Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Relevansi kontemporer: melawan ageisme epistemik

0 Pendapat 00.0 / 5

Studi kasus Muhammad al-Jawād memiliki relevansi langsung terhadap isu kontemporer tentang ageisme epistemik—yaitu kecenderungan untuk mendiskreditkan atau meremehkan pengetahuan seseorang semata-mata berdasarkan usia mereka, baik terlalu muda maupun terlalu tua.

Dalam konteks kaum muda, ageisme epistemik sering muncul dalam bentuk:

– “Kamu masih terlalu muda untuk mengerti.”

– “Tunggu sampai kamu lebih berpengalaman.”

– “Generasi muda tidak tahu apa-apa tentang realitas.”

Pernyataan-pernyataan semacam ini bukanlah kehati-hatian metodologis, melainkan bentuk diskriminasi intelektual yang dilegitimasi oleh norma sosial.

B. Kriteria epistemik yang adil

Jika kita serius tentang keadilan epistemik, kriteria untuk menilai klaim pengetahuan atau otoritas moral harus bersifat substantif, bukan kronologis:

– Koherensi argumen – Apakah argumen tersebut logis dan konsisten?

– Kualitas bukti – Apakah klaim didukung oleh data atau pengalaman yang dapat diverifikasi?

– Tanggung jawab intelektual – Apakah orang tersebut siap mempertanggungjawabkan klaim mereka dan merevisinya jika terbukti keliru?

– Konsistensi antara kata dan tindakan – Apakah ada keselarasan antara klaim moral dan perilaku aktual?

Usia dapat menjadi prediktor statistik bagi beberapa dari kriteria ini, tetapi ia tidak boleh menjadi penentu epistemik. Prediksi statistik menggambarkan kecenderungan umum; penentuan epistemik menggugurkan pengecualian sebelum diuji.