Tasawuf Syi’i: Revolusi Besar Itu Dimulai dari Hati 2
Beliau tidak pernah memandang tasawuf sebagai jalan yang terpisah dari Al-Qur’an dan Sunnah. Justru sebaliknya. Dalam berbagai tulisannya yang dikaji dalam tesis ini, Kang Jalal berulang kali menunjukkan bahwa tasawuf adalah usaha membersihkan diri dengan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah secara lebih mendalam. Ia bukan tambahan di luar agama, tetapi dimensi terdalam dari agama itu sendiri. BAB IV.pdf
Karena itu, menurut Kang Jalal, tasawuf tidak cukup dipahami sebagai pengalaman mistik atau latihan-latihan spiritual yang hanya dinikmati segelintir orang. Tasawuf harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ia harus tampak pada cara seseorang berbicara, bersikap, memperlakukan orang lain, dan menghadapi setiap ujian kehidupan.
Di sinilah letak keunikan pemikiran beliau.
⸻
Dalam tesis ini dijelaskan bahwa Kang Jalal membagi tasawuf ke dalam tiga wajah besar.
Yang pertama adalah tasawuf sebagai madzhab akhlak.
Bagi Kang Jalal, inilah fondasi seluruh perjalanan spiritual. Tasawuf mengajarkan akhlak, tetapi bukan hanya akhlak lahiriah yang mudah dilihat orang lain. Yang lebih penting adalah akhlak batin, yaitu proses panjang membersihkan hati dari kesombongan, iri hati, dengki, riya, cinta dunia, dan berbagai penyakit jiwa lainnya. Seluruh proses itu dikenal dalam tradisi Islam sebagai tazkiyatun nafs, penyucian jiwa.
Perhatikan cara Kang Jalal memulainya.
Beliau tidak berkata, “Kenalilah Allah terlebih dahulu.”
Beliau juga tidak berkata, “Carilah pengalaman-pengalaman ruhani.”
Beliau justru berkata, bersihkan dahulu hatimu.
Karena hati yang masih dipenuhi kesombongan tidak akan mampu menerima cahaya petunjuk.
Hati yang dipenuhi kebencian tidak akan mampu merasakan kasih sayang Allah.
Dan hati yang dipenuhi keinginan untuk selalu merasa benar tidak akan pernah mampu belajar dengan rendah hati.
Di sinilah tasawuf berubah menjadi sebuah revolusi.
Bukan revolusi politik.
Bukan revolusi sosial.
Tetapi revolusi batin.

