Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Di Balik Pesona Gagasan dan Pemikiran: Antara Tajassumul A’mal dengan Keadilan Ilahi 2

0 Pendapat 00.0 / 5

Hadis Imam Ja’far al-Shadiq as ini menggeser cara pandang kita terhadap ilmu. Selama ini seseorang mungkin mengira bahwa dosa dan pahala hanya berkaitan dengan tindakan fisik. Padahal, sebuah kalimat, teori, pemikiran atau pandangan hidup yang diterima lalu diamalkan orang lain juga menjadi amal yang terus mengalir. Sebagaimana sedekah jariyah tidak berhenti pada saat pemberian dilakukan, demikian pula sebuah pemikiran yang benar atau salah dapat terus menghasilkan pahala atau dosa selama pengaruhnya masih hidup di tengah manusia.

Dalam mazhab Ahlul Bait as, kita tidak boleh sembarangan menerima dan mengajarkan suatu pendapat, pemikiran, dan worldview (pandangan dunia/pandangan hidup). Kita tidak boleh latah ikut-ikutan menganut pemikiran-pemikiran yang dibungkus dengan ungkapan-ungkapan bahasa akademik yang tampak canggih, objektif, dan ilmiah, atau worldview yang mengatasnamakan rasionalitas, semangat progresif, anti kejumudan, studi kritis, rekonstruksi, metode ilmiah, dan embel-embel semacamnya, padahal isi dan hakikatnya justru mengarah pada pelepasan dimensi transenden dari kehidupan. Pemikiran yang cenderung mengikis falsafah eksistensial, tidak lagi mempertimbangkan hal ihwal jiwa manusia, mengaburkan kebenaran filosofis-metafisis, menganggap kerja-kerja filosofis sebagai sesuatu yang tidak membumi, aneh, spekulasi tak berdasar dan tidak memiliki bobot epistemologis, menutup rapat-rapat peluang integrasi, mereduksi agama (dan keberagamaan) hanya sekadar fenomena sejarah, psikologis dan sosial, memutus hubungan manusia dengan realitas spiritual, serta menolak kemungkinan adanya kebenaran universal dan mutlak. Yang seperti ini sangat berpotensi merelatifkan segalanya, dan yang tidak bisa diverifikasi secara empiris sering kali dianggap tidak memiliki nilai epistemologis yang sah.

Sangat disayangkan, sebagian dari pemikiran-pemikiran yang menyihir tersebut sangat problematis jika ditinjau secara filosofis, bahkan pada level yang sangat fundamental pun rapuh yaitu pijakan ontologis dan epistemologisnya.