Standar Kebenaran: Al-Qur’an dan Hadis, Bukan Ilusi Spiritual
Ketika ciri-ciri Imam Mahdi as dikaji secara serius berdasarkan hadis-hadis Rasulullah saw yang sahih dan mutawatir, maka akan terbentuk pemahaman yang jernih tentang sosok agung ini. Pemahaman semacam ini berfungsi sebagai benteng akidah agar umat tidak mudah tertipu oleh individu-individu yang mempromosikan diri sebagai al-Mahdi dengan modal mimpi, intuisi, pengalaman spiritual, atau klaim kemampuan supranatural.
Para ulama salaf telah sepakat bahwa pengalaman personal—seperti mimpi, ilham, dan intuisi—tidak dapat dijadikan hujjah syar‘i. Agama tidak dibangun di atas perasaan subjektif, melainkan di atas wahyu yang terjaga: Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw yang sahih, hasan, atau mutawatir. Jalan inilah satu-satunya jalan yang selamat dalam memahami agama Islam.
Sebagian orang yang mengaku Imam Mahdi sering kali tampil dengan tutur kata manis, argumentasi yang tampak rapi, dan dalil-dalil yang sekilas meyakinkan. Namun hakikat yang mereka inginkan bukan kebenaran, melainkan pembenaran diri. Inilah bentuk kesesatan yang paling berbahaya: kebatilan yang menyamar sebagai kebenaran.

