Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Tasawuf tidak mengajak orang hidup dalam ketakutan

0 Pendapat 00.0 / 5

Beliau juga tidak membius orang dengan harapan kosong.

Beliau mengajak manusia mengenal Allah sebagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya sendiri: Mahaperkasa sekaligus Maha Pengasih, Mahaadil sekaligus Maha Penyayang.

Di sinilah perjalanan tasawuf mulai menemukan wajahnya.

Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia sadar bahwa seluruh hidupnya bergantung kepada kasih sayang-Nya.

Dan semakin ia menyadari kasih sayang itu, semakin besar pula keinginannya untuk memperbaiki dirinya.

Karena pada akhirnya, tasawuf bukanlah perjalanan mencari pengalaman-pengalaman luar biasa.

Tasawuf adalah perjalanan agar manusia menjadi lebih jujur, lebih rendah hati, lebih penyayang, dan lebih dekat kepada Allah setiap hari.

Semua agama mengajarkan manusia untuk berubah. Tetapi perubahan itu selalu dimulai dari satu tempat yang sama.

Bukan dari tangan.

Bukan dari lisan.

Bukan pula dari pikiran.

Melainkan dari hati.

Karena itulah, ketika menjelaskan tasawuf, Kang Jalal tidak langsung berbicara tentang wirid, zikir, atau khalwat. Beliau lebih dahulu mengajak kita memahami siapa diri kita sendiri. Sebab seseorang tidak akan mampu berjalan menuju Allah apabila ia tidak mengenal medan perjalanan yang ada di dalam dirinya.

Dalam pembahasan ini, Kang Jalal banyak merujuk kepada Imam Al-Ghazali. Penulis tesis menunjukkan bahwa menurut Al-Ghazali, istilah qalb, ruh, akal, dan nafs sering dipahami seolah-olah berbeda sama sekali. Padahal, pada tingkat tertentu keempat istilah itu saling berkaitan dan menjelaskan dimensi batin manusia. Kang Jalal kemudian menjelaskan kembali konsep tersebut dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.