Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Puncak perjalanan itu disebut Kang Jalal sebagai tasawuf madzhab hakikat

0 Pendapat 00.0 / 5

Puncak perjalanan itu disebut Kang Jalal sebagai tasawuf madzhab hakikat.

Pada tahap ini, seorang hamba tidak lagi menjadikan Allah sekadar objek ibadah. Allah menjadi tujuan hidupnya. Seluruh perjalanan, seluruh kerinduan, seluruh harapan, seluruh cinta, akhirnya bermuara kepada-Nya. Seorang sufi berusaha melepaskan sifat-sifat rendah dalam dirinya agar semakin memantulkan sifat-sifat Allah berupa kasih sayang, keadilan, kelembutan, dan kebijaksanaan.

Bagi Kang Jalal, inilah makna terdalam tasawuf.

Tasawuf bukan meninggalkan dunia.

Tasawuf adalah menjalani dunia dengan hati yang telah berubah.

Bukan semakin jauh dari manusia.

Tetapi justru semakin dekat kepada manusia karena semakin dekat kepada Allah.

Dan di sinilah penulis tesis mulai menemukan alasan mengapa pemikiran Kang Jalal memiliki kedekatan dengan tradisi yang disebutnya sebagai Tasawuf Syi’i. Bukan karena persoalan identitas, melainkan karena penekanan yang sangat kuat pada penyucian jiwa, pendidikan akhlak, makrifat, dan perjalanan ruhani menuju Allah. Itulah fondasi yang akan dibangun lebih jauh dalam pembahasan-pembahasan berikutnya.

Kalau harus memilih satu kata yang paling sering muncul dalam perjalanan spiritual seorang sufi, mungkin jawabannya adalah taubat.

Tetapi Kang Jalal mengajak kita berhenti sejenak sebelum mengucapkan kata itu.

Apakah taubat hanya berarti menyesali dosa?

Apakah cukup seseorang menangis, lalu selesai?

Atau ada sesuatu yang jauh lebih dalam?

Dalam pembacaan Kang Jalal, taubat bukan sekadar penyesalan emosional. Taubat adalah gerakan pulang. Pulang dari kehidupan yang menjauh dari Allah menuju kehidupan yang semakin mendekat kepada-Nya. Karena itu, beliau mengingatkan bahwa dalam kitab Manazil al-Sairin, taubat bukan tujuan akhir perjalanan ruhani, melainkan salah satu maqam, satu tahapan yang harus dilalui sebelum seorang hamba naik kepada tahapan berikutnya seperti muhasabah dan inabah. Artinya, taubat adalah awal perubahan, bukan akhir perubahan.

Di sinilah Kang Jalal membuat pembedaan yang sangat menarik antara taubat dan istighfar.

Menurut beliau, keduanya sering diucapkan bersamaan, tetapi tidak berarti sama.

Taubat berarti kembali. Kembali meninggalkan jalan yang salah menuju jalan yang diridhai Allah. Sementara istighfar berarti memohon agar Allah menutupi akibat-akibat dari dosa yang pernah dilakukan. Kang Jalal menjelaskan bahwa setiap dosa meninggalkan jejak. Ada dosa yang memutus silaturahmi, ada yang menyempitkan rezeki, ada pula yang menghadirkan berbagai kesulitan dalam kehidupan. Karena itu, seseorang bukan hanya diminta berhenti dari dosanya, tetapi juga memohon agar Allah SWT menghapus akibat yang ditinggalkan dosa tersebut.

Penjelasan ini membuat taubat tidak lagi berhenti pada hubungan pribadi antara manusia dan Tuhannya.

Ia juga menyentuh hubungan manusia dengan sesamanya.

Kang Jalal memberi contoh yang sangat sederhana. Orang yang memutus tali silaturahmi mungkin telah menyesal dan berhenti bertengkar. Namun luka yang ditinggalkan pertengkaran itu belum tentu sembuh. Hubungan yang retak belum tentu kembali utuh. Karena itu, taubat harus disertai usaha memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan. Di sinilah istighfar menjadi doa agar Allah SWT menolong manusia memulihkan apa yang telah dirusaknya.

Cara berpikir seperti ini menunjukkan bahwa tasawuf Kang Jalal bukan tasawuf yang hanya sibuk mengurus batin.

Tasawuf harus tampak dalam kehidupan nyata.

Kalau seseorang pernah menyakiti orang lain, maka taubat menuntut keberanian untuk meminta maaf.

Kalau seseorang pernah berlaku zalim, maka taubat menuntut keberanian mengembalikan hak orang lain.

Kalau seseorang pernah menebarkan fitnah, maka taubat mengharuskannya menghentikan fitnah itu dan memulihkan nama baik yang telah dirusaknya.

Tasawuf, dalam pandangan Kang Jalal, tidak pernah membiarkan manusia berhenti pada penyesalan.