Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Ramadhan: Ketika Tasawuf Diuji dalam Kehidupan 2

0 Pendapat 00.0 / 5

Membaca keseluruhan bab ini, kita mulai memahami mengapa penulis tesis memilih judul Tasawuf Syi’i dalam Pemikiran Tasawuf Jalaluddin Rakhmat.

Yang ia temukan bukan sekadar penggunaan istilah-istilah tasawuf.

Ia menemukan sebuah bangunan pemikiran yang utuh.

Tasawuf dimulai dengan taubat.

Dilanjutkan dengan penyucian jiwa.

Diterangi oleh makrifat.

Diseimbangkan antara jalaliyyah dan jamaliyyah, antara rasa takut dan rasa cinta kepada Allah.

Perjalanan itu berlangsung di dalam qalb, hati yang terus dibersihkan dari penyakit-penyakit batin, sambil menaklukkan nafs yang selalu mengajak kepada keburukan.

Perjalanan itu kemudian dilatih melalui madrasah Ramadhan, sebelum akhirnya bermuara pada munajat, ketika seorang hamba tidak lagi memiliki apa pun selain harapan kepada kasih sayang Allah. Seluruh bangunan inilah yang, menurut penulis tesis, memperlihatkan karakteristik tasawuf yang banyak berkembang dalam tradisi spiritual Ahlulbait dan menjadi corak penting dalam karya-karya Kang Jalal.

Namun, barangkali warisan terbesar Kang Jalal bukanlah istilah-istilah tasawuf itu sendiri.

Warisan terbesarnya adalah cara beliau mengembalikan agama kepada manusia.

Beliau tidak mengajak orang mengejar pengalaman-pengalaman yang luar biasa.

Beliau mengajak orang menjadi lebih jujur.

Lebih sabar.

Lebih lembut.

Lebih mudah memaafkan.

Lebih ringan menolong.

Lebih bersih hatinya.

Karena bagi Kang Jalal, jalan menuju Allah tidak pernah dimulai dari kaki.

Ia selalu dimulai dari hati.