perbedaan dapat menjadi ruang belajar
Cara pandang seperti inilah yang membuat pemikiran Kang Jalal terasa matang. Beliau tidak memilih jalan yang mudah. Beliau memahami bahwa masyarakat majemuk selalu menghadapi tantangan. Akan selalu ada perbedaan pandangan. Akan selalu ada perdebatan. Tetapi perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan.
Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang belajar.
Ruang berdialog.
Ruang saling memperkaya pengalaman.
Ruang berlomba menghadirkan kebaikan.
Di sinilah pluralisme menemukan makna yang sesungguhnya.
Bukan menghapus batas-batas agama.
Bukan pula menyamakan semua keyakinan.
Melainkan membangun peradaban yang mampu menjaga martabat setiap manusia.
Barangkali karena itulah Kang Jalal lebih sering berbicara tentang akhlak daripada kemenangan dalam perdebatan. Beliau percaya bahwa kualitas keberagamaan seseorang pada akhirnya tidak hanya tampak dalam apa yang diyakininya, tetapi juga dalam cara ia memperlakukan manusia lain yang berbeda dengannya.

