Di Balik Pesona Gagasan dan Pemikiran: Antara Tajassumul A’mal dengan Keadilan Ilahi 3
Berdasarkan prinsip tajassumul a’mal yang dianut dalam mazhab Ahlul Bait as, keyakinan dan amal bukan sekadar catatan yang tersimpan di dalam buku amal, melainkan memiliki realitas yang akan menampakkan dirinya di alam barzakh dan akhirat. Dengan kata lain, apa yang hari ini kita yakini, bela, dan sebarkan sedang membentuk hakikat batin kita sendiri. Pemikiran yang benar menjadi cahaya dan kebahagiaan yang menemani perjalanan ruh, sedangkan pemikiran yang batil berubah menjadi beban dan penderitaan bagi pemiliknya.
Dari sudut pandang irfan, hal ini menunjukkan bahwa ilmu bukan sekadar informasi yang mengisi pikiran, tetapi juga membentuk wujud batin manusia. Setiap keyakinan yang benar mendekatkan jiwa kepada al-Haqq, sedangkan setiap keyakinan yang batil menciptakan hijab antara hamba dan Tuhannya. Karena itu, menjaga akidah dan worldview bukan hanya persoalan identitas mazhab, tetapi juga persoalan keselamatan dan kebahagiaan eksistensial (tingkat kesempurnaan jiwa manusia)
Pada saat yang sama, penting dicatat bahwa kekritisan dan metode ilmiah itu sendiri bukanlah sesuatu yang tercela. Dalam tradisi intelektual Islam, penggunaan akal, argumentasi yang kuat dan metodologi ilmiah justru memiliki kedudukan penting. Yang menjadi persoalan bukanlah berpikir kritis atau bersikap ilmiah, melainkan bila pendekatan tersebut dijadikan dasar untuk menolak dimensi metafisik, wahyu, dan otoritas ilahi secara apriori. Dengan demikian, kritik dalam konteks ini lebih tepat dipahami sebagai kritik terhadap paradigma yang dipandang bertentangan dengan worldview tauhid, bukan terhadap aktivitas ilmiah itu sendiri.
Juga penting dicatat, apa yang disampaikan dalam tulisan ini tidak boleh dipahami tanpa kerangka dan prinsip keadilan ilahi (al-‘adl al-ilahi). Dalam perspektif keadilan ilahi, pertanggungjawaban itu tidak bersifat mekanis-normatif atau otomatis-normatif. Dengan keadilan-Nya, manusia tidak hanya dinilai berdasarkan nilai-nilai normatif agama (atau lahiriah teks-teks agama), tetapi juga timbangan holistik terhadap seluruh aspek kehidupannya lahir maupun batin. Allah Yang Maha Adil menilai manusia berdasarkan seluruh unsur atau aspek yang terlibat di dalam prosesnya: niat, tingkat pengetahuan, tingkat kesadaran, kemampuan intelektual, usaha mencari kebenaran, akses terhadap kebenaran, relasi-relasinya, seluruh rintangan dan kondisi kehidupannya, dan kompleksitas pengalamannya. Boleh jadi ada tiga orang yang memiliki kesalahan yang sama dalam ranah pemikiran, namun Allah memandang dan memperlakukan mereka secara berbeda karena terdapat perbedaan pada detail aspek-aspek yang terlibat dalam keseluruhan proses mereka.
Dengan demikian, tajassumul a’mal tidak tepat dipahami secara sederhana seolah-olah setiap kesalahan intelektual dan kesesatan pemikiran pasti berubah menjadi azab tanpa mempertimbangkan rahmat Allah. Tajassum a’mal berjalan berdampingan dengan keadilan, rahmat, syafaat dan keluasan ampunan Allah. Allah tidak menzalimi seorang pun, bahkan sekecil dzarrah.
Semoga bermanfaat dan diluaskan berkahnya. Shalawat, du‘aukum
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad wa ‘ajjil farajahum…

