Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Tasawuf Syi’i: Revolusi Besar Itu Dimulai dari Hati 1

0 Pendapat 00.0 / 5

Di zaman ketika orang berlomba memperbaiki dunia, Kang Jalal justru mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya, sudahkah kita memperbaiki hati?

Pertanyaan itu tampak sederhana. Namun di situlah sesungguhnya seluruh bangunan pemikiran tasawuf KH. Jalaluddin Rakhmat berdiri. Beliau meyakini bahwa perubahan masyarakat tidak pernah lahir dari kebencian, tidak pula dari banyaknya perdebatan. Perubahan selalu dimulai dari manusia. Dan perubahan manusia selalu dimulai dari hati.

Pandangan inilah yang mengantar seorang peneliti menjadikan Kang Jalal sebagai objek kajian dalam sebuah tesis berjudul Tasawuf Syi’i dalam Pemikiran Tasawuf Jalaluddin Rakhmat. Penelitian tersebut tidak lahir untuk menghakimi atau menempelkan identitas mazhab kepada Kang Jalal. Sebaliknya, penulis tesis ingin memahami satu hal yang lebih mendasar: mengapa hampir seluruh karya tasawuf Kang Jalal selalu berbicara tentang penyucian jiwa, cinta kepada Allah, akhlak, doa, dan perjalanan ruhani? Mengapa tema-tema itu begitu dominan sehingga membentuk corak spiritual yang khas dalam pemikiran beliau?

Pertanyaan itu membawa kita kepada sebuah istilah yang sering disalahpahami: Tasawuf Syi’i.

Selama ini, ketika mendengar kata Syi’i, sebagian orang langsung membayangkan perbedaan mazhab, sejarah politik, bahkan konflik yang berlangsung berabad-abad. Padahal, dalam tesis ini istilah Tasawuf Syi’i tidak ditempatkan pada wilayah polemik. Penulis menggunakannya sebagai istilah akademik untuk menjelaskan sebuah tradisi spiritual yang berkembang dalam khazanah Islam dan memiliki karakter tertentu dalam memahami perjalanan seorang hamba menuju Allah.

Sebelum sampai ke sana, penulis terlebih dahulu menjelaskan apa yang dimaksud dengan tasawuf.

Ia mengutip Fazlur Rahman yang melihat tasawuf sebagai gerakan pemurnian moral. Tasawuf lahir ketika sebagian umat Islam merasa bahwa kehidupan keagamaan mulai terlalu sibuk mengurus urusan dunia, sementara dimensi batin perlahan terabaikan. Karena itu, tasawuf mengajak manusia kembali kepada keikhlasan, ketakwaan, dan kesadaran bahwa hubungan dengan Allah harus menjadi pusat kehidupan. Akar-akar tasawuf sendiri, menurut Fazlur Rahman, tidak berada di luar Islam, melainkan tumbuh dari ajaran Al-Qur’an tentang iman, ikhlas, dan takwa.

Pandangan inilah yang kemudian menjadi pintu masuk Kang Jalal.