Berakhlak Mulia Kepada Orang Yang Dipekerjakan dan Menjaga Hak-Haknya 2
Selain itu, Baginda Rasulullah Muhammad SAW juga berpesan:
للمملوك طعامه وكسوته بالمعروف ولا يكلفه من العمل ما لا يطيق
“Orang yang berada dalam wewenangmu (pelayan/orang yang dipekerjakan) berhak mendapatkan makanan dan pakaian yang layak dan baik. Jangan bebankan pekerjaan yang ia tidak sanggup memikulnya” (Syu‘ab al-Iman, jilid 6, halaman 372)
Diriwayatkan juga kesaksian dari seseorang yang melayani Baginda Rasulullah Muhammad SAW, “Aku berkhidmat pada beliau selama 10 tahun. Beliau tidak pernah memukulku dan tidak pernah mengeluarkan kata-kata hinaan/perendahan kepadaku. Bahkan tidak pernah menampakkan raut wajah yang tidak enak kepadaku” (al-Mu’jam al-Ausath, jilid 6, halaman 123)
Hadis-hadis ini mengingatkan bahwa jika seseorang punya wewenang atau kuasa atas orang lain, dalam konteks ini orang-orang yang dipekerjakan (pembantu, pelayan, bawahan), itu bukan berarti ia boleh memperlakukan dan bersikap kepada mereka semau-maunya. Posisi seseorang sebagai pemberi upah (gaji) itu bukan berarti ia boleh menyakiti perasaan pelayannya dengan perangai yang buruk, kata-kata yang tidak beradab, atau sikap yang merendahkan. Posisi seseorang sebagai majikan bukan berarti ia boleh menekan atau memaksa pelayannya untuk menuruti semua hawa nafsu dan egonya, atau ia memarahinya semau-maunya dan membentak-bentak (bahkan ada yang disertai teriakan) di tempat kerja atas kesalahan dan hal-hal yang sepele atau dalam detail-detail pekerjaan yang sebenarnya tidak perlu direspon dengan sikap berlebihan. Semua ada timbangan dan ukurannya. Mempekerjakan seseorang bukan berarti menghilangkan kehormatan dan kebahagiaan orang itu.
Seakan tak ada ruang untuk empati, kendali diri dan mendengar hati nurani. Pemuliaan, penghormatan, keramahan dan kehati-hatian dalam bersikap hanya berlaku untuk keluarganya, rekan kerja dan bisnisnya, teman bergaulnya dan orang-orang yang melebihi dirinya secara materi atau status sosial. Adapun untuk orang-orang di bawahnya, ia bersikap seenaknya. Masa bodoh apa yang mereka rasakan, yang penting dirinya didengarkan dan kemauannya dituruti. Lebih miris lagi, ada kecenderungan majikan merasa tidak bersalah dan tetap membusungkan dada setelah memperlakukan pelayannya atau orang kecil dengan cara-cara yang tidak mengenakkan hati. Gengsi meminta maaf kepada orang yang bekerja melayani dirinya.

