Sesudah qalb, Tasawuf Kang Jalal mengajak kita memahami ruh
Beliau menjelaskan bahwa ruh juga mempunyai dua pengertian. Ada ruh yang berkaitan dengan kehidupan jasmani, dan ada ruh sebagai dimensi ruhani yang menjadi pusat kesadaran manusia. Dalam pengertian kedua inilah ruh hampir tidak dapat dipisahkan dari qalb. Ruh merasakan kebahagiaan, penderitaan, kerinduan, ketenangan, dan kedekatan dengan Allah. Ruh bukan sesuatu yang dapat dilihat mata, tetapi pengaruhnya menentukan seluruh arah kehidupan manusia.
Kemudian Kang Jalal berbicara tentang akal.
Menariknya, beliau tidak menempatkan akal sebagai lawan dari hati.
Sebaliknya, akal juga mempunyai dua makna. Pertama sebagai pengetahuan itu sendiri, dan kedua sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan. Dengan demikian, akal bukanlah musuh tasawuf. Akal justru menjadi salah satu karunia Allah yang harus digunakan untuk mengenal-Nya. Tetapi akal mempunyai keterbatasan. Ada wilayah yang hanya dapat dimasuki apabila hati telah disucikan. Karena itu, dalam pandangan Kang Jalal, akal, hati, dan ruh tidak saling bertentangan. Ketiganya bekerja bersama dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah.
Inilah salah satu keindahan pemikiran Kang Jalal.
Beliau tidak pernah mempertentangkan rasio dan spiritualitas.
Beliau adalah seorang akademisi yang sangat menghargai ilmu.
Tetapi beliau juga mengingatkan bahwa ilmu tidak boleh berhenti di kepala.
Ilmu harus turun ke hati.
Sebab hanya ilmu yang sampai ke hati yang akan berubah menjadi hikmah.

