Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Tafsir

Runtuh dari Dalam: Surah Ghafir dan Mereka yang Mengira Tak Tersentuh

Runtuh dari Dalam: Surah Ghafir dan Mereka yang Mengira Tak Tersentuh

Surah Ghafir juga memperlihatkan bahwa banyak manusia sebenarnya mengetahui mana yang benar. Masalahnya bukan selalu kurang pengetahuan, melainkan kesombongan. Fir‘aun tidak hancur karena tidak mengetahui kebenaran. Fir‘aun hancur karena merasa dirinya terlalu besar untuk tunduk kepada kebenaran. Pada titik itu, kekuasaan berubah menjadi penjara bagi pemiliknya sendiri.

Baca Yang lain

Ketika Kekuasaan Mulai Mabuk: Surah Ghafir dan Mereka yang Mengira Tak Tersentuh

Ketika Kekuasaan Mulai Mabuk: Surah Ghafir dan Mereka yang Mengira Tak Tersentuh Ada titik ketika kekuasaan tidak lagi dipakai untuk menjaga keadilan, melainkan untuk mempertahankan dirinya sendiri. Pada tahap itu, kritik dianggap ancaman, kebenaran dianggap gangguan, dan orang-orang yang berbeda pandangan mulai diperlakukan sebagai musuh. Sejarah sering bergerak dengan cara seperti itu. Banyak penguasa zalim jatuh bukan ketika mereka lemah, tetapi justru ketika merasa tidak mungkin dikalahkan. Mereka terlalu percaya pada propaganda yang mereka ciptakan sendiri.  

Baca Yang lain

Hari Ketika Semua Dibuka: Surah Ghafir dan Mereka yang Mengira Tak Tersentuh

Hari Ketika Semua Dibuka: Surah Ghafir dan Mereka yang Mengira Tak Tersentuh Rangkaian ayat ini dimulai dengan gambaran tentang Hari Kiamat, hari ketika manusia berdiri tanpa perlindungan apa pun selain amalnya sendiri. Tidak ada jabatan, pengaruh, atau jaringan kekuasaan yang dapat dipakai untuk menghindar. Pada hari itu manusia sadar bahwa banyak hal yang dulu diperebutkan ternyata terlalu kecil untuk dipertahankan dengan kezaliman.  

Baca Yang lain

Surah Ghafir dan Mereka yang Mengira Tak Tersentuh 1

Surah Ghafir dan Mereka yang Mengira Tak Tersentuh 1 Padahal sejarah selalu bergerak dengan cara yang sunyi. Sedikit demi sedikit, mencatat kesombongan, menyimpan ketidakadilan, lalu pada waktunya menjatuhkan semuanya. Dan ketika itu terjadi, yang tersisa bukan lagi besarnya kekuasaan, melainkan bagaimana manusia pernah menggunakannya.

Baca Yang lain

Tafsir QS Nur Ayat 3 (2)

Tafsir QS Nur Ayat 3 (2) Allamah Thabathabai dalam tafsir Al-Mîzân mengatakan, kesimpulan yang bisa diambil dari makna ayat dengan bantuan riwayat-riwayat yang berasal dari Ahlibait As adalah bahwa lelaki pezina saat ia terkenal dengan hal ini di masyarakat dan telah dicap sebagai pezina, sementara ia juga tidak bertobat, maka ia akan menjadi haram menikah dengan perempuan suci dan Muslim, dan ia harus menikah dengan perempuan pezina atau musyrik.

Baca Yang lain

Tafsir QS Nur Ayat 3 (1)

Tafsir QS Nur Ayat 3 (1) Hukum perkawinan lelaki pezina dengan perempuan pezina atau musryik; atau sebaliknya mencakup mereka yang: Terkenal dengan perbuatan tercela ini, Telah mengalami hukum Ilahi yang berupa hukum cambuk, Mereka tidak melakukan taubah atas apa yang telah dilakukannya.

Baca Yang lain

Memahami Arti Tafsir Bi Ra’yi (2)

Memahami Arti Tafsir Bi Ra’yi (2) Sebagaimana yang kita ketahui bahwa salah satu prinsip ajaran al-Quran adalah menyeru manusia untuk berpikir dan merenung. Manusia yang berpikir akan mampu menyingkap tirai kebodohannya; artinya pada tingkat pertama ia akan mengkaji tentang hal yang ingin dicapainya dan ia temukan hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak diketahuinya kemudian ia pergi melalui pendahuluan-pendahuluannya lalu menyusunnya dari sudut pandang forma dan materinya, dan dari pendahuluan-pendahuluan yang telah ditata dengan baik ia sampai kepada tujuan yang ingin dicapainya.

Baca Yang lain

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 5

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 5 Disebutkan dalam riwayat lain: ”Ketika kesulitan menimpa s0rang hamba yang beriman, kemudian dia membaca ayat suci ini, maka masalah tersebut akan menjadi mudah baginya.”3  

Baca Yang lain

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 6

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 6 Akal disebut pemandu lantaran ia dapat menunjukkan perkara-perkara yang benar dan salah kepada manusia. Para nabi, imam ’alaihim as-salam, serta para ulama disebut pembimbing juga karena mereka membimbing manusia kepada keselamatan dan kebaikan di kedua dunia. Namun Sesungguhnya Allah adalah Pembimbing tertinggi. Semua ini merupakam sarana yang diberikan untuk membimbing umat manusia.[]  

Baca Yang lain

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 7

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 7 BeritaTafsir Surat Al-Fatihah Ayat 7 صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat-Mu, bukannya (jalan) orang-orang yang Engkau murkai, bukan juga (orang-orang) yang tersesat. (7)

Baca Yang lain

Tafsir Surat An-Nas Ayat 1-6

Tafsir Surat An-Nas Ayat 1-6 Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang  Katakanlah, ”Aku memohon perlindungan kepada Tuhan manusia! (1)  Raja manusia! (2) Tuhan manusia! (3) Dari kejahatan bisikan yang tersembunyi, (4)  Yang membisikkan ke dalam dada (hati) manusia, (5) (baik ia) dari golongan jin dan manusia (6)

Baca Yang lain

Memahami Al-Quran

Memahami Al-Quran Sebagian ulama berkeyakinan bahwa al-Quran tidak dapat ditafsirkan tanpa hadis dari para Imam as. Sebab, jika tidak demikian, setiap bentuk penafsiran akan tergolong tafsir berdasar pendapat personal. Untuk  menjawab persoalan ini, perlu disampaikan sejumlah poin  penting yang disepakati tentang al-Quran, sebagai berikut:  

Baca Yang lain

Inilah Rahasia Kaya dan Miskinnya Seseorang

Inilah Rahasia Kaya dan Miskinnya Seseorang Dalam salah satu penggalan hadis dari Abu Ja’far (Imam Baqir as) kita baca demikian: وَ إِنَّ مِنْ عِبَادِيَ المُؤْمِنِيْنَ مَنْ لَا يُصْلِحُهُ إِلَّا اْلغِنَى وَ لَوْ صَرَفْتُهُ اِلَى غَيْرِ ذَلِكَ لَهَلَكَ، وَ إِنَّ مِنْ عِبَادِيَ الْمُؤْمِنِيْنَ مَنْ لَا يُصْلِحُهُ إِلَّا الْفَقْرُ وَ لَوْ صَرَفْتُهُ اِلَى غَيْرِ ذَلِكَ لَهَلَكَ. Di antara hamba-hamba-Ku yang mukmin terdapat orang yang tidak cocok baginya kecuali kekayaan; dan kalau Aku palingkan dia kepada (keadaan) yang lain, dia pasti akan celaka. Dan di anatara hamba-hamba-Ku yang mukmin terdapat pula orang yang tidak cocok baginya kecuali kemiskinan; dan kalau Aku palingkan dia kepada (keadaan) yang lain, niscaya dia akan celaka.

Baca Yang lain

Tafsir Ayat tetang Berpuasa di Bulan Ramadhan

Tafsir Ayat tetang Berpuasa di Bulan Ramadhan Hafsh bin Ghiyats meriwayatkan bahwa aku mendengar dari Imam Shadiq  bahwa beliau berkata, “Allah swt tidak pernah mewajibkan berpuasa di bulan Ramadhan selain kepada Umat Nabi Muhammad saw.” “Lalu apa makna ayat yang menyatakan, Wahai orang-orang yang beriman! diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu?”  tanya Hafsh.  

Baca Yang lain

Tafsir Surat al-Buruj: Terjemah ayat 17 – 22

Tafsir Surat al-Buruj: Terjemah ayat 17 – 22 Ayat-ayat ini, menurut al-Qurthubi, menghibur dan menenangkan hati Rasulullah Saw dengan mengingatkannya apa yang dialami dua pasukan kuat yang menantang Allah Swt. Mereka, meskipun kuat, pada akhirnya binasa dan tidak berdaya menghadapi kekuatan Allah Swt di dunia.

Baca Yang lain

Tafsir Surat al-Buruj: ayat 1-9

Tafsir Surat al-Buruj: ayat 1-9 Surat ini menceritakan tentang orang-orang yang menyiksa kaum Mukminin karena keimanan mereka kepada Allah Swt, seperti halnya kaum Musyrikin Mekkah yang mengganggu Rasulullah Saw dan beberapa sahabatnya agar kembali ke kemusyrikan. Allah Swt mengancam dengan keras perbuatan kaum Musyrikin itu dan menjanjikan surga kepada kaum Mukminin yang disiksa.

Baca Yang lain

Tafsir Surat al-Ikhlash

Tafsir Surat al-Ikhlash Allah adalah salah satu nama untuk Sang Pencipta. Kata ini mencakup seluruh sifat-sifat keindahan dan keagungan Tuhan (al-jamaliyyah dan al-jalaliyyah). Oleh karena itu, kata Allah disebut dengan Nama yang paling Agung (al-Ismu al-A’dhom) atau biasa disebut pula dengan kata keagungan (lafadz al-jalalah). Kata ini juga tidak boleh digunakan untuk selain Tuhan, sementara nama­nama-Nya yang lain dapat digunakan untuk selain-Nya.

Baca Yang lain

Jalan Menuju Cahaya 915: Surat Ad-Dukhan 1-8

Jalan Menuju Cahaya 915: Surat Ad-Dukhan 1-8 Tujuh surat Al Quran diawali dengan huruf muqathaah “Haa Miim”. Empat surat sebelum Ad Dukhan dan dua surat setelahnya, juga diawali dengan huruf Haa Miim. Sebagaimana telah dijelaskan, biasanya setelah huruf ini Allah Swt menyampaikan keagungan Al Quran dan p

Baca Yang lain

Jalan Menuju Cahaya 895: Surat al-Syura ayat 19-23

Jalan Menuju Cahaya 895: Surat al-Syura ayat 19-23 Kelanjutan ayat di atas menekankan bahwa orang beriman berusaha melakukan perbuatan baik, dan kebaikan mereka sampai kepada orang lain, sehingga Allah Swt memasukkan mereka ke dalam liputan rahmat-Nya, dan menambah kebaikan amal dan mengampuni kesalahannya.

Baca Yang lain

Jalan Menuju Cahaya 906: Surat al-Zukhruf ayat 29-35

Jalan Menuju Cahaya 906: Surat al-Zukhruf ayat 29-35 Sunnah Ilahi dalam menghadapi manusia adalah kesempurnaan hujjah dan dalil. Selama ajaran kebenaran belum sampai kepada masyarakat, maka Allah Swt tidak meminta pertanggung jawaban mereka dan juga tidak mengazabnya. Allah Swt mengutus seorang nabi di tengah umat Arab dan dari kalangan mereka sendiri, sehingga mereka memahami ucapannya dan menyadari kebenaran dari ucapannya tersebut.

Baca Yang lain