Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Tauhid

Jalan Tengah Ahlulbait dalam Memahami Takdir

Jalan Tengah Ahlulbait dalam Memahami Takdir

Salah satu persoalan akidah yang kerap menimbulkan perdebatan panjang adalah bagaimana memahami qadha dan takdir Allah. Banyak orang beranggapan bahwa Allah menciptakan sistem takdir dan hukum-hukum alam, lalu membiarkannya berjalan begitu saja tanpa keterlibatan-Nya. Mereka membayangkan alam seperti pabrik otomatis: seorang insinyur merancang mesin, menyalakannya, lalu pergi—dan mesin itu bekerja sendiri tanpa kehadirannya.

Baca Yang lain

Allah Tidak Terpisah dari Alam dan Kehidupan

Allah Tidak Terpisah dari Alam dan Kehidupan Riwayat-riwayat Ahlulbait menegaskan bahwa tidak ada satu peristiwa pun—kesempitan maupun kelapangan, musibah maupun nikmat—kecuali berada di bawah hukum, kehendak, dan qadha Allah. Imam ash-Shadiq as berkata: “Tidak ada cengkeraman dan kelapangan kecuali atasnya Allah memiliki kehendak, qadha, dan ujian.”

Baca Yang lain

Bagaimana “Kemampuan” Manusia Bekerja?

Bagaimana “Kemampuan” Manusia Bekerja? Imam-imam Ahlulbait menjelaskan bahwa kemampuan (istitha’ah) manusia tidak mendahului perbuatan. Kemampuan itu hadir bersamaan dengan tindakan—dan merupakan ciptaan Allah.  

Baca Yang lain

Tiga Kelompok dalam Memahami Takdir

Tiga Kelompok dalam Memahami Takdir Salah satu persoalan akidah yang kerap menimbulkan perdebatan panjang adalah bagaimana memahami qadha dan takdir Allah. Banyak orang beranggapan bahwa Allah menciptakan sistem takdir dan hukum-hukum alam, lalu membiarkannya berjalan begitu saja tanpa keterlibatan-Nya. Mereka membayangkan alam seperti pabrik otomatis: seorang insinyur merancang mesin, menyalakannya, lalu pergi—dan mesin itu bekerja sendiri tanpa kehadirannya.

Baca Yang lain

Takdir yang Selalu Terhubung dengan Kehendak Allah

Takdir yang Selalu Terhubung dengan Kehendak Allah Menurut pandangan Al-Qur’an dan Ahlulbait, seluruh sistem qadha dan takdir berjalan di bawah kehendak Allah secara langsung, bukan hanya pada momen penciptaan awal. Alam semesta dan manusia tidak pernah mandiri dari kehendak-Nya. Bahkan setiap kehendak manusia sendiri berada dalam lingkup kehendak Allah.  

Baca Yang lain

Meluruskan Qadha dan Qadar: Peran Ahlulbait dalam Mempertahankan Kemurnian Akidah (2)

Meluruskan Qadha dan Qadar: Peran Ahlulbait dalam Mempertahankan Kemurnian Akidah (2) Salah satu penjelasan paling penting datang dari riwayat panjang Amirulmukminin Imam Ali bin Abi Thalib setelah perang Shiffin. Al-Kulainī meriwayatkan dengan sanad marfu‘ bahwa seorang tua datang bertanya: “Wahai Amirulmukminin, apakah perjalanan kami menuju Syam terjadi dengan qadha’ dan takdir Allah?”

Baca Yang lain

Meluruskan Qadha dan Qadar: Peran Ahlulbait dalam Mempertahankan Kemurnian Akidah (1)

Meluruskan Qadha dan Qadar: Peran Ahlulbait dalam Mempertahankan Kemurnian Akidah (1) Dalam lintasan sejarah Islam, Ahlulbait memainkan peran sentral dalam menjaga kemurnian tauhid dan menegakkan keadilan Ilahi. Melalui penjelasan-penjelasan mendalam tentang konsep ketuhanan, qadha’ dan qadar, kebebasan manusia, serta hukum kausalitas, para imam berupaya meluruskan berbagai kekeliruan pemahaman yang dapat menjerumuskan umat kepada fatalisme, penafian tanggung jawab, atau pandangan tidak adil terhadap perbuatan Tuhan.

Baca Yang lain

Tingkatan-Tingkatan Syirik (5)

Tingkatan-Tingkatan Syirik (5) Al-Qur’an menegaskan bahwa kekuasaan tirani juga merupakan bentuk syirik sosial. Ketika Fir‘aun menindas Bani Israil, ia menjadikan mereka sebagai “budak-budaknya” bukan dalam arti ritual penyembahan, melainkan penundukan total terhadap sistem kezaliman.  

Baca Yang lain

Tingkatan-Tingkatan Syirik (4)

Tingkatan-Tingkatan Syirik (4) Syirik jenis ini lebih halus dan filosofis. Ia muncul ketika seseorang menganggap sifat-sifat Allah terpisah dari Zat-Nya, atau ketika kekuasaan, ilmu, dan kehendak dianggap berdiri sendiri.  

Baca Yang lain

Tingkatan-Tingkatan Syirik(3)

Tingkatan-Tingkatan Syirik(3) Sebagian manusia mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi meyakini adanya makhluk-makhluk yang turut memiliki peran dalam penciptaan. Mereka menganggap bahwa Allah hanya menciptakan kebaikan, sementara kejahatan adalah ciptaan kekuatan lain—seolah-olah ada dua sumber eksistensi: kebaikan dan kejahatan.  

Baca Yang lain

Tingkatan-Tingkatan Syirik (2)

Tingkatan-Tingkatan Syirik (2) Al-Qur’an menjelaskan bahwa dasar keimanan dan tauhid bukanlah kondisi sosial atau kelas, melainkan fitrah—sifat bawaan dan hakikat terdalam manusia. Setiap manusia memiliki potensi alami untuk mengenal dan mengakui Tuhan yang Esa.  

Baca Yang lain

Tingkatan-Tingkatan Syirik (1)

Tingkatan-Tingkatan Syirik (1) Sebagaimana tauhid memiliki tingkat-tingkatnya, begitu pula syirik. Dengan memahami keduanya secara berimbang, manusia dapat mengenali makna tauhid yang sejati melalui kebalikannya—sebab, sebagaimana kata pepatah hikmah, segala sesuatu dapat dikenali melalui lawannya.  

Baca Yang lain

Kebijaksanaan Ilahi di Balik Penderitaan dan Perbedaan Hidup (1)

Kebijaksanaan Ilahi di Balik Penderitaan dan Perbedaan Hidup (1) Pada akhirnya, keadilan Ilahi bukan berarti menyamaratakan segalanya, tetapi menempatkan setiap makhluk sesuai kadar dan kemampuannya. Perbedaan bukanlah ketidakadilan, melainkan tanda kebijaksanaan Allah dalam mengatur alam semesta. Dengan memahami hal ini, manusia akan melihat dunia dengan pandangan yang lebih jernih, penuh makna, dan jauh dari keputusasaan.  

Baca Yang lain

Makna Transenden Allahu Akbar: Antara Bahasa, Batas, dan Ketak terbatasan Tuhan (2)

Makna Transenden Allahu Akbar: Antara Bahasa, Batas, dan Ketak terbatasan Tuhan  (2) Bahasa pada hakikatnya bersifat terbatas. Ketika manusia berkata “lebih besar,” ia menyandarkan makna pada relasi antara dua hal: sesuatu dibandingkan dengan yang lain. Dengan mengatakan “Allah lebih besar dari segala sesuatu,” seolah-olah ada kategori ontologis yang sama antara Tuhan dan makhluk, hanya berbeda pada tingkatan besar-kecil. Imam Ṣhadiq as menolak reduksi ini, dengan menyatakan: “اللَّهُ أَكْبَرُ مِنْ أَنْ یوصَف‏” — Allah lebih besar dari sekadar dapat digambarkan.     

Baca Yang lain

Makna Transenden Allahu Akbar: Antara Bahasa, Batas, dan Ketak terbatasan Tuhan (1)

Makna Transenden Allahu Akbar: Antara Bahasa, Batas, dan Ketak terbatasan Tuhan (1) Riwayat Imam Ṣhadiq as tentang makna Allahu Akbar membimbing kita untuk memahami bahwa hakikat Tuhan adalah Realitas yang tak terbandingkan, tak terukur, dan tak terdeskripsikan secara penuh. Dengan demikian, Allahu Akbar menjadi pernyataan teologis yang menolak segala pembatasan, sekaligus menjadi deklarasi spiritual yang menyucikan Tuhan dari sekat-sekat bahasa manusia.

Baca Yang lain

Alam Gaib dan Alam Nyata dalam Pandangan Dunia Tauhid (4)

Alam Gaib dan Alam Nyata dalam Pandangan Dunia Tauhid (4) Semua ini adalah simbol-simbol dari khazanah gaib yang memuat hakikat dan kebenaran yang kemudian diturunkan ke alam nyata dalam bentuk wahyu. Dengan demikian, iman kepada kitab dalam pengertian Al-Qur’an juga berarti iman kepada realitas gaib yang melampaui lembaran-lembaran tertulis.  

Baca Yang lain

Alam Gaib dan Alam Nyata dalam Pandangan Dunia Tauhid (3)

Alam Gaib dan Alam Nyata dalam Pandangan Dunia Tauhid (3) Semua ini adalah simbol-simbol dari khazanah gaib yang memuat hakikat dan kebenaran yang kemudian diturunkan ke alam nyata dalam bentuk wahyu. Dengan demikian, iman kepada kitab dalam pengertian Al-Qur’an juga berarti iman kepada realitas gaib yang melampaui lembaran-lembaran tertulis.

Baca Yang lain

Alam Gaib dan Alam Nyata dalam Pandangan Dunia Tauhid (2)

Alam Gaib dan Alam Nyata dalam Pandangan Dunia Tauhid (2) Al-Qur’an memberi petunjuk bahwa segala sesuatu di dunia ini berakar pada realitas lain di alam gaib. Firman-Nya: “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (QS al-Hijr: 21).  

Baca Yang lain

Alam Gaib dan Alam Nyata dalam Pandangan Dunia Tauhid (1)

Alam Gaib dan Alam Nyata dalam Pandangan Dunia Tauhid (1) Pada akhirnya, iman kepada gaib bukanlah sekadar kepercayaan dogmatis, melainkan pintu menuju pandangan dunia yang lebih dalam. Ia menuntun manusia untuk tidak berhenti pada apa yang tampak, melainkan menembus hingga ke akar realitas. Dengan iman ini, manusia tidak hanya hidup di dunia nyata, tetapi juga senantiasa tersambung dengan dunia gaib yang menjadi asal sekaligus tujuan akhirnya.  

Baca Yang lain

Alam Gaib dan Alam Nyata dalam Pandangan Dunia Tauhid (2)

Alam Gaib dan Alam Nyata dalam Pandangan Dunia Tauhid (2) Pada akhirnya, iman kepada gaib bukanlah sekadar kepercayaan dogmatis, melainkan pintu menuju pandangan dunia yang lebih dalam. Ia menuntun manusia untuk tidak berhenti pada apa yang tampak, melainkan menembus hingga ke akar realitas. Dengan iman ini, manusia tidak hanya hidup di dunia nyata, tetapi juga senantiasa tersambung dengan dunia gaib yang menjadi asal sekaligus tujuan akhirnya.

Baca Yang lain