Jalan Tengah Ahlulbait dalam Memahami Takdir
Salah satu persoalan akidah yang kerap menimbulkan perdebatan panjang adalah bagaimana memahami qadha dan takdir Allah. Banyak orang beranggapan bahwa Allah menciptakan sistem takdir dan hukum-hukum alam, lalu membiarkannya berjalan begitu saja tanpa keterlibatan-Nya. Mereka membayangkan alam seperti pabrik otomatis: seorang insinyur merancang mesin, menyalakannya, lalu pergi—dan mesin itu bekerja sendiri tanpa kehadirannya.
Pemahaman seperti ini merupakan warisan teologi lama kaum Yahudi, yang menyatakan bahwa setelah Allah menciptakan alam, Dia tidak lagi terlibat dalam pengaturannya. Pandangan ini ditegaskan dalam firman Allah:
“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu.'” (QS Al-Maidah: 64)
Al-Qur’an menolak konsep tersebut dan menegaskan sebaliknya: “Tetapi kedua tangan Allah terbuka.” Allah tidak pernah berhenti mengurus, mengawasi, dan menopang seluruh ciptaan-Nya. Dia Mahahidup, tidak mengantuk, dan tidak tidur. Kehadiran-Nya tidak pernah terputus sesaat pun dari segala sesuatu di alam semesta.
Kesimpulan
Ajaran Ahlulbait memberikan fondasi yang seimbang dan jauh dari ekstrem:
1. Tidak seperti kaum Jabariyyah yang meniadakan kehendak manusia,
2. Tidak seperti kaum Muktazilah dan sebagian filosof yang menihilkan kehadiran Allah setelah penciptaan.
Ahlulbait menawarkan jalan tengah:
Manusia memilih, tetapi Allah mengizinkan.
Manusia berkehendak, tetapi Allah memberi kemampuan.
Manusia bertindak, tetapi Allah tetap menjadi Pengatur yang tidak pernah berhenti.
Ajaran ini memperlihatkan betapa dekatnya Allah dengan hamba-hamba-Nya, sekaligus menegaskan tanggung jawab moral manusia. Takdir bukan pembenaran untuk pasrah, dan kehendak bukan alasan untuk sombong.
Inilah keseimbangan tauhid: Allah tidak jauh dari kita—Dia hadir dalam setiap keputusan, setiap langkah, dan setiap peristiwa.

