Menjadikan Perbedaan Sebagai Jalan Berbuat Baik
Pada akhirnya, jurnal ini membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar memahami definisi pluralisme.
Apa yang harus dilakukan setelah kita menyadari bahwa masyarakat memang berbeda?
Jalaluddin Rakhmat tidak menawarkan jawaban yang rumit. Beliau juga tidak mengajak orang larut dalam perdebatan yang tidak pernah selesai. Yang beliau tawarkan justru sebuah sikap hidup. Perbedaan agama tidak harus berakhir pada rasa curiga. Perbedaan juga tidak harus melahirkan tembok pemisah yang membuat manusia kehilangan kemampuan bekerja sama dalam urusan-urusan kemanusiaan.
Di sinilah pluralisme memperoleh makna yang paling nyata. Ia bukan berhenti sebagai teori dalam ruang kuliah, tetapi menjadi etika dalam kehidupan sehari-hari. Ketika tetangga berbeda agama mengalami musibah, kita tetap datang membantu. Ketika terjadi bencana alam, yang bergerak lebih dahulu adalah rasa kemanusiaan, bukan pertanyaan tentang identitas agama korbannya. Ketika membangun bangsa, semua warga negara memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kedamaian dan keadilan.
Jurnal ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Kang Jalal, penghormatan terhadap pemeluk agama lain tidak lahir dari sikap ragu terhadap keyakinan sendiri. Justru sebaliknya. Orang yang memiliki keyakinan yang matang tidak merasa terancam oleh keberadaan orang yang berbeda. Ia mampu berdiri teguh pada agamanya tanpa harus merendahkan agama orang lain. Ia memahami bahwa keyakinan tidak memerlukan kebencian untuk membuktikan dirinya benar.
Cara berpikir seperti ini terasa sangat penting di tengah dunia yang semakin mudah terbelah oleh informasi yang sepotong-sepotong. Sering kali kita lebih cepat bereaksi daripada memahami. Sebuah kutipan pendek dapat memancing kemarahan, padahal ketika dibaca secara utuh maknanya sama sekali berbeda. Jalaluddin Rakhmat justru mengajarkan kebiasaan yang semakin langka: membaca secara lengkap, memahami secara utuh, lalu berdialog dengan kepala yang dingin dan hati yang lapang.
Itulah sebabnya pluralisme dalam pemikiran Kang Jalal tidak pernah dimaksudkan untuk mengaburkan batas antara agama-agama. Yang ingin beliau bangun adalah budaya saling menghormati di tengah masyarakat yang memang diciptakan berbeda. Perbedaan bukan ancaman bagi keimanan. Yang menjadi ancaman adalah ketika manusia kehilangan akhlak dalam menghadapi perbedaan.
Mungkin karena itulah jurnal ini terasa relevan dibaca hari ini. Di tengah ruang publik yang semakin bising oleh saling menyalahkan, pemikiran Jalaluddin Rakhmat mengingatkan bahwa kekuatan sebuah masyarakat tidak diukur dari hilangnya perbedaan, melainkan dari kemampuannya merawat perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.

