Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Ramadhan: Ketika Tasawuf Diuji dalam Kehidupan

0 Pendapat 00.0 / 5

Kalau ada satu bulan yang paling sering dibicarakan Kang Jalal ketika menjelaskan tasawuf, bulan itu adalah Ramadhan.

Tetapi Ramadhan, dalam pandangan beliau, bukan sekadar bulan untuk memperbanyak ibadah.

Ramadhan adalah madrasah ruhani.

Sekolah tempat manusia belajar mengendalikan dirinya.

Selama sebulan penuh manusia dilatih menahan lapar, haus, kemarahan, hawa nafsu, dan keinginan-keinginan yang selama ini begitu mudah dipenuhi. Semua latihan itu, menurut Kang Jalal, bukan bertujuan agar manusia menjadi kuat menahan lapar. Tujuannya jauh lebih besar, yaitu agar manusia mampu mengendalikan dirinya ketika Ramadhan telah berlalu. Karena itu beliau mengutip doa Imam Ali Zainal Abidin yang mengucapkan salam perpisahan kepada Ramadhan dengan penuh haru. Bagi para pecinta Allah, Ramadhan bukan sekadar tamu tahunan, melainkan sahabat yang membantu mereka mendekat kepada Tuhan.

Kang Jalal mengingatkan, ujian seorang Muslim justru dimulai setelah Idulfitri.

Apakah hati yang telah dibersihkan selama Ramadhan akan tetap terjaga?

Apakah Al-Qur’an yang selama Ramadhan dibaca setiap hari akan tetap menemani kehidupan?

Apakah lidah yang selama Ramadhan dijaga dari dusta akan kembali digunakan untuk menyakiti orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan itu memperlihatkan bahwa bagi Kang Jalal, Ramadhan bukan garis akhir, tetapi awal dari perjalanan panjang penyucian jiwa. Tasawuf tidak selesai pada bulan suci. Tasawuf baru dimulai ketika manusia kembali memasuki kehidupan sehari-hari.