Imam Husein as
Sunnah Nabi: Al-Husain sebagai Ukuran Iman
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mahdi Ayatullahi
Hadis-hadis Nabi Saw semakin menegaskan posisi ini. Dalam Shahih al-Tirmidzi, diriwayatkan dari Ya‘la bin Murrah bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Husain adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian darinya. Allah mencintai orang yang mencintai Husain.”
28 Rajab: Hari Ketika Imam Husain Meninggalkan Madinah (2)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Pada pagi 28 Rajab, ia meninggalkan Madinah bersama keluarga terdekat. Tidak ada pasukan, tidak ada simbol kekuatan. Yang menyertainya hanyalah anak-anak, perempuan, dan segelintir pengikut setia. Pemandangan ini sendiri sudah cukup menjawab tuduhan bahwa ia sedang menyiapkan pemberontakan bersenjata. Perjalanan ini sejak awal adalah perjalanan kesaksian, bukan ekspansi kekuasaan.
28 Rajab: Hari Ketika Imam Husain Meninggalkan Madinah (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- safinahonline
Madinah pada akhir bulan Rajab tahun 60 Hijriah tidak lagi sama. Kota yang pernah menjadi pusat cahaya kenabian itu terasa sempit bagi kebenaran. Di lorong-lorongnya, kekuasaan mulai berbicara dengan bahasa ancaman, dan baiat tidak lagi diminta sebagai kesadaran, melainkan dituntut sebagai kepatuhan. Pada hari itulah, 28 Rajab, Imam Husain bin Ali mengambil sebuah keputusan yang tampak sederhana namun kelak mengguncang sejarah Islam: meninggalkan Madinah, meninggalkan kota kakeknya, meninggalkan ketenangan demi menjaga makna agama itu sendiri.
Mubahalah: Al-Husain sebagai Taruhan Kebenaran
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mahdi Ayatullahi
Kesaksian Al-Qur’an berikutnya yang sangat menentukan adalah Ayat Mubahalah (QS. Ali Imran: 61). Ketika kaum Nasrani Najran menantang Rasulullah Saw untuk saling bermubahalah, Nabi tidak membawa para sahabat besar atau pemuka kabilah. Ia hanya membawa Ahlul Bait-nya: Hasan dan Husain sebagai “anak-anak kami”, Fathimah sebagai “wanita-wanita kami”, dan Ali sebagai “diri kami”.
Al-Qur’an dan Kesaksian tentang Kesucian Al-Husain
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mahdi Ayatullahi
Kedudukan Imam Al-Husain a.s. tidak hanya dibangun oleh riwayat sejarah, tetapi ditegaskan secara langsung oleh Al-Qur’an. Ayat paling fundamental dalam hal ini adalah Ayat Tathhir:
Nama Husein dari Langit, Bukan dari Tradisi
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mahdi Ayatullahi
Penamaan bayi ini pun tidak diserahkan kepada kebiasaan Arab atau kehendak keluarga. Ketika Rasulullah Saw bertanya kepada Ali a.s. tentang nama sang bayi, Ali menjawab, “Aku tidak akan mendahului engkau, wahai Rasulullah.” Sikap ini mencerminkan keyakinan bahwa anak ini bukan milik keluarga semata, melainkan milik Islam.
Kelahiran Imam Husain, Sejarah yang Dimulai dengan Air Mata Nabi
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mahdi Ayatullahi
Sejarah Imam Al-Husain a.s. tidak dimulai di Karbala. Ia dimulai jauh sebelumnya—di Madinah, di rumah kenabian, pada hari kelahirannya. Sejak detik pertama kehidupannya, Islam telah “membacakan” masa depan Al-Husain, bukan sebagai sekadar cucu Nabi, tetapi sebagai poros tragedi dan kebangkitan umat.
Arti Kesaksian Dalam Ziarah Imam Al Husein as. (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Jadi ketika seorang peziarah melantunkan paragraf Ziarah, seperti Ziarah Arba’in untuk Imam Al Husein as.:
السَّلامُ عَلَى وَلِيِّ اللَّهِ وَ حَبِيبِهِ السَّلامُ عَلَى خَلِيلِ اللَّهِ وَ نَجِيبِهِ السَّلامُ عَلَى صَفِيِّ اللَّهِ وَ ابْنِ صَفِيِّهِ السَّلامُ عَلَى الْحُسَيْنِ الْمَظْلُومِ الشَّهِيدِ السَّلامُ عَلَى أَسِيرِ الْكُرُبَاتِ وَ قَتِيلِ الْعَبَرَاتِ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْهَدُ أَنَّهُ وَلِيُّكَ وَ ابْنُ وَلِيِّكَ وَ صَفِيُّكَ وَ ابْنُ صَفِيِّكَ
Arti Kesaksian Dalam Ziarah Imam Al Husein as. (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Dengan Ikrar Kesaksian ini, seorang peziarah telah menanamkan akidah mendasar dalam Islam dan memperkokohnya. Ia telah mendoktrinkan sebuah Prinsip Islam yang akan menjaga keimanannya. Sehingga ia tetap dapat berjalan tegak dan seimbang di Jalan Allah.
Bait-bait Sedih Asy Syâfi’l Meratapi Imam Al Husain as.
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Mereka adalah pemberi syafaat untukku di Hari Mahsyar nanti dan ketika aku diberdirikan * di saat bencana besar tampak bagi para penyaksi.
(Manâqib; Ibnu Syahr Âsyûb, 2/232-233. Baca juga Dîwân Imam Syafi’i)
Keindahan yang Mengguncang Istana Yazid (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- muhsin labib
Keindahan Zainab bukan sekadar pernyataan kemenangan rohani. Ia adalah cerminan harmoni filosofis antara femininitas dan maskulinitas, dua kutub yang saling melengkapi dalam revolusi Karbala. Femininitas Zainab—yang lembut namun tak pernah lemah, penuh kasih namun teguh—adalah pasangan setara maskulinitas Al-Husain, yang gagah berani dan rela berkorban.
Keindahan yang Mengguncang Istana Yazid (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- muhsin labib
“Keindahan Semata!” adalah ledakan cahaya di istana gelap Yazid, deklarasi kemenangan abadi. Kata-kata itu mengoyak topeng sang tiran, menyingkap kebobrokan di balik kemilau emas. Di panggung duniawi yang penuh gemerlap, seorang wanita berbelenggu menyatakan keindahan tertinggi: keindahan yang lahir dari api pengorbanan, bersinar di atas puing tirani, dan mengguncang zaman.
Dampak dari Kebangkitan Imam Husein as bagi Islam
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Soleh lapadi
Dampak dari Kebangkitan Imam Husein as bagi Islam
Di antara dampak jangka panjang kebangkitan Imam Husein as dalam masyarakat Islam, berikut ini dapat disebutkan:
Ciri-ciri Kebangkitan Imam Husein as
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- soleh lapadi
Imam Husein as berkata tentang memilih kehidupan yang bahagia di akhirat dan menolak menerima kehinaan di dunia ini, sebagai tujuan lain dari kebangkitan, sebagai tanggapan atas saran Ubaydullah bin Ziyad yang menawarkan Imam pilihan antara dibunuh atau bersumpah setia kepada Yazid, “Oh, betapa besarnya kehinaan! Ya Allah, ini bukan untuk kami, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman… Oh, betapa besarnya kehinaan dan rasa malu yang harus kami terima.
Arba‘īn: Diplomasi Budaya di Jalan Najaf–Karbala
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- K.H. Fajruddin Muchtar, Lc.
“Di antara lautan manusia ini, aku kehilangan namaku, namun menemukan diriku di dalam hatimu.” Arba‘īn adalah lautan itu — tempat di mana identitas pribadi larut dalam persaudaraan universal, dan di mana diplomasi budaya menemukan bentuknya yang paling murni.
Arba‘īn: Diplomasi Budaya di Jalan Najaf–Karbala (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Fajrudin Mukhtar
Arba‘īn juga berperan sebagai ruang belajar sosial yang unik. Peziarah dari negara yang memiliki sejarah ketegangan politik dapat bertemu, berdialog, dan menemukan titik temu melalui nilai-nilai bersama. Seorang peziarah Eropa, misalnya, yang sebelumnya mengenal Timur Tengah hanya dari berita konflik, pulang dengan cerita tentang keramahan penduduk Irak.
Arba‘īn: Diplomasi Budaya di Jalan Najaf–Karbala (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Fajrudin Mukhtar
Arba‘īn 2025 bukan hanya akan menjadi peristiwa keagamaan terbesar tahun ini, tetapi juga momen diplomasi budaya global yang akan tercatat dalam sejarah. Dari Najaf ke Karbala, dari langkah pertama hingga langkah terakhir, jutaan peziarah membuktikan bahwa meski dunia sering dipisahkan oleh batas negara dan ideologi, selalu ada ruang di mana semua manusia bisa berjalan bersama — dalam satu tujuan, satu doa, dan satu cinta kepada Imam Husain as.
Mengapa Cucu Nabi Imam Husein Bangkit Melawan Yazid bin Muawiyah? Apa Prestasi yang Dicapai Gerakan Ini Bagi Umat Islam? (3)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- soleh lapadi
Imam Husein as berbicara tentang tujuan dan motif kebangkitan Asyura pada berbagai kesempatan dalam khotbah-khotbahnya yang menggugah, surat-suratnya, pidato-pidatonya yang menyentuh hati, dan wasiatnya. Imam menganggap diam dalam menghadapi kejahatan para penguasa Umayah dan berkompromi dengan mereka sebagai dosa yang tidak terampuni.
Mengapa Cucu Nabi Imam Husein Bangkit Melawan Yazid bin Muawiyah? Apa Prestasi yang Dicapai Gerakan Ini Bagi Umat Islam? (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- soleh lapadi
Imam Husein as pada masa-masa ketika ia berada di bawah tekanan di Madinah untuk diambil baiat dari gubernur kota itu, menanggapinya dengan berkata, Sekarang umat Islam telah dijebak oleh penguasa seperti Yazid, maka mereka harus membaca Al-Fatihah bagi kehancuran Islam.
Mengapa Cucu Nabi Imam Husein Bangkit Melawan Yazid bin Muawiyah? Apa Prestasi yang Dicapai Gerakan Ini Bagi Umat Islam? (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- soleh lapadi
Akhirnya, jika kita ingin mengungkapkan tujuan Imam Husein as, kita harus mengatakan bahwa tujuan orang besar itu adalah untuk memenuhi kewajiban agama yang besar yang belum pernah dipenuhi oleh seorang pun sebelum Imam Husain, bahkan Nabi sendiri. Baik Nabi, maupun Amirul Mukminin, maupun Imam Hassan Mujtaba tidak pernah memenuhi kewajiban ini. Karena krisis ini belum pernah terjadi pada masa mereka. Akan tetapi, kewajiban itu adalah tugas kebangkitan untuk mengembalikan masyarakat Islam ke jalan tauhid dan Al-Qur'an yang benar. Sebuah tugas yang berada di pundak umat Islam.

