Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Tasawuf selalu mendorong manusia menuju perubahan

0 Pendapat 00.0 / 5

Dari sini perjalanan ruhani bergerak kepada sesuatu yang lebih dalam lagi.

Bagaimana sebenarnya seorang hamba memandang Allah?

Kang Jalal menjelaskan bahwa Al-Qur’an memperkenalkan Allah melalui banyak nama yang indah, Asmaul Husna. Dari nama-nama itu, para sufi kemudian melihat adanya dua dimensi besar dalam cara manusia mengenal Tuhannya.

Dimensi pertama disebut jalaliyyah.

Dimensi ini memperlihatkan Allah sebagai Tuhan Yang Mahabesar, Mahaperkasa, Mahaadil, dan Mahakuasa. Ketika manusia memandang Allah melalui dimensi ini, yang tumbuh di dalam hatinya adalah rasa takut, rasa hormat, dan kesadaran akan kebesaran-Nya.

Namun Al-Qur’an tidak berhenti di sana.

Allah juga memperkenalkan diri-Nya melalui sifat-sifat kasih sayang, kelembutan, ampunan, dan cinta.

Dimensi inilah yang disebut jamaliyyah.

Dalam pandangan Kang Jalal, justru nama-nama Allah yang menunjukkan kasih sayang jauh lebih banyak daripada nama-nama yang menunjukkan kemurkaan-Nya. Beliau mengutip pandangan para sufi bahwa hal itu menjadi isyarat betapa luas rahmat Allah dibandingkan murka-Nya.

Tetapi Kang Jalal tidak memilih salah satunya.

Beliau tidak mengajarkan agama yang hanya dipenuhi rasa takut.

Beliau juga tidak mengajarkan agama yang hanya dipenuhi rasa aman.

Beliau mengajarkan keseimbangan.

Kalau manusia hanya mengenal Allah melalui jalaliyyah-Nya, agama akan berubah menjadi kumpulan ancaman. Orang beribadah karena takut dihukum. Yang tumbuh bukan cinta, melainkan kecemasan.

Sebaliknya, kalau manusia hanya mengenal Allah melalui jamaliyyah-Nya, ia bisa terjebak meremehkan dosa. Ia merasa Allah pasti mengampuni apa pun yang dilakukannya, sehingga kehilangan kesungguhan dalam memperbaiki diri.

Karena itu, menurut Kang Jalal, perjalanan menuju Allah harus selalu berjalan di antara dua sayap: khauf dan mahabbah, rasa takut dan rasa cinta. Seorang hamba takut kehilangan Allah, tetapi pada saat yang sama ia juga mencintai Allah dengan seluruh jiwanya.

Keseimbangan inilah yang membuat tasawuf Kang Jalal terasa sangat manusiawi.