Artikel
-
Al Qur'an Al Karim
Artikel: 579, Kategori: 4 -
Akidah
Artikel: 44, Kategori: 5 -
Rasulullah & Ahlulbait
Artikel: 402, Kategori: 15 -
Hadits & Ilmu Hadits
Artikel: 7, Kategori: 4 -
Fiqih & Ushul Fiqih
Artikel: 19, Kategori: 2 -
Sejarah & Biografi
Artikel: 101, Kategori: 3 -
Bahasa & Sastra
Artikel: 12, Kategori: 2 -
Keluarga & Masyarakat
Artikel: 1978, Kategori: 3 -
Akhlak & Doa
Artikel: 258, Kategori: 3 -
Filsafat & Irfan
Artikel: 319
Mengingat Mati, Mencintai Hidup
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sal Sabillah Nikmatus Solikah
Semakin seseorang sadar bahwa hidup di dunia terbatas, semakin ia menghargai setiap detik kehidupannya. Hubungan dengan keluarga menjadi lebih hangat. Kesempatan berbuat baik menjadi lebih berharga. Kesombongan kehilangan tempatnya.
Di Mana Letak Perbedaannya dengan Komaruddin Hidayat mengenai kematian?
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sal Sabillah Nikmatus Solikah
Penulis menemukan bahwa kedua tokoh sama-sama mengajak manusia tidak takut kepada kematian. Namun jalur yang ditempuh berbeda. Komaruddin Hidayat lebih banyak menggunakan pendekatan psikologis. Ia mengajak manusia berdamai dengan kematian melalui optimisme, refleksi, dan pencarian makna hidup.
Mengapa Kita Takut Mati?
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sal Sabillah Nikmatus Solikah
Menurut Kang Jalal, rasa takut sering kali lahir bukan karena kematian itu sendiri, tetapi karena manusia tidak mengenalnya. Ketidaktahuan melahirkan kecemasan. Sebaliknya, pengetahuan yang benar melahirkan ketenangan.
Tasawuf Membuat Kematian Terlihat Berbeda
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sal Sabillah Nikmatus Solikah
Tasawuf (ilmu yang membahas penyucian hati dan perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Allah) memandang kematian bukan sekadar peristiwa biologis. Yang mati hanyalah jasad, sedangkan ruh tetap melanjutkan perjalanan.
Kang Jalal Mengubah Cara Kita Melihat Kematian
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sal Sabillah Nikmatus Solikah
Banyak orang memandang kematian sebagai akhir perjalanan. Kang Jalal justru mengajak melihatnya sebagai awal perjalanan berikutnya. Dalam pandangannya, manusia bukan sekadar tubuh yang suatu hari berhenti bekerja. Yang sejati adalah ruh. Tubuh hanyalah kendaraan selama berada di dunia. Ketika kendaraan itu selesai menjalankan tugasnya, perjalanan tidak berhenti. Yang berubah hanyalah alam yang ditempati.
Semua Orang Takut Mati. Tetapi Mengapa?
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sal Sabillah Nikmatus Solikah
Dalam skripsi ini, Sal Sabillah Nikmatus Solikah membangun analisisnya dengan merujuk pada karya-karya KH. Jalaluddin Rakhmat yang membahas kematian, tasawuf, dan kehidupan spiritual, terutama buku Memaknai Kematian, kemudian membandingkannya dengan karya-karya Prof. Komaruddin Hidayat mengenai tema yang sama. Pendekatan komparatif tersebut memperlihatkan kekhasan Kang Jalal dalam memandang kematian sebagai perjalanan ruh menuju Allah, bukan sekadar akhir kehidupan biologis.
Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 4
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Muhammad Bhagas
Riwayat-riwayat tersebut berbicara soal dampak dari sekadar beranggapan dan merasa-rasa tentang diri sendiri. Anggapan kita tentang diri kita sendiri pun ternyata memiliki dampak spiritual. Apa yang menjelma dan mengakar di dalam hati dan pikiran merupakan cerminan dari tingkat perjalanan batin dan penghambaan kita. Apa yang terus-menerus dipikirkan, diyakini, dan dirasakan perlahan menjadi sifat yang menetap.
Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 3
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Muhammad Bhagas
Juga ada riwayat dari Imam Ja’far al-Shadiq as bahwa ketika seseorang merasa amal kebaikannya sudah banyak maka setan tidak perlu lagi menggodanya karena dengan merasa seperti itu amalnya tidak akan diterima (Al-Khishal, jilid 1, halaman 112, no. 86). Merasa puas dengan amal, menghitung-hitung amal sehingga menganggap kebaikannya sudah banyak, dan menjadikan amal sebagai sandaran, semua ini akan menjadikan seseorang merasa aman-aman saja dalam perjalanan. Rasa aman inilah yang menghambat bahkan mematikan perjalanan karena perjalanan sejati justru hidup dari rasa butuh yang terus menerus. Bagaimana mungkin ia merasa butuh, sedang ia tidak merasa kurang?
Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Muhammad Bhagas
Ada beberapa riwayat Ahlul Bait as berhubungan dangan pembahasan ini. Di antaranya, diriwayatkan dari Imam ‘Ali bin Abi Thalib as: man kana ‘inda nafsihi ‘azhiman, kana ‘indallah haqiran. Barangsiapa yang menganggap dirinya besar dan hebat, maka hakikatnya dia sangat hina dan rendah di sisi Allah (Ghurar al-Hikam, no. 8609).
Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Muhammad Bhagas
Hari ini aku merasa terjerat, terikat erat dalam jangkar keberadaanKubutuhkan harum ketiadaan tuk membebaskanku Sesaat saja, pinjami aku sentuhan fadhilat Gosoklah karat keberadaan dari cermin Hakikat sejatiku ~ Syihabuddin Yahya Suhrawardi