Imam Husein as
Dari Media Sayyidah Zainab s.a, ke Media Kita1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadzah Rabiatul Adawiyah
Semoga media yang kita miliki tidak hanya menjadi tempat melihat berbagai informasi, tetapi juga menjadi wasilah lahirnya karya-karya yang bermanfaat, yang kelak menjadi saksi bahwa kita pernah mengambil bagian dalam menyebarkan kebenaran. []
Empat Puluh Hari
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- IJABI PEDULI and Salim Muhsin BSA
Di sana ada janji setia yang terus ditegaskan setiap tahunnya.
Labbaika ya Husain
Labbaika ya Husain
Di atas tanah Karbala, di sisi pusara pemimpin pemuda surga…
Kafilah yang Diikat oleh Cinta kepada Imam
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Miftah Fauzi Rahmat
Jutaan manusia berjalan menuju Karbala.
Berbeda bangsa.
Berbeda bahasa.
Berbeda warna kulit.
Tetapi mereka dipersatukan oleh satu cinta.
Cinta kepada Imam Husain as.
Zumar adalah Rombongan Kafilah yang Diikat oleh Cinta kepada Imam
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Miftah Fauzi Rahmat
Sebagaimana orang yang bertawaf mengelilingi Ka’bah.
Tubuhnya bergerak.
Tetapi hatinya terpaut kepada Baitullah.
Demikian pula para peziarah Arba’in.
Kakinya melangkah menuju Karbala.
Tetapi ruhnya telah lama berada di sisi Abi Abdillah.
Zumar adalah Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Miftah Fauzi Rahmat
Bukan karena tidak ingin melihat.
Tetapi karena kerinduan itu terlalu besar.
Saya takut hati ini semakin rindu berada di sana.
Maka berbahagialah mereka yang Allah pilih untuk hadir di Karbala.
Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Miftah Fauzi Rahmat
Dalam Doa Kumail kita membaca,
وَهَبْنِي صَبَرْتُ عَلَىٰ حَرِّ نَارِكَ فَكَيْفَ أَصْبِرُ عَلَىٰ فِرَاقِكَ
“Ya Allah, andaikan aku sanggup bersabar atas panasnya api-Mu, bagaimana mungkin aku sanggup bersabar karena berpisah dari-Mu.”
Sayyid Kamal menjelaskan bahwa kepedihan terbesar bukan hanya panasnya neraka.
Arbain Walk to Mazar: Menyambungkan Ruh kepada Imam Husain as. melalui Jejak Allahyarham MahaGuru
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- ijabi
“Siapa yang belum mampu menziarahi kami, hendaknya ia menziarahi para pecinta kami yang saleh, maka dicatat baginya pahala seperti menziarahi kami. Dan siapa yang belum mampu menyambungkan hubungan dengan kami, hendaknya ia menyambungkan hubungan dengan para pecinta kami yang saleh, maka dicatat baginya pahala seperti menyambungkan hubungan dengan kami.”
(Kamil al-Ziyarat, jilid 2, hlm. 209).
Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 7
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Miftah Fauzi Rahmat
Mereka merasa tertinggal dari para syuhada.
Itulah pelajaran Arba’in.
Merindukan akhir hidup di jalan Allah.
Jutaan manusia berjalan menuju Karbala.
Berbeda bangsa.
Berbeda bahasa.
Berbeda warna kulit.
Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 6
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Miftah Fauzi Rahmat
Syafaat berarti menggenapkan.
Yang kurang menjadi sempurna.
Orang tua memberi syafaat.
Anak memberi syafaat.
Guru memberi syafaat.
Para ulama dan marja’ memberi syafaat.
Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 5
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Miftah Fauzi Rahmat
Kalau salah memilih imam, salah pula zumar-nya.
Dalam Doa Kumail kita membaca,
وَهَبْنِي صَبَرْتُ عَلَىٰ حَرِّ نَارِكَ فَكَيْفَ أَصْبِرُ عَلَىٰ فِرَاقِكَ
“Ya Allah, andaikan aku sanggup bersabar atas panasnya api-Mu, bagaimana mungkin aku sanggup bersabar karena berpisah dari-Mu.”
Sayyid Kamal menjelaskan bahwa kepedihan terbesar bukan hanya panasnya neraka.
Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 4
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Miftah Fauzi Rahmat
Mudah bagi kita mengatakan, “Kami mencintai Imam Ali. Kami mencintai Imam Husain. Kami mencintai Imam Zaman.”
Tetapi pertanyaannya bukan itu.
Apakah Imam mengakui kita sebagai pengikutnya?
Hari ini kita berkata, “Imam kami adalah Imam Ali.”
Namun kelak, apakah Imam akan berkata, “Dia adalah pengikutku.”
Atau justru berkata,
“Aku bukan imamnya.”
Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Miftah Fauzi Rahmat
Seorang tamu dari Bahrain pernah bercerita.
Di Wadi as-Salam, Najaf, ada seorang gadis berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun. Setelah ibunya wafat, hampir setiap malam ia tidur di dekat makam sang ibu karena tidak sanggup berpisah.
Suatu malam ia mengalami sesuatu yang luar biasa.
Keesokan paginya seluruh rambutnya memutih.
Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Miftah Fauzi Rahmat
Kita dipisahkan dengan saudara-saudara kita di Iran oleh batas negara. Kita berbeda bahasa dan budaya. Namun Al-Qur’an tidak pernah mengatakan manusia dikumpulkan berdasarkan kebangsaan.
Allamah Thabathabai menjelaskan firman Allah:
«يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ
“Pada hari ketika Kami memanggil setiap manusia bersama imam mereka.” (QS. Al-Isra’: 71)»
Inilah jawabannya.
Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ustadz Miftah Fauzi Rahmat
Sehingga penyesalan,
يا ليتنا كنا معكم فنفوز فوزًا عظيمًا
“Andai kami dahulu bersama kalian, niscaya kami memperoleh kemenangan yang agung.”
tidak hanya menjadi ucapan lisan, tetapi menjadi doa agar kelak Allah benar-benar menghimpunkan kita bersama Imam Husain as., para syuhada, dan orang-orang saleh.
Merawat Kemanusiaan dalam Cahaya Karbala 2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- ijabi
Kualitas eksekusi acara pun menjadi catatan tersendiri. Seorang praktisi film yang hadir di lokasi memberikan apresiasi bahwa seluruh rangkaian acara diramu dengan sangat profesional. Dari tata suara yang mengiringi narasi hingga alur emosional yang dibangun, kualitas tayangannya mampu menghadirkan pengalaman estetis sekaligus ruhani yang sempurna.
Merawat Kemanusiaan dalam Cahaya Karbala 1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- ijabi
Pada akhirnya, refleksi ini meneguhkan posisi IJABI sebagai organisasi yang konsisten merawat nalar kebangsaan melalui pendekatan yang humanis. Dengan kehadiran lebih dari 1.400 jemaah yang membawa semangat pembaruan diri, acara ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kemanusiaan, cinta kasih, dan pengorbanan bukanlah slogan semata, melainkan tindakan nyata yang terus dipupuk.
ASYURA SEBAGAI HUKUM SEJARAH:Mengapa Moral Lebih Penting daripada Pelajaran
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
Pengujian di atas mengembalikan kita pada penilaian metodologis Khamenei sendiri. Ia menempatkan moral di atas pelajaran. Setelah menelusuri benang merahnya, alasannya menjadi jelas. Pelajaran hanya mengajarkan keutamaan. Moral menjelaskan mekanisme keruntuhan dan syarat keselamatan. Pelajaran membuat orang mengagumi al-Husain. Moral membuat orang memeriksa dirinya.
ASYURA SEBAGAI HUKUM SEJARAH:Paralel Husain–Khomeini, Kekuatan dan Keterbatasannya
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
Benang merah ini menemukan rujukan hidupnya pada paralel Husain dan Khomeini. Inilah langkah pemersatu sekaligus langkah paling dapat diperdebatkan dalam buku. Khamenei membedakan dua jenis kemenangan.
ASYURA SEBAGAI HUKUM SEJARAH: Uji Batas, Risiko Klaim yang Tidak Terbantahkan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
Uji ketiga lebih kritis. Di manakah batas keberlakuan benang merah ini? Perhatikan dua premis yang menopangnya. Premis pertama: keadaan yang tepat tidak berarti aman, asalkan tindakan membuahkan hasil yang nyata. Premis kedua: hasil itu bisa berupa kekuasaan atau syahid, dan keduanya tetap sah.
ASYURA SEBAGAI HUKUM SEJARAH: Uji Konsistensi Internal
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dr. Dimitri Mahayana
Klaim bahwa kekuasaan dan syahid hanyalah akibat terbukti konsisten dengan bukti yang dipakai buku. Khamenei tidak menyandarkannya pada penafsiran bebas, melainkan pada ucapan al-Husain tentang perbaikan. Bukti internal mendukung klaim. Pada titik ini argumen kukuh.

