Zumar: Rombongan yang Diikat oleh Cinta kepada Imam 4
Mudah bagi kita mengatakan, “Kami mencintai Imam Ali. Kami mencintai Imam Husain. Kami mencintai Imam Zaman.”
Tetapi pertanyaannya bukan itu.
Apakah Imam mengakui kita sebagai pengikutnya?
Hari ini kita berkata, “Imam kami adalah Imam Ali.”
Namun kelak, apakah Imam akan berkata, “Dia adalah pengikutku.”
Atau justru berkata,
“Aku bukan imamnya.”
Karena itu, menurut saya, zumar bukan ditentukan oleh zaman kita hidup.
Bukan pula oleh lokasi kita tinggal.
Yang menentukan adalah keterhubungan ruh.
Apakah ruh kita tersambung kepada mereka?
Apakah nama mereka sering kita sebut?
Apakah amal-amal kita kita hadiahkan kepada mereka?
Apakah kita sering berziarah?
Apakah kita memperbanyak shalawat?
Rasulullah saw. bersabda bahwa orang yang paling dekat dengan beliau adalah orang yang paling banyak bershalawat kepada beliau.
Kalau kita ingin dekat dengan seseorang, kita akan sering menyebut namanya.
Hari ini justru shalawat semakin sedikit.
Dulu tiga kali.
Sekarang satu kali.
Bahkan dua kali berikutnya hanya di dalam hati.
Padahal shalawat adalah cara kita terus menghubungkan ruh kepada Rasulullah dan Ahlulbait.
Yang menarik dalam Surah Az-Zumar, bukan hanya orang bertakwa yang berada dalam rombongan.
Orang-orang kafir pun demikian.
Mereka berkata kepada Allah,
“Ya Tuhan kami, para pemimpin kami telah menyesatkan kami. Berilah mereka azab dua kali lipat.”
Mengapa?
Karena mereka sadar, mereka masuk neraka bukan sendirian.
Mereka masuk karena mengikuti pemimpin yang salah.
Artinya, bahkan orang kafir pun akhirnya memahami bahwa memilih imam adalah persoalan besar.

