Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Induksi dalam Perspektif Gradasi Wujud (2)

0 Pendapat 00.0 / 5

Falasi Generalisasi 

Bertrand Russell (1872-1970) dalam The Problems of Philosophy dan sejumlah esainya tentang induksi mengkritik apa yang disebutnya sebagai “induksi melalui enumerasi sederhana” atau hasty generalisation. Russell menunjukkan bahwa penalaran berbentuk “karena A1, A2, hingga An memiliki sifat P, maka semua A memiliki sifat P” merupakan falasi logis yang dikenal sebagai hasty generalization atau generalisasi tergesa-gesa. 

Russell terkenal dengan parabelnya tentang ayam induktif. Seekor ayam mengamati bahwa setiap hari petani memberinya makan. Pada hari pertama, ayam berpikir ini mungkin kebetulan. Pada hari kesepuluh, ayam mulai merasa ada pola. Pada hari keseratus, ayam memiliki tingkat kepercayaan sembilan puluh persen. Pada hari keseribu, ayam memiliki keyakinan hampir absolut bahwa petani akan selalu memberinya makan. Namun pada pagi hari Natal, petani datang bukan dengan makanan, melainkan dengan pisau. Kepastian induktif yang dibangun dari seribu hari pengalaman ternyata sama sekali tidak valid pada hari keseribu satu. Russell menegaskan bahwa kuantitas observasi tidak menjamin validitas kesimpulan induktif. Induksi enumeratif sederhana, betapapun banyaknya data yang dikumpulkan, tetaplah merupakan kesalahan logis.

Paradoks Grue 

Nelson Goodman (1906-1998) dalam Fact, Fiction, and Forecast mengajukan apa yang disebutnya sebagai “teka-teki baru tentang induksi” atau New Riddle of Induction melalui paradoks “grue“. Goodman menciptakan predikat baru yaitu “grue” yang didefinisikan sebagai “hijau jika diamati sebelum tahun 2100, dan biru jika diamati setelahnya”. Sampai saat ini, di tahun 2025, semua zamrud yang kita amati berwarna hijau, dan karenanya juga “grue” (karena belum melewati tahun 2100). 

Berdasarkan observasi yang sama, kita dapat membentuk dua hipotesis induktif yang berbeda. Hipotesis pertama menyatakan “semua zamrud hijau”, yang memprediksi zamrud akan tetap hijau selamanya. Hipotesis kedua menyatakan “semua zamrud grue“, yang memprediksi zamrud akan berubah menjadi biru setelah tahun 2100. Kedua hipotesis ini sama-sama didukung oleh seluruh bukti empiris yang ada hingga saat ini, namun memberikan prediksi yang saling bertentangan untuk masa depan. Goodman menunjukkan bahwa tidak ada kriteria objektif atau netral untuk memilih hipotesis mana yang lebih valid. Ini berarti validitas induksi relatif terhadap pilihan bahasa atau sistem predikat yang digunakan, yang pada dasarnya bersifat arbitrer. 

Paradigma dan Relativitas Induksi 

Thomas Kuhn (1922-1996) dalam The Structure of Scientific Revolutions mengajukan kritik terhadap pandangan bahwa sains berkembang secara kumulatif dan objektif melalui induksi. Kuhn berpendapat bahwa ilmuwan tidak melakukan induksi dalam ruang hampa, melainkan selalu dalam konteks paradigma tertentu. Paradigma adalah kerangka kerja konseptual yang menentukan masalah apa yang dianggap penting, metode apa yang dianggap valid, dan bagaimana data harus diinterpretasikan. 

Kuhn menunjukkan bahwa data empiris yang sama dapat diinduksi menjadi kesimpulan yang sangat berbeda tergantung pada paradigma yang digunakan. Sebagai contoh, dalam paradigma fisika Newton, pengamatan terhadap gerakan planet-planet menghasilkan induksi bahwa gravitasi adalah gaya tarik-menarik antara massa. Namun dalam paradigma fisika Einstein, pengamatan yang sama diinduksi menjadi kesimpulan bahwa gravitasi adalah kelengkungan ruang-waktu. Pergeseran paradigma atau revolusi ilmiah bukan merupakan hasil dari akumulasi induktif yang rasional, melainkan perubahan fundamental dalam cara memandang realitas. Dengan demikian, Kuhn menunjukkan bahwa induksi bukanlah proses objektif dan linier, melainkan terdistorsi oleh teori dan keyakinan yang sudah ada, serta bersifat revolusioner dan tidak sepenuhnya rasional. 

Bersambung...