Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Membaca Kang Jalal Bukan Berarti Harus Sepakat

0 Pendapat 00.0 / 5

Barangkali inilah pelajaran yang paling menarik dari jurnal ini. Penulis tidak sedang meminta pembacanya menerima seluruh pandangan Jalaluddin Rakhmat tanpa kritik. Yang mereka lakukan justru lebih sederhana sekaligus lebih ilmiah: mengajak kita membaca langsung gagasan Kang Jalal sebelum memberi penilaian.

Sikap seperti ini terasa penting. Dalam ruang publik, nama Jalaluddin Rakhmat sering kali lebih dahulu didahului oleh berbagai label daripada dibaca melalui karya-karyanya. Ada yang mengenalnya sebagai dai, ada yang mengingatnya sebagai akademisi, ada pula yang langsung mengaitkannya dengan mazhab Syiah. Akibatnya, banyak orang membangun kesimpulan dari persepsi yang beredar, bukan dari tulisan yang benar-benar ditinggalkan olehnya.

Jurnal ini mengambil jalan yang berbeda. Penulis memilih kembali kepada sumber primer: buku-buku Jalaluddin Rakhmat sendiri. Dari sana terlihat bahwa pembahasan tentang pluralisme bukan dimaksudkan untuk mengaburkan akidah, melainkan menjelaskan bagaimana seorang Muslim dapat hidup bersama masyarakat yang majemuk tanpa kehilangan keyakinannya. Pendekatan seperti inilah yang membuat penelitian ini layak dibaca, karena pembahasannya bertumpu pada karya asli Kang Jalal, bukan pada pendapat orang tentang Kang Jalal.

Cara berpikir demikian sebenarnya sangat dekat dengan tradisi keilmuan Islam. Para ulama sejak dahulu selalu mengajarkan agar sebuah pendapat dipahami dari sumbernya terlebih dahulu. Kritik boleh dilakukan, bahkan sangat diperlukan, tetapi kritik yang adil lahir setelah seseorang memahami secara utuh apa yang sebenarnya dikatakan.

Itulah yang sering hilang dalam diskusi keagamaan hari ini. Potongan kalimat lebih cepat beredar daripada keseluruhan gagasan. Cuplikan video lebih cepat viral daripada membaca satu bab buku. Akibatnya, percakapan berubah menjadi saling menyanggah, bukan saling memahami.

Di sinilah pembaca dapat belajar satu hal dari Kang Jalal, terlepas apakah nanti setuju atau tidak dengan seluruh pandangannya. Beliau selalu mengajak orang berdialog melalui argumentasi. Buku dibalas dengan buku. Pemikiran dijawab dengan pemikiran. Perbedaan tidak otomatis berubah menjadi permusuhan.

Barangkali karena itulah dialog menjadi salah satu kata yang paling sering muncul dalam perjalanan intelektual Kang Jalal. Dialog bukan berarti menghapus perbedaan. Dialog adalah kesediaan untuk mendengar sebelum memutuskan. Dan justru di situlah ilmu bertumbuh.

Jurnal ini mengingatkan bahwa warisan terbesar seorang pemikir bukan hanya kumpulan teorinya. Warisan yang lebih berharga adalah tradisi berpikir yang ia tinggalkan. Jalaluddin Rakhmat mengajarkan bahwa keberanian mencari kebenaran harus selalu disertai kerendahan hati untuk mendengar pandangan yang berbeda. Sikap itulah yang membuat diskusi keagamaan tetap hidup tanpa kehilangan adab.