Anggapan dan Merasa-Rasa Bukanlah Perkara Kecil 2
Ada beberapa riwayat Ahlul Bait as berhubungan dangan pembahasan ini. Di antaranya, diriwayatkan dari Imam ‘Ali bin Abi Thalib as: man kana ‘inda nafsihi ‘azhiman, kana ‘indallah haqiran. Barangsiapa yang menganggap dirinya besar dan hebat, maka hakikatnya dia sangat hina dan rendah di sisi Allah (Ghurar al-Hikam, no. 8609). Ukuran kemuliaan di sisi Allah tidak mengikuti persepsi diri manusia tentang dirinya sendiri. Manusia dapat membangun citra yang indah, baik dan saleh tentang dirinya, tetapi Allah melihat hakikat yang tersembunyi di balik citra itu. Ketika hati dipenuhi rasa kebesaran diri, sebenarnya ia telah kehilangan ruang untuk menyaksikan kebesaran Allah. Dua kebesaran tidak berhimpun dalam satu hati. Semakin besar “aku”, semakin tertutup cahaya “Dia”.
Dalam riwayat lain disebutkan: i’jabul mar’i bi nafsihi burhanu naqshihi wa ‘unwanu dha’fi ‘aqlihi. Kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri itu menjadi bukti kecacatan dirinya dan tanda kelemahan akalnya (Ghurar al-Hikam, no. 2006). Kekurangan yang dimaksud adalah cacat dalam pengenalan diri. Orang yang semakin mengenal dirinya dengan benar justru ia semakin mengakui kelemahan dan kebergantungan mutlak dirinya di hadapan Allah SWT, semakin mengakui betapa kurangnya dirinya dalam beramal dan menunaikan hak-hak, dan mengakui ambisi-ambisi, penyakit-penyakit hati dan aib-aib batin yang selama ini berusaha ditutupi agar tidak diketahui orang lain. Maka orang yang terpesona oleh dirinya sendiri sesungguhnya belum melihat hakikat dirinya. Ia hanya memandang bayangan yang diciptakan oleh egonya.

