Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Pluralisme Agama Bukan Berarti Semua Agama Dicampur 2

0 Pendapat 00.0 / 5

Catatan Penutup

Ada satu hal yang menarik setelah membaca jurnal ini dari awal hingga akhir. Penulis tidak sedang berusaha “membela” Jalaluddin Rakhmat. Mereka juga tidak sedang mengajak pembaca untuk menerima seluruh pandangannya tanpa kritik. Yang dilakukan jauh lebih sederhana, tetapi justru lebih ilmiah: mereka mengajak kita kembali membaca pemikiran Kang Jalal dari karya-karyanya sendiri, bukan dari penilaian orang lain.

Cara seperti ini penting, sebab dalam dunia akademik sebuah gagasan selalu dinilai dari sumber aslinya. Kritik tetap terbuka, perbedaan pendapat tetap mungkin terjadi, tetapi semuanya berangkat dari pemahaman yang utuh, bukan dari prasangka atau potongan informasi.

Di sinilah nilai jurnal ini.

Ia mengingatkan bahwa membaca seorang pemikir tidak sama dengan menyetujui seluruh pemikirannya. Membaca adalah usaha memahami terlebih dahulu, baru kemudian berdialog secara jujur dan terbuka.

Jalaluddin Rakhmat sendiri sepanjang hidupnya dikenal sebagai intelektual yang sangat menghargai dialog. Beliau menulis buku untuk mengajak orang berpikir. Beliau berdiskusi untuk memperluas wawasan, bukan sekadar memenangkan perdebatan. Karena itu, ketika berbicara tentang pluralisme, beliau tidak sedang menawarkan agama baru atau menghapus batas-batas keyakinan. Beliau sedang mengajak masyarakat Indonesia belajar hidup bersama dalam ruang kebangsaan yang memang dibangun di atas keberagaman.

Mungkin di situlah letak relevansi pemikiran Kang Jalal bagi Indonesia hari ini.

Bangsa ini tidak membutuhkan masyarakat yang seragam.

Bangsa ini membutuhkan masyarakat yang dewasa.

Dewasa dalam keyakinan.

Dewasa dalam berdialog.

Dewasa dalam menghormati perbedaan.

Dan kedewasaan itu tidak lahir dari rasa takut kepada perbedaan, tetapi dari keyakinan yang kokoh terhadap agama sendiri sekaligus penghormatan terhadap martabat manusia.

Itulah yang ditangkap Mutiara Afrilia dan Zulfan Taufik dalam jurnal ini. Melalui pembacaan terhadap karya-karya Jalaluddin Rakhmat, mereka menunjukkan bahwa pluralisme bukanlah jalan untuk melemahkan iman, melainkan salah satu ikhtiar membangun kehidupan bersama yang damai, adil, dan bermartabat di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. 1891-Other-11248-1-10-20260112.pdf