Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Temuan Psikologi Positif: Sains Mendukung Spiritualitas

0 Pendapat 00.0 / 5

Menariknya, penelitian terkini dalam bidang psikologi positif, khususnya dalam The Art of Gratitude, mengungkapkan temuan yang memukau tentang kekuatan rasa syukur. Para peneliti menemukan bahwa praktik bersyukur secara konsisten mengubah struktur neural otak kita. Profesor Robert Emmons dari University of California, salah satu pionir penelitian gratitude, menemukan bahwa orang-orang yang secara rutin menghitung berkat mereka mengalami peningkatan signifikan dalam kesejahteraan psikologis dan ketahanan mental. 

Dalam studinya yang revolusioner, ditemukan bahwa praktik syukur selama 10 minggu meningkatkan kebahagiaan hingga 25 persen, mengurangi gejala depresi, dan yang paling menarik—meningkatkan kemampuan seseorang untuk menghadapi kesulitan dengan lebih tenang. Otak manusia, rupanya, memiliki apa yang disebut “bias negativity“—kecenderungan alami untuk lebih fokus pada hal-hal negatif sebagai mekanisme bertahan hidup. Namun praktik syukur secara konsisten melatih ulang otak untuk lebih peka terhadap hal-hal positif, menciptakan apa yang oleh neurosains disebut sebagai “neuroplastisitas“—kemampuan otak untuk membentuk jalur saraf baru. 

Dr. Martin Seligman, bapak psikologi positif, dalam penelitiannya menemukan bahwa menulis surat terima kasih dan mengekspresikannya secara langsung menghasilkan peningkatan kebahagiaan yang bertahan hingga berminggu-minggu setelahnya. Lebih dari itu, orang-orang yang bersyukur ternyata memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih baik, tidur lebih nyenyak, dan bahkan tekanan darah yang lebih rendah. 

Yang paling menakjubkan adalah temuan bahwa syukur membangun apa yang disebut “psychological resilience“—ketahanan psikologis. Orang-orang yang terbiasa bersyukur lebih mampu bangkit dari trauma, lebih cepat pulih dari stres, dan memiliki perspektif yang lebih sehat terhadap kesulitan hidup. Mereka tidak menolak realitas penderitaan, tetapi mampu melihatnya dalam konteks yang lebih luas—konteks di mana kebaikan tetap ada, bahkan di tengah kesulitan.