Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Karya Kang Jalal yang harus Dibaca

0 Pendapat 00.0 / 5

1. Tasawuf dalam Al-Qur’an dan Sunnah
2. Meraih Cinta Ilahi
3. Madrasah Ruhaniah
4. Rintihan Suci Ahlulbait Nabi
5. The Road to Allah

Pijakan Akademik

Tasawuf Syi’i dalam Pemikiran Tasawuf Jalaluddin Rakhmat, tesis yang mengkaji bangunan pemikiran tasawuf KH. Jalaluddin Rakhmat melalui konsep taubat, tazkiyatun nafs, jalaliyyah dan jamaliyyah, qalb, ruh, akal, nafs, Ramadhan sebagai madrasah ruhani, serta munajat sebagai puncak perjalanan spiritual.

Penutup

Mungkin, selama ini kita terlalu jauh berjalan.

Kita sibuk menghitung berapa banyak ayat yang telah kita hafal, tetapi lupa menghitung berapa banyak hati yang pernah kita lukai.

Kita begitu bersemangat memperdebatkan mazhab, tetapi jarang bertanya apakah perdebatan itu membuat kita semakin dekat kepada Allah.

Kita bangga menunjukkan identitas keagamaan, tetapi sering gagal menunjukkan akhlak yang diajarkan agama.

Di sinilah Kang Jalal mengajak kita berhenti sejenak.

Beliau tidak mengajak kita memulai dari perdebatan.

Beliau mengajak kita pulang.

Pulang kepada hati.

Sebab hati adalah tempat pertama yang disentuh wahyu.

Di sanalah iman bertumbuh.

Di sanalah keikhlasan dilahirkan.

Di sanalah kesombongan harus dikalahkan.

Dan di sanalah cinta kepada Allah menemukan rumahnya.

Itulah sebabnya, ketika membaca karya-karya Kang Jalal, kita hampir tidak pernah menemukan tasawuf yang sibuk membicarakan keajaiban-keajaiban spiritual. Beliau justru lebih sering berbicara tentang memaafkan, menyayangi, menolong, menangis karena dosa, mencintai Rasulullah, mencintai Ahlulbait, dan membangun akhlak yang mulia. Semua itu, dalam pembacaan penulis tesis, menjadi bangunan tasawuf yang memiliki karakteristik tradisi spiritual Syi’i. Namun yang diwariskan Kang Jalal bukanlah semangat memberi label kepada manusia, melainkan semangat menyucikan manusia.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah,

“Apakah tasawuf Kang Jalal bercorak Syi’i?”

Pertanyaan itu penting bagi penelitian.

Tetapi bagi kehidupan, ada pertanyaan yang jauh lebih penting.

Apakah setelah membaca Kang Jalal, hati kita menjadi lebih bersih daripada sebelumnya?

Apakah kita lebih mudah meminta maaf?

Lebih mudah memaafkan?

Lebih lembut kepada keluarga?

Lebih jujur dalam bekerja?

Lebih sabar menghadapi ujian?

Lebih ringan menolong orang yang membutuhkan?

Kalau jawabannya ya, mungkin di situlah tasawuf sedang bekerja.

Bukan di ruang diskusi.

Bukan di podium.

Bukan di dalam buku.

Melainkan di dalam hati.

Dan dari hati itulah, sebagaimana diyakini Kang Jalal, lahir semua perubahan besar.

Bukan revolusi yang dimulai dengan kemarahan.

Tetapi revolusi yang dimulai dengan penyucian jiwa.

Karena peradaban yang besar tidak pernah dibangun oleh tangan yang kuat semata.

Ia dibangun oleh hati yang bersih.