Ramadhan: Ketika Tasawuf Diuji dalam Kehidupan 1
Di sinilah perjalanan ruhani mencapai puncaknya.
Setelah seseorang belajar bertaubat.
Setelah ia membersihkan hati.
Setelah ia mengenal Allah melalui sifat-sifat keagungan dan kasih sayang-Nya.
Setelah ia berjuang melawan hawa nafsunya.
Apa yang tersisa?
Doa.
Dalam pembacaan Kang Jalal, munajat bukan sekadar rangkaian kalimat yang dibaca dengan suara lirih. Munajat adalah percakapan paling jujur antara seorang hamba dengan Tuhannya. Tidak ada lagi kepura-puraan. Tidak ada lagi topeng kesalehan. Yang ada hanyalah seorang manusia yang menyadari kelemahannya, mengakui dosanya, lalu mengetuk pintu kasih sayang Allah dengan penuh harapan. Karena itu Kang Jalal banyak menghadirkan munajat-munajat Ahlulbait, terutama doa-doa Imam Ali Zainal Abidin, sebagai sekolah ruhani bagi siapa pun yang ingin belajar merendahkan diri di hadapan Allah.
Membaca munajat-munajat itu, kita menemukan nada yang selalu sama.
Bukan rasa bangga karena banyak beribadah.
Bukan rasa yakin bahwa dirinya telah menjadi orang saleh.
Yang terdengar justru kerendahan hati.
“Jika Engkau mengusirku dari pintu-Mu, kepada siapa lagi aku harus pergi?”
“Aku datang membawa dosa-dosaku di hadapan-Mu.”
“Jangan jauhkan aku dari kasih sayang-Mu.”
Doa-doa seperti ini, menurut Kang Jalal, bukan lahir dari orang yang putus asa. Justru sebaliknya. Ia lahir dari orang yang sangat mengenal keluasan rahmat Allah sehingga berani datang membawa seluruh kelemahannya tanpa menyembunyikan apa pun. Inilah yang membuat munajat menjadi puncak tasawuf. Ketika seluruh kesombongan telah gugur, yang tersisa hanyalah seorang hamba yang berharap kepada Tuhannya. BAB IV.pdf

