Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Artikel

Keluarga & Masyarakat
Mengingat Mati, Mencintai Hidup

Mengingat Mati, Mencintai Hidup

Semakin seseorang sadar bahwa hidup di dunia terbatas, semakin ia menghargai setiap detik kehidupannya. Hubungan dengan keluarga menjadi lebih hangat. Kesempatan berbuat baik menjadi lebih berharga. Kesombongan kehilangan tempatnya.  

Keluarga & Masyarakat
Di Mana Letak Perbedaannya dengan Komaruddin Hidayat mengenai kematian?

Di Mana Letak Perbedaannya dengan Komaruddin Hidayat mengenai kematian?

Penulis menemukan bahwa kedua tokoh sama-sama mengajak manusia tidak takut kepada kematian. Namun jalur yang ditempuh berbeda. Komaruddin Hidayat lebih banyak menggunakan pendekatan psikologis. Ia mengajak manusia berdamai dengan kematian melalui optimisme, refleksi, dan pencarian makna hidup.

Keluarga & Masyarakat
Mengapa Kita Takut Mati?

Mengapa Kita Takut Mati?

Menurut Kang Jalal, rasa takut sering kali lahir bukan karena kematian itu sendiri, tetapi karena manusia tidak mengenalnya. Ketidaktahuan melahirkan kecemasan. Sebaliknya, pengetahuan yang benar melahirkan ketenangan.  

Keluarga & Masyarakat
Tasawuf Membuat Kematian Terlihat Berbeda

Tasawuf Membuat Kematian Terlihat Berbeda

Tasawuf (ilmu yang membahas penyucian hati dan perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Allah) memandang kematian bukan sekadar peristiwa biologis. Yang mati hanyalah jasad, sedangkan ruh tetap melanjutkan perjalanan.  

Keluarga & Masyarakat
Kang Jalal Mengubah Cara Kita Melihat Kematian

Kang Jalal Mengubah Cara Kita Melihat Kematian

Banyak orang memandang kematian sebagai akhir perjalanan. Kang Jalal justru mengajak melihatnya sebagai awal perjalanan berikutnya. Dalam pandangannya, manusia bukan sekadar tubuh yang suatu hari berhenti bekerja. Yang sejati adalah ruh. Tubuh hanyalah kendaraan selama berada di dunia. Ketika kendaraan itu selesai menjalankan tugasnya, perjalanan tidak berhenti. Yang berubah hanyalah alam yang ditempati.

Keluarga & Masyarakat
Semua Orang Takut Mati. Tetapi Mengapa?

Semua Orang Takut Mati. Tetapi Mengapa?

Dalam skripsi ini, Sal Sabillah Nikmatus Solikah membangun analisisnya dengan merujuk pada karya-karya KH. Jalaluddin Rakhmat yang membahas kematian, tasawuf, dan kehidupan spiritual, terutama buku Memaknai Kematian, kemudian membandingkannya dengan karya-karya Prof. Komaruddin Hidayat mengenai tema yang sama. Pendekatan komparatif tersebut memperlihatkan kekhasan Kang Jalal dalam memandang kematian sebagai perjalanan ruh menuju Allah, bukan sekadar akhir kehidupan biologis.  

Keluarga & Masyarakat
Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 4

Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 4

Riwayat-riwayat tersebut berbicara soal dampak dari sekadar beranggapan dan merasa-rasa tentang diri sendiri. Anggapan kita tentang diri kita sendiri pun ternyata memiliki dampak spiritual. Apa yang menjelma dan mengakar di dalam hati dan pikiran merupakan cerminan dari tingkat perjalanan batin dan penghambaan kita. Apa yang terus-menerus dipikirkan, diyakini, dan dirasakan perlahan menjadi sifat yang menetap. 

Keluarga & Masyarakat
Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 3

Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 3

Juga ada riwayat dari Imam Ja’far al-Shadiq as bahwa ketika seseorang merasa amal kebaikannya sudah banyak maka setan tidak perlu lagi menggodanya karena dengan merasa seperti itu amalnya tidak akan diterima (Al-Khishal, jilid 1, halaman 112, no. 86). Merasa puas dengan amal, menghitung-hitung amal sehingga menganggap kebaikannya sudah banyak, dan menjadikan amal sebagai sandaran, semua ini akan menjadikan seseorang merasa aman-aman saja dalam perjalanan. Rasa aman inilah yang menghambat bahkan mematikan perjalanan karena perjalanan sejati justru hidup dari rasa butuh yang terus menerus. Bagaimana mungkin ia merasa butuh, sedang ia tidak merasa kurang?  

Keluarga & Masyarakat
Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 2

Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 2

Ada beberapa riwayat Ahlul Bait as berhubungan dangan pembahasan ini. Di antaranya, diriwayatkan dari Imam ‘Ali bin Abi Thalib as: man kana ‘inda nafsihi ‘azhiman, kana ‘indallah haqiran. Barangsiapa yang menganggap dirinya besar dan hebat, maka hakikatnya dia sangat hina dan rendah di sisi Allah (Ghurar al-Hikam, no. 8609). 

Keluarga & Masyarakat
Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 1

Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 1

Hari ini aku merasa terjerat, terikat erat dalam jangkar keberadaanKubutuhkan harum ketiadaan tuk membebaskanku Sesaat saja, pinjami aku sentuhan fadhilat Gosoklah karat keberadaan dari cermin Hakikat sejatiku ~ Syihabuddin Yahya Suhrawardi