MBG : Mimbar Baiat Ghadir 2
“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan… berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia…”
Kalimat “Allah memelihara engkau dari manusia” adalah kode keras dari langit. Ada kekhawatiran psikologis yang nyata bahwa pengumuman ini akan ditentang keras oleh oligarki kesukuan saat itu. Sesuatu yang diperintahkan untuk disampaikan ini jelas bukan lagi soal fikih formal—karena urusan shalat dan tata cara haji sudah tuntas diajarkan—melainkan soal siapa yang akan memegang kendali otoritas sistem setelah Nabi tiada.
Di bawah terik matahari yang membakar, Rasulullah SAW mengangkat tinggi tangan Imam Ali bin Abi Thalib, mendeklarasikannya sebagai Maula (pemimpin/otoritas) bagi seluruh umat. Begitu maklumat itu selesai diucapkan, langit langsung merespons secara instan dengan menurunkan Surat Al-Ma’idah ayat 3 (Ayat Ikmal):
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu…”
Agama menjadi sempurna bukan hanya karena teks sucinya selesai ditulis, melainkan karena sistem penjaganya (imamah) telah resmi dipasang langsung oleh “pabrikannya”.

