Filsafat & Irfan
Kesimpulan: kapasitas mendahului konvensi
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Muhsin Labib
Pengalaman historis Muhammad al-Jawād—baik dalam literatur Syiah maupun Sunni—dan paralel modern dalam dunia akademik menunjukkan satu prinsip yang mendasar: kapasitas intelektual dan moral tidak terikat oleh kalender biologis.
Relevansi kontemporer: melawan ageisme epistemik
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Muhsin Labib
Studi kasus Muhammad al-Jawād memiliki relevansi langsung terhadap isu kontemporer tentang ageisme epistemik—yaitu kecenderungan untuk mendiskreditkan atau meremehkan pengetahuan seseorang semata-mata berdasarkan usia mereka, baik terlalu muda maupun terlalu tua.
Menuju Peradaban Ilmu yang Berakar: Catatan Reflektif dari Konferensi Filsafat dan Islamisasi Pengetahuan(2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Prof.Dr. Hossein Mottaghi
Untuk menghindari stagnasi dan fragmentasi konsep, Prof. Mottaghi mengusulkan tujuh langkah strategis bagi integrasi ilmu dan Islam. Langkah pertama adalah menyepakati definisi. Selama kita berbeda dalam memahami apa itu ilmu, Islamisasi, dan integrasi keilmuan, maka seluruh wacana hanya akan berakhir pada perdebatan terminologi. Langkah kedua adalah menyepakati kosakata keilmuan. Istilah yang kabur hanya melahirkan pemikiran yang kabur.
Menuju Peradaban Ilmu yang Berakar: Catatan Reflektif dari Konferensi Filsafat dan Islamisasi Pengetahuan(1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Prof.Dr. Hossein Mottaghi
Dalam wacana keilmuan Islam kontemporer, kita sering mendengar istilah seperti filsafat ilmu, epistemologi Islam, dan Islamisasi pengetahuan. Namun sebagaimana disampaikan Prof. Hossein Mottaghi dalam Konferensi Filsafat & Islamisasi Ilmu Pengetahuan, sesungguhnya apa yang kita diskusikan hari ini bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Peradaban manusia telah lama berbicara tentang asal-usul ilmu, tujuan ilmu, validitas pengetahuan, serta hubungan antara wahyu dan akal.
Induksi dalam Perspektif Gradasi Wujud (6)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Berikutnya adalah konsep al-‘aql al-kulli atau Akal Universal dalam filsafat Sadra. Ini merupakan prinsip intelektif kosmik yang menjadi sumber dan horizon kesatuan pengetahuan. Akal Universal ini adalah realitas intermedial antara Yang Mutlak dan dunia partikular, dan merupakan wadah bagi forma-forma universal dan prinsip-prinsip eksistensial yang mendasari keteraturan kosmos.
Induksi dalam Perspektif Gradasi Wujud (5)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Prinsip keempat dalam filsafat Sadra adalah ashalat al-wujud (أصالة الوجود) atau “primordialitas wujud” . Prinsip ini menyatakan bahwa wujud atau eksistensi adalah realitas primer dan sejati, sedangkan mahiyah atau esensi bersifat sekunder dan hanya konsep mental belaka. Dalam pandangan ini, yang benar-benar ada dan real di dunia luar adalah wujud itu sendiri, bukan esensi-esensi seperti “manusia”, “pohon”, atau “batu”.
Induksi dalam Perspektif Gradasi Wujud (4)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Prinsip ketiga yang revolusioner dalam filsafat Sadra adalah al-harakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Berbeda dengan filsuf sebelumnya yang hanya mengakui gerak aksidental (perubahan sifat-sifat), Sadra berpendapat bahwa substansi atau esensi segala sesuatu juga bergerak dan bertransformasi menuju kesempurnaan. Ini berlaku pula bagi pengetahuan, yang tidak bersifat statis melainkan dinamis dan evolutif.
Induksi dalam Perspektif Gradasi Wujud (3)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Tulisan ini adalah suatu upaya , yang bermula dari sebuah gagasan, barangkali dalam konsep gradasional eksistensi , nilai kebenaran bagi induksi tidak mutlak nol (salah total), atau satu (benar total). Barangkali, letak yang lebih baik, benar dan indah dari jawaban masalah ini adalah menerima sifat alamiah induksi sebagai bagian dari gradasional kebenaran yang tidak lain adalah manifestasi atau implikasi dari sifat gradasional eksistensi.
Induksi dalam Perspektif Gradasi Wujud (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Bertrand Russell (1872-1970) dalam The Problems of Philosophy dan sejumlah esainya tentang induksi mengkritik apa yang disebutnya sebagai “induksi melalui enumerasi sederhana” atau hasty generalisation. Russell menunjukkan bahwa penalaran berbentuk “karena A1, A2, hingga An memiliki sifat P, maka semua A memiliki sifat P” merupakan falasi logis yang dikenal sebagai hasty generalization atau generalisasi tergesa-gesa.
Induksi dalam Perspektif Gradasi Wujud (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Induksi merupakan salah satu metode penalaran fundamental yang mendasari cara manusia memahami dunia. Secara sederhana, induksi adalah proses penarikan kesimpulan umum berdasarkan pengamatan terhadap kejadian-kejadian khusus yang berulang. Metode ini beroperasi dalam hampir setiap aspek kehidupan manusia, mulai dari pengalaman sehari-hari hingga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Aksiologi Filsafat Sains Seyyed Hossein Nasr: Memulihkan Kesucian Pengetahuan (3)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Beberapa peneliti menilai bahwa Nasr terlalu nostalgik terhadap masa pra-modern dan kurang memberikan kerangka praktis untuk reformasi sains (Smith, 2008; Aminrazavi, 2013). Namun, relevansinya semakin kuat di era krisis ekologis, AI, dan bioteknologi—krisis yang menegaskan betapa pertanyaan tentang nilai pengetahuan tak bisa dihindari lagi.
Aksiologi Filsafat Sains Seyyed Hossein Nasr: Memulihkan Kesucian Pengetahuan (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Konsep sentral dalam aksiologi Nasr adalah rehabilitasi intelek (intellectus, ‘aql) sebagai fakultas tertinggi manusia. Nasr membedakan antara intelek dan rasio (ratio): rasio bersifat diskursif, sementara intelek bersifat intuitif dan langsung menangkap realitas (Nasr, 1981, pp. 52–54).
Aksiologi Filsafat Sains Seyyed Hossein Nasr: Memulihkan Kesucian Pengetahuan (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng.
Bayangkan seorang anak di jantung Tehran tahun 1933, lahir di tengah aroma masjid kuno dan hembusan angin pegunungan Alborz, yang kelak menjadi jembatan antara dunia Timur dan Barat, antara sains modern dan misteri ilahi. Seyyed Hossein Nasr, putra seorang dokter kerajaan yang juga filsuf, lahir pada 7 April 1933 dari garis keturunan Seyyed—keturunan Nabi Muhammad SAW. Ayahnya, Seyyed Valiollah Nasr, bukan hanya tabib bagi keluarga kerajaan Pahlavi, tapi juga pelopor pendidikan modern Iran, yang sering menggelar majelis diskusi tentang filsafat Islam, puisi Rumi, dan etika ilmu pengetahuan.
Tingkat Tertinggi Makrifat Hakiki (3)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- ikmalonline
Setelah menerima petunjuk umum agama bagi semua manusia dan menjalin hubungan dengan Allah melalui keyakinan sahih dan amal saleh, diperlukan petunjuk-petunjuk khusus dari Allah dan para wali-Nya agar manusia bisa sampai ke hakikat tauhidi dan penyaksiannya melalui hati. Sebab, jika seorang mukmin belum memiliki potensi dan kapasitas khusus, maka hakikat-hakikat tauhidi tak akan muncul pada dirinya.
Tingkat Tertinggi Makrifat Hakiki (2)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- ikmalonline
Allah berbicara kepada semua manusia dan menerangkan akibat perbuatan-perbuatan mereka, Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.
Tingkat Tertinggi Makrifat Hakiki (1)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- ikmalonline
Ketiga, hakikat-hakikat ini adalah makrifat tauhidi. Untuk mencapainya, butuh iman yang sahih dengan mengikuti agama Ilahi, setelah meyakini hal-hal berikut ini:
Ketika Surga Menebar Aromanya Melewati Sains (9)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
Ayat ini menggambarkan momen kritis kematian dengan presisi yang menakjubkan. Saat nyawa berada di hulqum (kerongkongan/ujung tenggorokan), orang-orang di sekelilingnya hanya bisa “melihat” secara fisik, tetapi tidak dapat menangkap realitas sebenarnya yang terjadi. Allah menyatakan “Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu”. Ini sangat selaras dengan pengalaman Out-of-Body Experience (OBE) Dr. Alexander. Ia “melihat” tubuhnya dari atas, sementara para dokter hanya melihat tubuh fisiknya yang sekarat.
Ketika Surga Menebar Aromanya Melewati Sains (8)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
Bagaimana Pandangan Al-Qur’an?
Pengalaman transendental Dr. Eben Alexander dan argumen filsafat sepanjang zaman menemukan puncak penjelasannya dalam wahyu Ilahi. Al-Qur’an tidak hanya menyatakan keberadaan kehidupan setelah mati (alam akhirat) sebagai sebuah keyakinan, tetapi juga menyajikan logika, bukti, dan gambaran yang sangat kuat yang beresonansi dengan akal dan fitrah manusia.
Ketika Surga Menebar Aromanya Melewati Sains (7)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
Ini adalah argumen yang universal: dunia ini penuh dengan ketidakadilan yang jelas, di mana orang jahat sering makmur dan orang baik menderita. Akal manusia membangunkan bahwa harus ada pengadilan akhir di mana keseimbangan moral dipulihkan. Tanpa kehidupan setelah kematian, alam semesta secara moral tidak masuk akal.
Pikiran kita yang terbatas tidak dapat menerima finalitas kematian sebagai akhir dari sebuah narasi moral yang belum selesai. Pengalaman “tinjauan kehidupan” yang umum dalam NDE, di mana seseorang menilai perbuatannya sendiri, merefleksikan prinsip keadilan ilahi ini.
Ketika Surga Menebar Aromanya Melewati Sains (6)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
Menggabungkan Aristoteles dengan teologi Kristen, Aquinas berargumen bahwa jiwa manusia adalah forma substantialis (bentuk substansial) dari tubuh. Namun, karena jiwa manusia memiliki kapasitas untuk memahami realitas universal yang non-materi (seperti Tuhan dan kebenaran abstrak), ia harus bersifat immaterial dan subsisten.

