Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Sesudah hati, ruh, dan akal, barulah Nafs

0 Pendapat 00.0 / 5

Sesudah hati, ruh, dan akal, Kang Jalal membawa pembaca kepada lawan terbesar manusia.

Yaitu nafs.

Beliau menjelaskan bahwa kata nafs juga memiliki beberapa pengertian. Dalam satu sisi, nafs berarti keseluruhan diri manusia. Namun dalam pengertian lain, nafs adalah dorongan-dorongan yang dapat menyeret manusia menjauh dari Allah. Karena itu Al-Qur’an memperkenalkan tiga tingkatan nafs yang juga menjadi tahapan perjalanan spiritual manusia.

Yang pertama adalah nafs ammarah.

Inilah jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan. Ia tunduk kepada hawa nafsu, amarah, dan syahwat. Pada tahap ini manusia mudah dikuasai keinginan sesaat. Yang penting dirinya senang, meskipun harus melukai orang lain.

Tetapi manusia tidak harus berhenti di sana.

Ketika seseorang mulai sadar bahwa dirinya salah, mulai menyesali perbuatannya, dan mulai mengadili dirinya sendiri, ia memasuki tingkat kedua yang disebut nafs lawwamah. Kang Jalal menjelaskan bahwa pada tahap ini hati nurani mulai hidup. Manusia mulai merasa gelisah setiap kali melakukan keburukan. Ia mulai mendengar suara batinnya sendiri. Namun suara itu baru mampu menegur. Ia belum tentu mampu mengubah manusia apabila tidak diikuti kesungguhan untuk memperbaiki diri.

Perjalanan itu mencapai puncaknya ketika seorang hamba memperoleh nafs muthma’innah.

Inilah jiwa yang tenang.

Jiwa yang telah berdamai dengan kehendak Allah.

Jiwa yang tidak lagi diperbudak oleh hawa nafsu.

Jiwa yang kelak dipanggil dengan penuh kasih:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai.”

Ayat ini, dalam pembacaan Kang Jalal, bukan sekadar janji untuk kehidupan akhirat. Ia adalah tujuan seluruh perjalanan tasawuf. Semua latihan, semua taubat, semua muhasabah, semua munajat, semuanya bermuara pada lahirnya jiwa yang tenang karena hidupnya sepenuhnya bersandar kepada Allah.

Di sinilah kita mulai memahami mengapa penulis tesis melihat adanya corak Tasawuf Syi’i dalam pemikiran Kang Jalal.