Riwayat Panjang Tentang Keutamaan dan Kedahsyatan Hari Al-Ghadir Yang Jarang Diketahui 3
Hari al-Ghadir adalah hari berhias. Barangsiapa berhias untuk memuliakan hari al-Ghadir, Allah akan mengampuni seluruh dosanya, baik kecil maupun besar. Allah akan mengutus malaikat untuk menuliskan kebaikan baginya dan mengangkat derajatnya hingga datang hari al-Ghadir berikutnya. Jika ia meninggal, ia meninggal sebagai syahid; dan jika tetap hidup, ia hidup dalam kebahagiaan.
Barangsiapa memberi makan seorang mukmin pada hari itu, maka pahalanya seperti memberi makan seluruh nabi dan shiddiqin. Dan barangsiapa mengunjungi seorang mukmin pada hari itu, Allah akan memasukkan tujuh puluh cahaya ke dalam kuburnya, melapangkan kuburnya, serta setiap hari tujuh puluh ribu malaikat akan mengunjunginya dan memberi kabar gembira tentang surga.
Pada Hari al-Ghadir Allah menampakkan wilayah (Ahlul Bait) kepada para penduduk langit yang tujuh. Penduduk langit ketujuh adalah yang pertama menerimanya, maka Allah menghiasi ‘Arasy dengan wilayah itu. Kemudian penduduk langit keempat, lalu Allah menghiasi Baitul Ma’mur dengannya. Setelah itu penduduk langit dunia menerimanya, maka Allah menghiasi langit dengan bintang-bintang.
Kemudian wilayah itu ditampakkan kepada bumi-bumi. Kota Makkah yang pertama menerimanya, maka dihiasinya wilayah itu dengan Ka’bah. Setelah itu Madinah, maka Allah menghiasinya dengan Nabi Muhammad SAW. Kemudian Kufah menerimanya, maka Allah menghiasinya dengan Amirul Mu’minin Ali as.
Wilayah itu lalu ditampakkan kepada gunung-gunung. Tiga gunung pertama yang mengakuinya adalah gunung Akik, gunung Firuz (Pirus), dan gunung Yaqut. Karena itu gunung-gunung tersebut menjadi yang paling utama dan darinya berasal batu-batu mulia terbaik. Gunung-gunung lain kemudian mengikutinya sehingga menjadi sumber emas dan perak. Adapun gunung yang tidak menerima dan tidak mengakuinya menjadi tandus dan tidak menumbuhkan apa pun.
Pada hari itu wilayah juga ditampakkan kepada air. Air yang menerimanya menjadi segar, sedangkan yang mengingkarinya menjadi asin dan pahit. Wilayah ditampakkan pula kepada tumbuh-tumbuhan. Yang menerimanya menjadi manis dan baik, sedangkan yang tidak menerimanya menjadi pahit.
Wilayah itu juga ditampakkan kepada burung-burung. Burung yang menerimanya menjadi fasih dan merdu suaranya, sedangkan yang mengingkarinya menjadi bisu atau tidak jelas suaranya.
Perumpamaan orang-orang beriman dalam menerima wilayah Amirul Mu’minin pada hari al-Ghadir adalah seperti para malaikat yang bersujud kepada Adam. Sedangkan orang yang menolak wilayah Amirul Mu’minin pada hari al-Ghadir adalah seperti iblis (yang menolak bersujud)
Pada hari itulah turun ayat:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu…” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan hari pengutusannya memiliki kedudukan seperti hari al-Ghadir. Setiap nabi mengetahui kehormatan hari tersebut, karena pada hari itulah ditetapkan bagi umatnya seorang washi dan khalifah sepeninggalnya.

