki, dan menjernihkan cermin jiwanya dari noda dosa-dosa dengan mengadakan penyucian akhlak.

Kita melakukan suatu kesalahan yang tidak dapat diampuni ketika secara ceroboh tidak mengetahui cerminan sesungguhnya dari diri kita di dalam cermin perbuatan-perbuatan kita. Adalah tanggung jawab kita untuk menemukan watak kita sendiri untuk secara tepat menunjukkan sifat-sifat yang tidak dikehendaki yang tanpa terasa telah tumbuh di dalam diri kita. Tidak syak lagi, kita akan mampu mencabut akar-akar sifat semacam ini, bahkan menahannya agar tidak muncul dalam kehidupan kita dengan tenis menerus berjuang melawannya. Bagaimanapun juga, pencapaian sifat-sifat mulia memerlukan kesabaran melalui kerja keras yang tiada akhirnya. Masalah ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan.

Bagi kita, untuk mencabut akar-akar kebiasaan yang berbahaya dan merusak, tidak mungkin hanya sekadar menyadarinya tetapi juga harus memiliki kehendak yang kuat ke arah sana. Lebih baik lagi bila kita mengerahkan tindakan-tindakan kita juga pemikiran kita menjadi lebih lurus dan lebih produktif. Hasil-hasil dari setiap langkah dalam proses ini akan membawa kira maju ke tahap selanjutnya.

Dr. Carl menulis:

Cara yang paling efektif untuk mengubah program harian kita menjadi program yang dapat diterima adalah dengan memeriksanya secara cermat setiap pagi dan meninjau kembali hasil-hasilnya setiap malam. Kemudian dengan cara yang sama pula kita menyelesaikan tugas tertentu pada kesempatan khusus; kita harus memasukkan ke dalam jadwal kita mengenai langkah-langkah tertentu sehingga orang lain dapat memanfaatkannya dari berbagai aktivitas kita. Dalam tingkah laku kita harus fair dan adil.

Rendahnya perilaku adalah sebagaimana kejijikan terhadap tubuh yang kotor. Maka, pentingnya membersihkan tubuh kita dari kotoran seperti mensucikan akhlak kita dari noda. Beberapa orang melakukan gerak badan sebelum dan atau sesudah tidur; demikian juga pentingnya merenungkan akhlak dan pemikiran kita sepenting gerak badan ini. Dengan mempelajari cara ini kita harus bertindak dan berupaya untuk memperhatikan batas-batas kira yang ditandai, kita dapat melihat kenyataan kira sendiri tanpa adanya penghalang. Keberhasilan kita dalam membuat keputusan secara langsung berhubungan dengan batin kita sendiri. Adalah wajib atas setiap orang, baik-tua atau muda, kaya atau miskin, terpelajar atau jahil, untuk mengetahui apa yang telah dilakukan dalam pengeluaran dan pendapatan harian, sebagaimana para saintis menulis tentang hasil-hasil eksperimen mereka. Dengan menggunakan cara seperti ini secara cermat dan sabar, jasmani dan rohani kita akan berubah ke arah yang lebih baik.

Sindiran dan Para Penghina

Adalah fitrah manusia dalam mencari kesalahan, kekeliruan dan rahasia orang lain serta mengkritik dan mengecam mereka atas dasar kelemahan-kelemahan ini. Namun dalam banyak hal, berbagai kesalahan dan kelemahan orang-orang ini sangat melampaui sifat-sifat mulia mereka. Mereka tidak tahu akan hal ini dan mendudukkan diri mereka di atas berbagai kemalangan orang lain.

Menghina orang lain merupakan suatu sifat jahat yang mengotori kehidupan manusia dan menurunkan watak perilakunya.

Unsur-unsur yang mendorong manusia untuk menjatuhkan orang lain menjadi lebih berbahaya ketika disertai dengan kesombongan, keangkuhan, dan egois. Kerumitan-kerumitan perilaku ini menghasut manusia untuk membuat keputusan-keputusan yang keliru dan berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang benar.

Orang-orang yang suka mengkritik orang lain telah menyia-nyiakan usahanya dengan cara-cara yang tidak dapat diterima oleh akal maupun hukum. Mereka terlalu bernafsu melihat berbagai kesalahan temannya untuk menghina dan merendahkan mereka, mereka tidak tahu bahwa dengan berbuat demikian mereka sebenarnya membuang kesempatan untuk melihat kesalahannya sendiri, atau membimbing dirinya kepada hidayah dan kebenaran. Orang-orang yang tidak teguh hatinya tidak melihat adanya syariat atau tidak menghormati martabat orang lain; mereka tidak dapat hidup secara harmonis dengan orang-orang yang paling dekat dengan mereka. Ketika orang-orang ini tidak dapat menemukan sasaran untuk menghina; mereka pun kembali kepada para sahabat dan teman mereka; dengan alasan tadi orang-orang ini tidak mampu mendapatkan sahabat-sahabat yang sesungguhnya, yang cinta dan rasa hormatnya dapat mereka rasakan.

Di sepanjang hidupnya manusia memperoleh kemuliaan; oleh karena itu, orang-orang yang suka menghina orang lain tidak bisa menyadari jumlah kerusakan yang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri, mereka tidak dapat menghentikan diri mereka dari reaksi sosial terhadap perbuatan-perbuatan salah mereka. Perbuatan-perbuatan salah yang mereka lakukan tidak lain akan menimbulkan kebencian, permusuhan dan kejijikan. Mereka merasa bersalah, tetapi sebagaimana dikatakan, "Tidaklah mungkin mengembalikan burung ke sarangnya bila ia telah terbang jauh".

Orang-orang yang ingin hidup bermasyarakat dengan orang lain harus menentukan berbagai tugas dan tanggung jawabnya sendiri, salah satu darinya adalah dengan selalu mencari sifat-sifat luhur dan perbuatan-perbuatan baik orang lain agar dapat memuliakan mereka. Ia juga harus menjauhkan dirinya dari sifat-sifat yang menghina martabat orang lain dan yang bertentangan dengan dasar-dasar cinta, karena cinta hanya tumbuh dan hidup di dalam rasa saling menghormati dan saling menaati di antara kedua kelompok. Orang yang memiliki kebiasaan menyembunyikan berbagai kelemahan orang-orang dan teman-teman yang dicintai akan merasakan hubungan yang lebih stabil.

Sertakanlah puji-pujian jika seseorang hendak menarik perhatian orang-orang yang ia cintai kepada titik-titik lemahnya sehingga orang tersebut mempunyai kesempatan untuk berubah. Tentu saja perlu bagi individu yang bermaksud menunjuki perhatian temannya kepada sifatnya yang tidak menyenangkan dengan menggunakan keahlian khusus agar tidak menghina atau "menyakiti perasaannya".

Menurut seorang pendidik:

Adalah mungkin menarik perhatian pendengar anda kepada kesalahan-kesalahannya dengan suatu pandangan sekilas atau gerak isyarat, biasanya tidak perlu untuk berbicara secara langsung. Jika anda berkata kepada seseorang, 'Anda membuat kesalahan', maka ia tidak akan pernah setuju dengan anda karena anda telah menghina akalnya, kemampuannya untuk berpikir dan kepercayaannya. Menentangnya secara terang-terangan akan membuatnya melawan tindakan anda tanpa membetulkan berbagai pandangannya, meskipun anda buktikan kepadanya secara meyakinkan bahwa anda benar. Bila anda sedang berbincang-bincang dan tidak mengawalinya dengan, 'Saya akan membuktikannya kepadamu,' atau 'Saya akan membenarkan itu', ini berarti anda lebih cerdas atau lebih pandai dari orang yang anda ajak bicara. Tindakan mengoreksi pemikiran seseorang merupakan tugas yang sulit, maka kenapa menambah lagi kesulitan dengan mengikuti prosedur yang salah dan menciptakan rintangan yang tidak dapat diubah. Bila anda mengusulkan untuk membuktikan sesuatu, adalah penting bahwa orang-orang tersebut tidak menyadari niat anda. Anda harus memulai tujuan anda dengan langkah-langkah yang tepat tanpa memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk mengetahui maksud anda. Ingatlah kata-kata berikut ketika anda berupaya dalam bidang ini: 'Ajarlah orang tanpa harus menjadi guru.'

Ajaran Agama Terhadap Sifat Menyindir

Al-Quran memperingatkan penyindir terhadap nasib mereka yang suram, dan memperingatkan mereka tentang berbagai akibat perbuatan jahat mereka. Tertulis dalam Al-Quran:

"Sengsaralah setiap pemfitnah, pencemar nama baik".

lslam mewajibkan kepada kaum Muslimin untuk memperhatikan aturan-aturan akhlak dan tingkah laku yang baik guna memelihara persatuan lslam juga melarang memfitnah dan menyindir untuk menghindari permusuhan dan lemahnya hubungan persaudaraan. Oleh karena itu, adalah tugas setiap Muslim untuk memperhatikan hak-hak orang lain dan menjauhkan diri dari sifat menghina dan merendahkan mereka.

Imam Ja'far Ash-Shadiq a.s. berkata:

Seorang beriman menjadi lebih tenteram hatinya di dekat seorang beriman yang lain lebih daripada orang kehausan ketika menemukan air yang sejuk.

(Al-Kafi, jilid II, hal. 247)

Imam Al-Baqir a.s. berkata:

Cukuplah suatu kesalahan seseorang ketika mencari kesalahan-kesalahan orang dan tidak tahu bahwa ia mengalaminya, mengkritik orang lain karena sesuatu hal yang ia sendiri mengerjakannya, atau menyakiti sahabat karibnya yang oleh sebab itu tidak prihatin padanya.

(AI-Kaji, jilid II, hal. 459)

Datuk mereka, Imam Ali a.s. berkata:

Hindarilah persahabatan dengan orang-orang yang mencari kelemahan-kelemahan orang lain, karena persahabatan dengan mereka akan menjadikan tidak aman dari makar-makar mereka.

(Ghurar Al-Hikam, hal. 148)

Kendati sebagian dari fitrah manusia adalah menolak kritikan, namun kita harus penuh perhatian terhadap kritik yang bersifat membangun. Di bawah bayang-bayang nasehat yang membangun kita mampu mempersiapkan berbagai unsur guna meningkatkan diri kita, Insya Allah.

Amirul Mukminin Ali a.s. mengingatkan kita akan kenyataan tersebut di atas ketika beliau berkata:

Biarlah orang yang paling dekat denganmu menjadi orang-orang yang membimbingmu untuk (menemukan) kelemahan-kelemahanmu, dan membantumu melawan berbagai inspirasi mu yang keliru.

(Ghurar AI-Hikam, hal. 558)

Berikut ini adalah dari buku karya Dr. Dale Carnegie, How to Win Friends and Influence People:

Kita harus mendengarkan kritik dan menerimanya, karena jangan sampai kita mengharapkan dua per tiga hari tindakan dan pemikiran kira benar. Albert Einstein mengakui bahwa sembilan puluh sembilan persen dari gagasan dan kesimpulannya salah. Ketika seseorang hendak mengkritik saya, saya lihat diri saya menjadi defensif bahkan tanpa mengetahui apa yang ingin ia katakan; namun ketika hal ini terjadi, setelah itu saya membenci diri saya sendiri. Kita semua lebih menyukai pujian dan sanjungan dan menolak celaan dan kritikan tanpa memperhatikan tingkat ketepatan dan keakuratan berbagai ulasannya. Sesungguhnya kita bukanlah anak bukti dan logika, tetapi anak perasaan. Berbagai pikiran kita menjadi seperti perahu layar yang dilambungkan oleh gelombang perasaan di tengah laut yang gelap. Saat ini banyak di antara kita yang percaya diri, tetapi dalam usia empat puluh tahun kita akan melihat ke belakang mengenai diri kira dan kita pun tertawa terhadap berbagai tindakan dan pemikiran kita.

Imam Ali a.s. berkata:

Barangsiapa yang mencari kesalahan orang lain harus memulai dari dirinya.

(Ghumr Al-Hikam, hal, 659)

Dr. H. Shakhter berkata:

Sebagai ganti dari mengeluh terhadap berbagai ucapan atau tindakan orang lain, lebih baik merenungkan berbagai problem dan penderitaan anda sendiri, dan bila mungkin memperbaikinya. Adalah wajib atas tiap orang di antara kita untuk merenungkan berbagai problem kita, menemukan kesalahan-kesalahan dan kelemahan kita, dan memecahkannya jika mampu.

(Roshd e Shakhsiat)

Orang yang bodoh mencoba menyembunyikan kelemahan-kelemahannya dan tidak berusaha untuk menghilangkannya.

Menurut Imam Ali a.s.:

Adalah suatu kebodohan dalam diri seseorang yang membuatnya memperhatikan kesalahan-kesalahan orang lain dan tidak melihat apa yang tersembunyi tentang kesalahannya sendiri.

(Ghurar Al-Hikam, hal. 559)

Dr. Auibuty berkata:

Karena kebodohan kita, kita sering tidak mengetahui kelemahan-kelemahan kita dan menyembunyikannya di balik kerudung kejahilan dan ketidaksadaran yang membujuk diri kita dengan cara ini. Adalah mengherankan, bagaimana manusia mencoba menyembunyikan kelemahan-kelemahan mereka dari mata orang lain tanpa pernah mencoba untuk menghapusnya. Namun ketika salah satu dari kesalahan mereka terungkap dan mereka tidak dapat menyembunyikannya, mereka pun menciptakan ribuan alasan untuk memuaskan diri mereka dan orang lain. Orang-orang ini mencoba untuk menutupi harga diri tentang berbagai kesalahan mereka di mata orang lain, mereka lupa bahwa hari demi hari gengsi terhadap kesalahan semacam ini akan menjadi lebih nyata. Tepatnya seperti benih yang tumbuh menjadi pohon yang perkasa.

(Dar Jostojuye Khushbakhti)

Mempelajari kepribadian adalah satu-satunya cara yang diterima oleh para psikolog untuk mendiagnosis dan mengobati berbagai macam penyakit. Imam Ali a.s. menasehati manusia dengan cara yang sama. Beliau berkata:

Adalah wajib bagi orang yang berakal untuk menunjukkan secara tepat tentang berbagai kelemahannya dalam agama, pendapat, perilaku dan akhlak, serta mengumpulkannya di dalam hati mereka atau dalam .sebuah buku dan berupaya untuk menghapusnya.

(Ghurar Al-Hikam, hal. 448)

Juga menurut seorang psikolog:

Duduklah dengan santai di dalam sebuah ruangan yang tenang dengan pikiran yang bersih dan pintalah keluargamu agar tidak mengizinkan orang lain mengganggumu. Tempat yang lebih menyenangkan dan lebih mengistirahatkanmu adalah tempat yang lebih baik; karena apa yang ingin kita lakukan memerlukan hukum dasar yang tidak mengizinkan pemikiran anda terganggu dengan hanya berkonsentrasi pada sasaran utama. Juga, jangan sampai tubuh anda dibelokkan oleh kebutuhan-kebutuhan jasmaniah anda.

Ambillah beberapa kertas buram yang murah dan sebuah pena yang dapat menulis dengan mudah. Saya menyebut kertas buram yang murah agar mengizinkan anda untuk menggunakan jumlah yang besar tanpa mengkhawatirkan biayanya. Saya juga menyebut pena yang mudah karena anda akan dikelilingi oleh ribuan faktor rohani dan psikologis ketika anda mempelajari diri anda, anda akan membutuhkan sebuah pena yang tidak akan mengganggu anda.

Buatlah sebuah daftar tentang berbagai jenis perasaan dan reaksi yang anda alami di dalam diri anda pada hari ini dan hari sebelumnya. Sekarang tinjaulah kembali masing-masing darinya, berpikirlah secara mendalam tentangnya, selanjutnya tulislah segala hal yang datang ke dalam pikiran anda mengenai berbagai perasaan ini tanpa adanya syarat-syarat atau batasan-batasan. Janganlah khawatir jika hal ini banyak memakan waktu.

Bila anda telah menuliskan semua tindakan, pemikiran, perasaan dan reaksi, bawalah pikiran anda ke naluri cinta diri, keterasingan, kesombongan... dan seterusnya. Sekarang cocokkanlah setiap tindakan atau pemikiran dengan naluri yang mendorongnya dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana kepada diri anda: naluri manakah yang mendorong tindakan atau ucapan ini?

Tujuan psikologis dari analisis diri ini adalah untuk mengizinkan penderita merubah banyaknya kepribadian rohaninya sebanyak semangat hidupnya, dan berbagai kekuatan rohani yang bersifat membangun dapat menghapus berbagai reaksi psikologis dan berbagai keadaan bingung. Dengan cara ini ia akan secara sadar merasa bahwa ia adalah seorang pribadi yang baru. Oleh karenanya, ia akan menyadari tujuan-tujuan dan makna-makna baru dalam kehidupan dan mampu mengambil jalan baru dalam kehidupan bagi dirinya yang lain daripada kehidupan sebelumnya.

(Ravankavi)


5

6

7

8