Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Imam Husein as

Dari Media Sayyidah Zainab s.a, ke Media Kita1

Dari Media Sayyidah Zainab s.a, ke Media Kita1

Semoga media yang kita miliki tidak hanya menjadi tempat melihat berbagai informasi, tetapi juga menjadi wasilah lahirnya karya-karya yang bermanfaat, yang kelak menjadi saksi bahwa kita pernah mengambil bagian dalam menyebarkan kebenaran. []  

Baca Yang lain

Empat Puluh Hari

Empat Puluh Hari Di sana ada janji setia yang terus ditegaskan setiap tahunnya. Labbaika ya Husain Labbaika ya Husain Di atas tanah Karbala, di sisi pusara pemimpin pemuda surga…

Baca Yang lain

Kafilah yang Diikat oleh Cinta kepada Imam

Kafilah yang Diikat oleh Cinta kepada Imam Jutaan manusia berjalan menuju Karbala. Berbeda bangsa. Berbeda bahasa. Berbeda warna kulit. Tetapi mereka dipersatukan oleh satu cinta. Cinta kepada Imam Husain as.

Baca Yang lain

Zumar adalah Rombongan Kafilah yang Diikat oleh Cinta kepada Imam

Zumar adalah Rombongan Kafilah yang Diikat oleh Cinta kepada Imam Sebagaimana orang yang bertawaf mengelilingi Ka’bah. Tubuhnya bergerak. Tetapi hatinya terpaut kepada Baitullah. Demikian pula para peziarah Arba’in. Kakinya melangkah menuju Karbala. Tetapi ruhnya telah lama berada di sisi Abi Abdillah.

Baca Yang lain

Zumar adalah Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam

Zumar adalah Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam Bukan karena tidak ingin melihat. Tetapi karena kerinduan itu terlalu besar. Saya takut hati ini semakin rindu berada di sana. Maka berbahagialah mereka yang Allah pilih untuk hadir di Karbala.

Baca Yang lain

Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam

Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam Dalam Doa Kumail kita membaca, وَهَبْنِي صَبَرْتُ عَلَىٰ حَرِّ نَارِكَ فَكَيْفَ أَصْبِرُ عَلَىٰ فِرَاقِكَ “Ya Allah, andaikan aku sanggup bersabar atas panasnya api-Mu, bagaimana mungkin aku sanggup bersabar karena berpisah dari-Mu.” Sayyid Kamal menjelaskan bahwa kepedihan terbesar bukan hanya panasnya neraka.

Baca Yang lain

Arbain Walk to Mazar: Menyambungkan Ruh kepada Imam Husain as. melalui Jejak Allahyarham MahaGuru

Arbain Walk to Mazar: Menyambungkan Ruh kepada Imam Husain as. melalui Jejak Allahyarham MahaGuru “Siapa yang belum mampu menziarahi kami, hendaknya ia menziarahi para pecinta kami yang saleh, maka dicatat baginya pahala seperti menziarahi kami. Dan siapa yang belum mampu menyambungkan hubungan dengan kami, hendaknya ia menyambungkan hubungan dengan para pecinta kami yang saleh, maka dicatat baginya pahala seperti menyambungkan hubungan dengan kami.” (Kamil al-Ziyarat, jilid 2, hlm. 209).

Baca Yang lain

Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 7

Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 7 Mereka merasa tertinggal dari para syuhada. Itulah pelajaran Arba’in. Merindukan akhir hidup di jalan Allah. Jutaan manusia berjalan menuju Karbala. Berbeda bangsa. Berbeda bahasa. Berbeda warna kulit.

Baca Yang lain

Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 6

Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 6 Syafaat berarti menggenapkan. Yang kurang menjadi sempurna. Orang tua memberi syafaat. Anak memberi syafaat. Guru memberi syafaat. Para ulama dan marja’ memberi syafaat.

Baca Yang lain

Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 5

Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 5 Kalau salah memilih imam, salah pula zumar-nya. Dalam Doa Kumail kita membaca, وَهَبْنِي صَبَرْتُ عَلَىٰ حَرِّ نَارِكَ فَكَيْفَ أَصْبِرُ عَلَىٰ فِرَاقِكَ “Ya Allah, andaikan aku sanggup bersabar atas panasnya api-Mu, bagaimana mungkin aku sanggup bersabar karena berpisah dari-Mu.” Sayyid Kamal menjelaskan bahwa kepedihan terbesar bukan hanya panasnya neraka.

Baca Yang lain

Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 4

Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 4 Mudah bagi kita mengatakan, “Kami mencintai Imam Ali. Kami mencintai Imam Husain. Kami mencintai Imam Zaman.” Tetapi pertanyaannya bukan itu. Apakah Imam mengakui kita sebagai pengikutnya? Hari ini kita berkata, “Imam kami adalah Imam Ali.” Namun kelak, apakah Imam akan berkata, “Dia adalah pengikutku.” Atau justru berkata, “Aku bukan imamnya.”

Baca Yang lain

Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam

Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam Seorang tamu dari Bahrain pernah bercerita. Di Wadi as-Salam, Najaf, ada seorang gadis berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun. Setelah ibunya wafat, hampir setiap malam ia tidur di dekat makam sang ibu karena tidak sanggup berpisah. Suatu malam ia mengalami sesuatu yang luar biasa. Keesokan paginya seluruh rambutnya memutih.

Baca Yang lain

Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam

Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam Kita dipisahkan dengan saudara-saudara kita di Iran oleh batas negara. Kita berbeda bahasa dan budaya. Namun Al-Qur’an tidak pernah mengatakan manusia dikumpulkan berdasarkan kebangsaan. Allamah Thabathabai menjelaskan firman Allah: «يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ “Pada hari ketika Kami memanggil setiap manusia bersama imam mereka.” (QS. Al-Isra’: 71)» Inilah jawabannya.

Baca Yang lain

Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 1

Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 1 Sehingga penyesalan, يا ليتنا كنا معكم فنفوز فوزًا عظيمًا “Andai kami dahulu bersama kalian, niscaya kami memperoleh kemenangan yang agung.” tidak hanya menjadi ucapan lisan, tetapi menjadi doa agar kelak Allah benar-benar menghimpunkan kita bersama Imam Husain as., para syuhada, dan orang-orang saleh.

Baca Yang lain

Merawat Kemanusiaan dalam Cahaya Karbala 2

Merawat Kemanusiaan dalam Cahaya Karbala 2 Kualitas eksekusi acara pun menjadi catatan tersendiri. Seorang praktisi film yang hadir di lokasi memberikan apresiasi bahwa seluruh rangkaian acara diramu dengan sangat profesional. Dari tata suara yang mengiringi narasi hingga alur emosional yang dibangun, kualitas tayangannya mampu menghadirkan pengalaman estetis sekaligus ruhani yang sempurna.

Baca Yang lain

Merawat Kemanusiaan dalam Cahaya Karbala 1

Merawat Kemanusiaan dalam Cahaya Karbala 1 Pada akhirnya, refleksi ini meneguhkan posisi IJABI sebagai organisasi yang konsisten merawat nalar kebangsaan melalui pendekatan yang humanis. Dengan kehadiran lebih dari 1.400 jemaah yang membawa semangat pembaruan diri, acara ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kemanusiaan, cinta kasih, dan pengorbanan bukanlah slogan semata, melainkan tindakan nyata yang terus dipupuk.

Baca Yang lain

ASYURA SEBAGAI HUKUM SEJARAH:Mengapa Moral Lebih Penting daripada Pelajaran

ASYURA SEBAGAI HUKUM SEJARAH:Mengapa Moral Lebih Penting daripada Pelajaran Pengujian di atas mengembalikan kita pada penilaian metodologis Khamenei sendiri. Ia menempatkan moral di atas pelajaran. Setelah menelusuri benang merahnya, alasannya menjadi jelas. Pelajaran hanya mengajarkan keutamaan. Moral menjelaskan mekanisme keruntuhan dan syarat keselamatan. Pelajaran membuat orang mengagumi al-Husain. Moral membuat orang memeriksa dirinya.  

Baca Yang lain

ASYURA SEBAGAI HUKUM SEJARAH:Paralel Husain–Khomeini, Kekuatan dan Keterbatasannya

ASYURA SEBAGAI HUKUM SEJARAH:Paralel Husain–Khomeini, Kekuatan dan Keterbatasannya Benang merah ini menemukan rujukan hidupnya pada paralel Husain dan Khomeini. Inilah langkah pemersatu sekaligus langkah paling dapat diperdebatkan dalam buku. Khamenei membedakan dua jenis kemenangan.  

Baca Yang lain

ASYURA SEBAGAI HUKUM SEJARAH: Uji Batas, Risiko Klaim yang Tidak Terbantahkan

ASYURA SEBAGAI HUKUM SEJARAH: Uji Batas, Risiko Klaim yang Tidak Terbantahkan Uji ketiga lebih kritis. Di manakah batas keberlakuan benang merah ini? Perhatikan dua premis yang menopangnya. Premis pertama: keadaan yang tepat tidak berarti aman, asalkan tindakan membuahkan hasil yang nyata. Premis kedua: hasil itu bisa berupa kekuasaan atau syahid, dan keduanya tetap sah.  

Baca Yang lain

ASYURA SEBAGAI HUKUM SEJARAH: Uji Konsistensi Internal

ASYURA SEBAGAI HUKUM SEJARAH: Uji Konsistensi Internal Klaim bahwa kekuasaan dan syahid hanyalah akibat terbukti konsisten dengan bukti yang dipakai buku. Khamenei tidak menyandarkannya pada penafsiran bebas, melainkan pada ucapan al-Husain tentang perbaikan. Bukti internal mendukung klaim. Pada titik ini argumen kukuh.  

Baca Yang lain