Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Takdir yang Selalu Terhubung dengan Kehendak Allah

0 Pendapat 00.0 / 5

Menurut pandangan Al-Qur’an dan Ahlulbait, seluruh sistem qadha dan takdir berjalan di bawah kehendak Allah secara langsung, bukan hanya pada momen penciptaan awal. Alam semesta dan manusia tidak pernah mandiri dari kehendak-Nya. Bahkan setiap kehendak manusia sendiri berada dalam lingkup kehendak Allah.

Allah Swt. berfirman:

“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS At-Takwir: 29)

Juga ditegaskan dalam firman lain:

“Kamu tidak mampu (menempuh jalan-Nya) kecuali bila dikehendaki Allah.”
(QS Al-Insan: 30)

Pandangan ini memperoleh penjelasan yang lebih mendalam dari riwayat-riwayat Ahlulbait. Dalam riwayat dari Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Ash-Shaduq, Allah berfirman kepada anak Adam:

“Dengan kehendak-Ku kalian berkehendak… Dengan nikmat-Ku kalian mampu bermaksiat kepada-Ku, dan dengan penjagaan-Ku kalian mampu menaati-Ku.”

Ungkapan ini menggambarkan hubungan antara kehendak manusia dan kehendak Allah: manusia memiliki kehendak dan tanggung jawab, tetapi kekuatan dan kemampuan itu diberikan Allah, bukan muncul secara independen.

Imam Ali as ketika ditanya tentang perjalanan ke Shiffin menjelaskan bahwa Allah tidak menyerahkan seluruh kekuasaan kepada manusia hingga mereka menjadi otonom sepenuhnya. Artinya, manusia tidak berjalan dengan kuasa Allah yang dicabut darinya, dan tidak pula memiliki kuasa sejajar dengan Allah.