Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Keluarga & Masyarakat

Pendidikan Sebelum Penyelewengan

Pendidikan Sebelum Penyelewengan

Pesan tidak langsung yang sangat kuat dalam wasiat ini adalah pentingnya islah (pembenahan) sebelum inhiraf (penyimpangan). Imam Ali as seakan berkata: jangan menunggu hati ternoda baru membersihkannya. Karena dosa yang menumpuk akan mematikan sensitivitas moral.  

Baca Yang lain

Menghargai Kesempatan Sebelum Hilang

Menghargai Kesempatan Sebelum Hilang “Kesempatan berlalu seperti awan; maka tangkaplah kebaikan ketika ia datang.” (Ghurar al-Hikam, no. 2904)  

Baca Yang lain

Merajut Syukur dalam Keseharian

Merajut Syukur dalam Keseharian Dalam kehidupan praktis, bagaimana kita menghidupi ajaran ini? Mulailah dari hal sederhana. Di pagi hari, sebelum menyentuh gawai, ucapkan Hamdalah (Alhamdulillahi robbil ‘alamin) dilanjutkan dengan Shalawat Nabi Saw terima kasih untuk napas pertama yang masuk ke paru-paru. Saat minum air, jangan lupa Basmalah, rasakan kesegaran yang mengalir, dan ucapkan syukur dengan mengingat Kekasih Allah yang kehausan saat Syahidnya (Cucu Nabi Saw, Imam Husain as), dilanjutkan dengan Hamdalah.

Baca Yang lain

Metode Nasihat yang Beradab

Metode Nasihat yang Beradab Salah satu keistimewaan wasiat ini adalah cara penyampaiannya. Imam Ali as tidak menakut-nakuti anaknya dengan ancaman kematian sang anak, tetapi berbicara tentang dirinya sendiri. Ini menunjukkan etika komunikasi yang tinggi. Beliau menjaga agar nasihat tidak melukai harga diri mitra bicara.  

Baca Yang lain

Maqam yang Menghantarkan pada Surga Tanpa Hisab

Maqam yang Menghantarkan pada Surga Tanpa Hisab Maka doa memohon “kesabaran orang-orang yang bersyukur” bukanlah permintaan biasa. Ini adalah permohonan untuk diberi mata yang selalu menemukan cahaya (bashirah), hati yang tak mudah rapuh, dan jiwa yang tetap tenang karena yakin —bahwa tidak ada yang terjadi kecuali seizin Yang Maha Pengasih.   

Baca Yang lain

Syukur sebagai Jalan Menuju Sabar

Syukur sebagai Jalan Menuju Sabar Inilah benang merah yang mengikat semua: syukur mengubah cara pandang kita terhadap ujian. Ketika hati terbiasa menghitung nikmat, ia akan lebih mudah menerima bahwa di balik setiap kesulitan, ada tangan Kasih yang sama yang selama ini memberi tanpa henti. Ujian bukan lagi tembok penghalang, melainkan pintu yang mengantar kita pada pemahaman lebih dalam tentang hakikat kehidupan.   

Baca Yang lain

Temuan Psikologi Positif: Sains Mendukung Spiritualitas

Temuan Psikologi Positif: Sains Mendukung Spiritualitas Menariknya, penelitian terkini dalam bidang psikologi positif, khususnya dalam The Art of Gratitude, mengungkapkan temuan yang memukau tentang kekuatan rasa syukur. Para peneliti menemukan bahwa praktik bersyukur secara konsisten mengubah struktur neural otak kita. Profesor Robert Emmons dari University of California, salah satu pionir penelitian gratitude, menemukan bahwa orang-orang yang secara rutin menghitung berkat mereka mengalami peningkatan signifikan dalam kesejahteraan psikologis dan ketahanan mental.   

Baca Yang lain

Ketika Ujian Datang Mengetuk

Ketika Ujian Datang Mengetuk Dalam setiap ujian dan musibah, mari kita mohon taufik pada Allah untuk selalu menampakkan sisi indahnya. Ini bukan berarti menutup mata pada kesulitan, melainkan membuka hati untuk melihat hikmah yang tersembunyi. Sehingga dalam setiap ujian dan musibah, kita sampai pada suatu keadaan di mana hati kita tetap yakin bahwa tidak ada yang terjadi kecuali atas izin Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang—hanya saja mungkin kita belum memahami hikmah dan hakikat sebenarnya peristiwa.   

Baca Yang lain

Benang Merah yang Menghubungkan Semesta

Benang Merah yang Menghubungkan Semesta Allahumma innī as’aluka ṣabra ash-shākirīna laka. Hikmahnya? Mari kita tingkatkan kesabaran dengan perbanyak bersyukur pada-Nya melalui perbanyak berterima kasih.    

Baca Yang lain

Kesabaran yang Hidup dalam Syukur

Kesabaran yang Hidup dalam Syukur Pada akhirnya, kesabaran sejati bukan tentang bertahan dalam kepahitan, melainkan tentang tetap merasakan manisnya kehidupan bahkan ketika lidah sedang mengecap getir. Dan syukur adalah kunci yang membuka pintu menuju maqam mulia itu. Dan kunci syukur adalah, tidak pernah kehilangan “penglihatan”, “ bashirah” serta kemampuan Hermeneutik (penafsiran) yang menembus ke realitas tertinggi. Yakni, bahwa Ia Yang Maha Pengasih yang jauh lebih sayang pada kita semua ketimbang Ayah Ibu kita ada di balik ini semua.   

Baca Yang lain

‘Afiyah Disebut sebagai Pakaian Terindah

‘Afiyah Disebut sebagai Pakaian Terindah Membuat akal tetap jernih, hati tetap bersinar dan jiwa tetap lapang di tengah-tengah badai kehidupan sehingga tidak kehilangan kesadaran dan kemampuannya untuk menemukan sesuatu yang lebih tinggi dan dalam   

Baca Yang lain

Wasiat sebagai Kesadaran Akan Waktu

Wasiat sebagai Kesadaran Akan Waktu Imam Ali as menyebut dua alasan utama mengapa wasiat ini disampaikan dengan segera. Pertama, karena sang anak telah mencapai usia kesiapan intelektual dan spiritual. Kedua, karena beliau menyadari bahwa usia tua membawa keterbatasan, baik fisik maupun mental. Kesadaran ini menunjukkan bahwa Islam memandang waktu sebagai amanah yang harus dimanfaatkan sebelum ia menjadi penyesalan.  

Baca Yang lain

Musibah Diri dan Kebutuhan Akan ‘Afiyah (1)

Musibah Diri dan Kebutuhan Akan ‘Afiyah (1) Imam ‘Ali bin Abi Thalib as menasihatkan agar kita selalu memohon ‘afiyah kepada Allah, khususnya ketika menghadapi tekanan dan beratnya ujian. Beliau berkata bahwa tekanan dan beratnya ujian-ujian kehidupan itu bisa menghilangkan agama seseorang—yakni melemahkan iman dan meruntuhkan ketakwaannya—(Al-Khishal, jilid 3, halaman 177)    

Baca Yang lain

“Alhamdulillah, Aku Bersyukur, Aku Ikhlas, Aku Sehat…”; Dampak Perkataan serta Pikiran Positif dan Negatif (3)

“Alhamdulillah, Aku Bersyukur, Aku Ikhlas, Aku Sehat…”; Dampak Perkataan serta Pikiran Positif dan Negatif (3) Dalam perspektif Islam, kata-kata baik seperti istigfar, syukur, dan ikhlas memiliki hubungan yang sangat erat dengan kelapangan hati dan kelimpahan rezeki. Sebaliknya, sering mengeluh berkaitan dengan sempitnya jiwa dan terasa seretnya rezeki. Hubungan ini dapat dijelaskan dari sisi dalil, makna batin, dan dampak nyata dalam kehidupan.  

Baca Yang lain

“Alhamdulillah, Aku Bersyukur, Aku Ikhlas, Aku Sehat…”; Dampak Perkataan serta Pikiran Positif dan Negatif (2)

“Alhamdulillah, Aku Bersyukur, Aku Ikhlas, Aku Sehat…”; Dampak Perkataan serta Pikiran Positif dan Negatif (2) Hal ini juga menjelaskan mengapa kita dianjurkan untuk melakukan afirmasi diri, seperti: “aku sehat, aku bahagia, aku ikhlas, aku bersyukur, aku berlimpah”. Tubuh yang sebagian besar terdiri dari cairan akan merespons perkataan sebagaimana yang ditunjukkan dalam penelitian Masaru Emoto.

Baca Yang lain

“Alhamdulillah, Aku Bersyukur, Aku Ikhlas, Aku Sehat…”; Dampak Perkataan serta Pikiran Positif dan Negatif (1)

“Alhamdulillah, Aku Bersyukur, Aku Ikhlas, Aku Sehat…”; Dampak Perkataan serta Pikiran Positif dan Negatif (1) Alhamdulillah, terima kasih, aku bersyukur, aku ikhlas, aku sehat, aku bahagia, adalah kata-kata yang seyogianya menjadi dzikir harian. Dalam kondisi sesulit apa pun, kita tetap berusaha berkata dan berpikir positif serta tidak mudah mengeluarkan keluhan dan kata-kata negatif. Kita belajar mengambil hikmah dari setiap peristiwa. 

Baca Yang lain

Ketika Kesabaran Dipakai untuk Menutup Kezaliman (1)

Ketika Kesabaran Dipakai untuk Menutup Kezaliman (1) Sabar sejati bukan berhenti bicara, tetapi bicara dengan hikmah. Sabar sejati bukan menahan diri dari marah saja, tetapi memastikan kemarahan diarahkan untuk memperbaiki, bukan menghancurkan. Sabar sejati tidak membiarkan pemerintah berbuat sesuka hati tanpa pertanggungjawaban. Sabar sejati adalah kemampuan menjaga kejernihan hati sambil tetap memperjuangkan hak dan kebenaran.  

Baca Yang lain

Keutamaan Dan Anjuran Untuk Menikah Dan Membangun Bahtera Rumah Tangga

Keutamaan Dan Anjuran Untuk Menikah Dan Membangun Bahtera Rumah Tangga Menikahlah kalian, karena menikah adalah Sunnah/ajaran Rasulullah saw., karena sesungguhnya beliau  saw. bersabda: ‘Siapa yang mencintai Sunnahku, maka sesungguhnya termasuk dari Sunnahku adalah menikah, dan perbanyaklah anak dengan pernikahan itu.

Baca Yang lain

Lima Ciri Terbaik dari Hamba-Hamba Allah (2)

Lima Ciri Terbaik dari Hamba-Hamba Allah (2) Pertama, seseorang melakukan amal dengan niat ikhlas dan secara tersembunyi, namun bila amal itu kemudian diketahui orang lain, ia merasa senang.   

Baca Yang lain

Lima Ciri Terbaik dari Hamba-Hamba Allah (1)

Lima Ciri Terbaik dari Hamba-Hamba Allah (1) Kegembiraan seperti ini bersifat murni spiritual dan ruhani, bukan karena riya, bukan karena ‘ujub (bangga diri), melainkan karena jiwanya merasakan kedekatan dan kerelaan Ilahi setelah melakukan amal kebajikan.   

Baca Yang lain