Tiga Kelompok dalam Memahami Takdir
Imam Ja’far ash-Shadiq as menjelaskan bahwa manusia terbagi dalam tiga kelompok dalam memahami takdir:
1. Kelompok yang meyakini manusia dipaksa oleh Allah.
Ini adalah kezaliman terhadap Allah karena menisbatkan keburukan kepada-Nya.
2. Kelompok yang meyakini Allah telah melepaskan urusan kepada manusia secara penuh.
Ini merendahkan kekuasaan Allah.
3. Kelompok yang meyakini bahwa Allah mewajibkan kepada manusia sesuai kemampuan mereka, dan tidak membebani mereka di luar batas.
Mereka memuji Allah ketika berbuat baik dan memohon ampun ketika berbuat buruk. Inilah kelompok Muslim yang benar. Konsep ini dikenal sebagai “al-amru bayna al-amrayn”—bukan jabr (pemaksaan), bukan tafwidh (pendelegasian total), tetapi posisi tengah yang adil dan seimbang.
Perbuatan Manusia dan Lingkup Takdir Ilahi
Jika segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah, maka perbuatan manusia—baik maupun buruk—berlangsung dalam wilayah kehendak-Nya. Al-Qur’an menegaskan:
“Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengannya, kecuali dengan izin Allah.” (QS Al-Baqarah: 102)
“Kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya.” (QS Al-An’am: 137)
Namun, penting untuk dipahami: Allah tidak memaksa manusia bermaksiat. Manusia bermaksiat menggunakan kemampuan yang diberikan Allah kepadanya, tetapi penggunaan kemampuan itu bertentangan dengan perintah-Nya.
Imam ash-Shadiq as menegaskan:
“Allah tidak memaksa seseorang bermaksiat, dan tidak menghendaki kekufuran dari siapa pun. Namun ketika seseorang memilih kufur, itu terjadi dalam lingkup pengetahuan dan kehendak (izniyyah) Allah, bukan kehendak kepastian (ijbariyyah).”
Artinya, Allah mengetahui, mengizinkan dalam arti memberi ruang eksistensial, namun tidak memerintahkan atau meridai.

