Kesimpulan: kapasitas mendahului konvensi
Pengalaman historis Muhammad al-Jawād—baik dalam literatur Syiah maupun Sunni—dan paralel modern dalam dunia akademik menunjukkan satu prinsip yang mendasar: kapasitas intelektual dan moral tidak terikat oleh kalender biologis.
Masyarakat memiliki hak untuk berhati-hati terhadap klaim otoritas, terutama dari individu yang tidak sesuai dengan ekspektasi konvensional. Tetapi kehati-hatian ini harus bersifat metodologis, bukan prasangka. Ia harus menguji klaim secara substantif, bukan menolaknya secara apriori berdasarkan usia.
Ketika tradisi Islam klasik dan sistem akademik modern sama-sama mampu mengakui otoritas belia, penolakan kontemporer terhadap kemungkinan ini tidak mencerminkan kearifan epistemik, melainkan kekakuan sosial yang tidak direfleksikan.
Muhammad al-Jawād mengingatkan kita—baik sebagai Muslim maupun sebagai manusia rasional—bahwa legitimasi tidak menunggu usia, tetapi mengikuti kapasitas. Dan kapasitas, ketika benar-benar hadir, menuntut pengakuan—bukan karena ia meminta, tetapi karena ia membuktikan.

