Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Keluarga & Masyarakat

Figur Ayah dalam Membangun Keluarga Maslahah 5

Figur Ayah dalam Membangun Keluarga Maslahah 5

Pada akhirnya, keluarga maslahah tidak lahir dengan sendirinya. Ia dibangun melalui kepemimpinan yang dilandasi iman, ilmu, hikmah, kasih sayang, komunikasi yang sehat, kedisiplinan, dan keteladanan. Seorang ayah bukan hanya pemimpin rumah tangga, tetapi juga penjaga nilai, pendidik generasi, pelindung keluarga, dan pewaris akhlak. Ketika ia menjalankan seluruh amanah tersebut dengan baik, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga melahirkan masyarakat yang harmonis, bangsa yang kuat, dan peradaban yang bermartabat.

Baca Yang lain

Kritik Rumi terhadap Pemimpin Zalim

Kritik Rumi terhadap Pemimpin Zalim Selama ini Rumi kerap dibaca sebagai penyair cinta ilahi dan pengalaman mistik personal. Namun pembacaan yang lebih cermat atas Masnawi memperlihatkan sisi lain yang tak banyak diketahui yang membuktikan bahwa Rumi adalah seorang sufi progresif.

Baca Yang lain

Kezaliman: Menggali Lubang bagi Diri Sendiri 2

Kezaliman: Menggali Lubang bagi Diri Sendiri 2 Karena kezaliman para penindas, dunia pun menjadi gelap. Beginilah pesan yang disampaikan para bijak. Siapa yang semakin zalim, lubang yang ia gali akan semakin semakin mengerikan.

Baca Yang lain

Kezaliman: Menggali Lubang bagi Diri Sendiri 1

Kezaliman: Menggali Lubang bagi Diri Sendiri 1 Rumi memulai kritiknya dengan metafora yang sederhana namun menghantam: kezaliman menciptakan kegelapan. Ia menegaskan bahwa penindasan bukanlah kemenangan, melainkan proses menghancurkan diri sendiri secara perlahan.  

Baca Yang lain

Ketika Kekuasaan di Tangan yang Salah 2

Ketika Kekuasaan di Tangan yang Salah 2 Ketika kekuasaan jatuh ke tangan orang yang keliru, jangan heran jika kehormatan pun ikut jatuh bersamanya. Ia tak tahu arah dan hanya bergerak serampangan, jiwanya yang rusak membuat dunia ikut terbakar.

Baca Yang lain

Ketika Kekuasaan di Tangan yang Salah 1

Ketika Kekuasaan di Tangan yang Salah 1 Kritik Rumi semakin tajam ketika ia menyinggung soal paling menentukan dalam kehidupan publik: siapa yang memegang kendali. Ketika kekuasaan jatuh ke tangan orang yang keliru, kehormatan runtuh, arah hilang, dan dunia ikut terbakar.  

Baca Yang lain

Ketika Kekuasaan Membungkam Para Pembawa Nurani 2

Ketika Kekuasaan Membungkam Para Pembawa Nurani 2 Ketika kekuasaan berada di tangan orang-orang licik, tak heran jika Dzu al-Nun pun harus mendekam dalam penjara. Saat pena dipegang oleh para pengkhianat, jangan heran bila Mansur berakhir di tiang gantungan.

Baca Yang lain

Ketika Kekuasaan Membungkam Para Pembawa Nurani 1

Ketika Kekuasaan Membungkam Para Pembawa Nurani 1 Rumi tidak hanya mengkritik penguasa, tetapi juga menunjukkan siapa yang pertama kali menjadi korban sistem yang rusak: mereka yang jujur, arif, dan membawa nurani.  

Baca Yang lain

Harapan Perubahan: Kolam yang Jernih 2

Harapan Perubahan: Kolam yang Jernih 2 Sifat seorang raja akan terserap dalam diri rakyatnya, bahkan arah hidup sebuah negeri bisa berubah karenanya. Raja laksana sebuah kolam, dan rakyatnya seperti pipa-pipa yang menjulur ke segala arah. Air yang mengalir melalui pipa-pipa itu berasal dari satu kolam yang sama.

Baca Yang lain

Harapan Perubahan: Kolam yang Jernih 1

Harapan Perubahan: Kolam yang Jernih 1 Namun Rumi bukan hanya penyair kecaman; ia juga menawarkan arah perbaikan. Dalam perumpamaan “kolam dan pipa”, Rumi menunjukkan bahwa keadaan rakyat sangat bergantung pada kualitas pusat kekuasaan. Pandangan ini nampaknya terinspirasi dari Al-Ghazali yang dituangkan dalam bulu Nasihat al-Muluk. Rumi dalam kitab Masnawi bersenandung:  

Baca Yang lain

Harapan itu Masih Ada

Harapan itu Masih Ada Pesan Rumi untuk zaman kita terasa terang dan mendesak. Kekuasaan yang zalim sedang menggali lubang yang pada akhirnya menelan semua, baik penguasa itu maupun rakyat. Kebodohan yang diberi panggung membakar segala asset yang kita miliki.

Baca Yang lain

Mengingat Mati, Mencintai Hidup

Mengingat Mati, Mencintai Hidup Semakin seseorang sadar bahwa hidup di dunia terbatas, semakin ia menghargai setiap detik kehidupannya. Hubungan dengan keluarga menjadi lebih hangat. Kesempatan berbuat baik menjadi lebih berharga. Kesombongan kehilangan tempatnya.  

Baca Yang lain

Di Mana Letak Perbedaannya dengan Komaruddin Hidayat mengenai kematian?

Di Mana Letak Perbedaannya dengan Komaruddin Hidayat mengenai kematian? Penulis menemukan bahwa kedua tokoh sama-sama mengajak manusia tidak takut kepada kematian. Namun jalur yang ditempuh berbeda. Komaruddin Hidayat lebih banyak menggunakan pendekatan psikologis. Ia mengajak manusia berdamai dengan kematian melalui optimisme, refleksi, dan pencarian makna hidup.

Baca Yang lain

Mengapa Kita Takut Mati?

Mengapa Kita Takut Mati? Menurut Kang Jalal, rasa takut sering kali lahir bukan karena kematian itu sendiri, tetapi karena manusia tidak mengenalnya. Ketidaktahuan melahirkan kecemasan. Sebaliknya, pengetahuan yang benar melahirkan ketenangan.  

Baca Yang lain

Tasawuf Membuat Kematian Terlihat Berbeda

Tasawuf Membuat Kematian Terlihat Berbeda Tasawuf (ilmu yang membahas penyucian hati dan perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Allah) memandang kematian bukan sekadar peristiwa biologis. Yang mati hanyalah jasad, sedangkan ruh tetap melanjutkan perjalanan.  

Baca Yang lain

Kang Jalal Mengubah Cara Kita Melihat Kematian

Kang Jalal Mengubah Cara Kita Melihat Kematian Banyak orang memandang kematian sebagai akhir perjalanan. Kang Jalal justru mengajak melihatnya sebagai awal perjalanan berikutnya. Dalam pandangannya, manusia bukan sekadar tubuh yang suatu hari berhenti bekerja. Yang sejati adalah ruh. Tubuh hanyalah kendaraan selama berada di dunia. Ketika kendaraan itu selesai menjalankan tugasnya, perjalanan tidak berhenti. Yang berubah hanyalah alam yang ditempati.

Baca Yang lain

Semua Orang Takut Mati. Tetapi Mengapa?

Semua Orang Takut Mati. Tetapi Mengapa? Dalam skripsi ini, Sal Sabillah Nikmatus Solikah membangun analisisnya dengan merujuk pada karya-karya KH. Jalaluddin Rakhmat yang membahas kematian, tasawuf, dan kehidupan spiritual, terutama buku Memaknai Kematian, kemudian membandingkannya dengan karya-karya Prof. Komaruddin Hidayat mengenai tema yang sama. Pendekatan komparatif tersebut memperlihatkan kekhasan Kang Jalal dalam memandang kematian sebagai perjalanan ruh menuju Allah, bukan sekadar akhir kehidupan biologis.  

Baca Yang lain

Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 4

Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 4 Riwayat-riwayat tersebut berbicara soal dampak dari sekadar beranggapan dan merasa-rasa tentang diri sendiri. Anggapan kita tentang diri kita sendiri pun ternyata memiliki dampak spiritual. Apa yang menjelma dan mengakar di dalam hati dan pikiran merupakan cerminan dari tingkat perjalanan batin dan penghambaan kita. Apa yang terus-menerus dipikirkan, diyakini, dan dirasakan perlahan menjadi sifat yang menetap. 

Baca Yang lain

Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 3

Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 3 Juga ada riwayat dari Imam Ja’far al-Shadiq as bahwa ketika seseorang merasa amal kebaikannya sudah banyak maka setan tidak perlu lagi menggodanya karena dengan merasa seperti itu amalnya tidak akan diterima (Al-Khishal, jilid 1, halaman 112, no. 86). Merasa puas dengan amal, menghitung-hitung amal sehingga menganggap kebaikannya sudah banyak, dan menjadikan amal sebagai sandaran, semua ini akan menjadikan seseorang merasa aman-aman saja dalam perjalanan. Rasa aman inilah yang menghambat bahkan mematikan perjalanan karena perjalanan sejati justru hidup dari rasa butuh yang terus menerus. Bagaimana mungkin ia merasa butuh, sedang ia tidak merasa kurang?  

Baca Yang lain

Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 2

Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 2 Ada beberapa riwayat Ahlul Bait as berhubungan dangan pembahasan ini. Di antaranya, diriwayatkan dari Imam ‘Ali bin Abi Thalib as: man kana ‘inda nafsihi ‘azhiman, kana ‘indallah haqiran. Barangsiapa yang menganggap dirinya besar dan hebat, maka hakikatnya dia sangat hina dan rendah di sisi Allah (Ghurar al-Hikam, no. 8609). 

Baca Yang lain