Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Kesabaran yang Hidup dalam Syukur

0 Pendapat 00.0 / 5

Pada akhirnya, kesabaran sejati bukan tentang bertahan dalam kepahitan, melainkan tentang tetap merasakan manisnya kehidupan bahkan ketika lidah sedang mengecap getir. Dan syukur adalah kunci yang membuka pintu menuju maqam mulia itu. Dan kunci syukur adalah, tidak pernah kehilangan “penglihatan”, “ bashirah” serta kemampuan Hermeneutik (penafsiran) yang menembus ke realitas tertinggi. Yakni, bahwa Ia Yang Maha Pengasih yang jauh lebih sayang pada kita semua ketimbang Ayah Ibu kita ada di balik ini semua. 

Ketika ujian datang—dan ujian pasti akan datang—hati yang terlatih dalam syukur tidak akan bertanya, “Mengapa ini terjadi pada saya?” tetapi akan bergumam lembut, “Apa yang Engkau ingin aku pelajari dari ini, ya Allah?” Pertanyaan ini mengubah posisi kita dari korban menjadi murid, dari yang pasrah menjadi yang aktif mencari makna.

Allahyarham KH. Jalaluddin Rakhmat mengajarkan suatu peribahasa yang secara maknawinya adalah sebagai berikut:  « Aimer, ce n’est pas dire “mais”, c’est dire “malgré”. » 
Mencintai bukan mengatakan “tetapi”, melainkan mengatakan “walaupun”. (Albert Camus) 
« Aimer, c’est savoir dire je t’aime sans condition. » 
Mencintai adalah mampu berkata aku mencintaimu tanpa syarat. (Victor Hugo) 
« L’amour n’est pas un “mais”, mais un “malgré » 
“Cinta bukanlah sebuah ‘tetapi’, melainkan sebuah ‘walaupun’.”

Dengan demikian, perjalanan spiritual kita di bulan Rajab ini menjadi perjalanan melatih hati—melatihnya untuk melihat kebaikan, melatihnya untuk bersyukur dalam setiap keadaan, dan pada akhirnya, melatihnya untuk bersabar dengan cara yang paling indah: kesabaran yang lahir dari hati yang penuh syukur, yang melihat setiap peristiwa sebagai manifestasi cinta dan kasih sayang-Nya yang tak terbatas. 

Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjalani praktik syukur ini, sehingga kesabaran tumbuh subur dalam jiwa kita, dan kita menjadi hamba-hamba yang bersyukur, yang sabar, yang akhirnya diperkenankan memasuki surga-Nya tanpa hisab. Dan ini sungguh bukanlah hasil dari amal-amal kita, namun hanya merupakan Rahmat-Nya semata yang ditebarkannya meliputi segenap ruang , waktu, hawa, peristiwa di bulan Rajab yang mulia ini…. Tentu, kita tetap harus berupaya sekuat tenaga berkhidmat pada-Nya juga melalui perkhidmatan pada sesama manusia pagi, siang dan malam; – namun tanpa sedikit pun merasa sudah melakukan amal baik. Apakah kita yakin amal kita 100 % ikhlash karena Allah, bebas dari riya’? Bebas dari ‘ujb? Bebas dari hasud? Dan al-muhlikaat yang lain? 

Wahai Yang hamba harapkan Ia atas semua Kebaikan. Karuniakan Sabarnya orang-orang yang Bersyukur dalam hari-hari kami, hingga menjadi malakah kami, dan karuniakan pada kami akhir yang baik. Demi Hak Rajab, dan Para Kekasih-Mu yang lahir pada bulan mulia ini. Juga demi hak Hari Mub’ats Nabi . Juga demi hak Syahadah Cucu Nabi Saw, Sayyidah Zainab al Kubro yang syahid di Tengah Bulan ini. 

Birohmatika Yaa Arhamar roohimiin 

Wa maa taufiiqii illa billah ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib. 

“Dan tidaklah taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali.”