Surah Ghafir dan Mereka yang Mengira Tak Tersentuh 1
Ada orang-orang yang hidup terlalu lama di puncak kekuasaan hingga mulai percaya bahwa tidak ada lagi yang mampu menjatuhkan mereka. Mereka dikelilingi pujian, dijaga oleh kekuatan, dan terbiasa melihat ketakutan di mata orang lain. Semuanya tampak kokoh. Padahal sejarah berkali-kali memperlihatkan bahwa kejatuhan paling besar justru sering bermula dari keyakinan bahwa diri mereka tak tersentuh.
Al-Qur’an mengingatkan pola itu melalui kisah Fir‘aun, Haman, dan Qarun. Nama-nama yang bukan hanya milik masa lalu, melainkan wajah yang terus berulang dalam sejarah manusia. Ada kekuasaan yang mabuk oleh dirinya sendiri, ada kekayaan yang merasa mampu membeli segalanya, dan ada pula orang-orang yang sibuk menjaga kebatilan tetap tampak meyakinkan.
Dalam ayat 17 sampai 25 Surah Ghafir, Al-Qur’an mengingatkan kembali bahwa kekuasaan yang kehilangan moral pada akhirnya akan runtuh oleh dirinya sendiri. Allamah Thabathabai dalam Tafsir Al-Mizan menjelaskan bahwa kehancuran para pelampau batas merupakan sunnatullah yang terus berulang sepanjang sejarah. Sebagian penguasa mungkin tampak kuat untuk sementara waktu. Mereka membangun rasa takut, menguasai ruang publik, bahkan merasa berhasil membungkam kebenaran. Namun kekuasaan yang kehilangan moral biasanya mulai retak dari dalam dirinya sendiri.

