Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Standar Ganda terhadap Ahlulbait2

0 Pendapat 00.0 / 5

Cerita-cerita itu diterima dan dibukukan para sejarawan. Mereka begitu telaten mengumpulkan kisah-kisah sejarah itu, menyusunnya dengan rapi di lembar-lembar buku dan kitab, lalu mewariskannya sebagai fakta yang layak dipercaya.

Namun, anehnya, ketika sejarah mulai bertutur tentang mu’jizat dan karamah Ahlulbait as, nada mereka tiba-tiba berubah. Senyum sinis menggantikan ketelitian, tawa mengejek menutupi kejujuran ilmiah dan cap khurafat serta sesat pun dijatuhkan begitu saja.

Seperti riwayat tentang diaraknya kepala al-Husain as dan Ahlulbaitnya pasca tragedi Karbala dari tempat ke tempat yang lain dari Karbala ke Kufah dari Kufah ke Damaskus melewati beberapa kota..

Kepala mulia itu selalu mengucapkan bacaan al-Qur’an terutama ayat di surat al-Kahfi:

‎أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا

“Apakah engkau mengira bahwa penghuni gua dan (orang-orang yang mempunyai) raqim itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Kami yang paling menakjubkan.

Dan cerita seorang Rahib yang melihat cahaya dari kepala mulia al-Husain as.

Pada malam itu, sang rahib melihat cahaya yang memancar dari kepala Imam Husain as Ia juga menyaksikan tulisan bercahaya di langit yang menurut sebagian riwayat berbunyi:

‎“أَتَرْجُو أُمَّةٌ قَتَلَتْ حُسَيْنًا شَفَاعَةَ جَدِّهِ يَوْمَ الْحِسَابِ؟”

“Apakah umat yang telah membunuh Husain masih mengharapkan syafaat kakeknya pada Hari Perhitungan?”

Terpukau oleh peristiwa itu, rahib meminta kepada para prajurit agar kepala tersebut diserahkan kepadanya selama satu malam. Sebagai imbalan, ia memberikan sejumlah besar uang kepada mereka.

Sepanjang malam, ia membersihkan kepala suci itu, meletakkannya di tempat yang layak, beribadah, dan menangis. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa kepala Imam Husain berbicara kepadanya atau ia memperoleh petunjuk melalui mimpi. Hatinya pun tersentuh sehingga ia mengucapkan syahadat dan memeluk Islam.

Keesokan harinya, ia mengembalikan kepala suci itu kepada pasukan, namun kini ia telah menjadi seorang Muslim dan menyatakan kecintaannya kepada Ahlulbait as.

Riwayat-riwayat lain juga mengisahkan tangisan makhluk-makhluk langit dan bumi serta berbagai tanda duka yang menyertai syahadah beliau.