Ketika Kekuasaan Mulai Mabuk: Surah Ghafir dan Mereka yang Mengira Tak Tersentuh
Ketika Kekuasaan Mulai Mabuk
Ada titik ketika kekuasaan tidak lagi dipakai untuk menjaga keadilan, melainkan untuk mempertahankan dirinya sendiri. Pada tahap itu, kritik dianggap ancaman, kebenaran dianggap gangguan, dan orang-orang yang berbeda pandangan mulai diperlakukan sebagai musuh. Sejarah sering bergerak dengan cara seperti itu. Banyak penguasa zalim jatuh bukan ketika mereka lemah, tetapi justru ketika merasa tidak mungkin dikalahkan. Mereka terlalu percaya pada propaganda yang mereka ciptakan sendiri.
Karena itu Al-Qur’an tidak mendidik orang beriman menjadi pengecut di hadapan kebatilan. Sebab kekuatan yang bertumpu pada ketakutan manusia pada akhirnya akan rapuh juga. Al-Qur’an menyandingkan tiga nama ini bukan tanpa alasan. Fir‘aun adalah lambang kekuasaan politik yang melampaui batas. Haman melambangkan mesin birokrasi dan propaganda yang menjaga kekuasaan tetap berdiri. Qarun menjadi simbol kekayaan yang kehilangan nurani lalu berubah menjadi pelayan kezaliman.
Tiga unsur ini hampir selalu muncul dalam setiap zaman. Ketika Nabi Musa a.s, datang membawa kebenaran, mereka tidak mencoba menjawab dengan argumen yang jernih. Musa justru dituduh penyihir dan pendusta.
Begitulah kebatilan sering bekerja. Saat tidak mampu mengalahkan gagasan, mereka menyerang orang yang membawa gagasan itu. Ketika tidak mampu membantah kebenaran, mereka mulai membangun ketakutan, penghinaan, dan keraguan. Namun semua itu pada akhirnya tidak cukup untuk memadamkan cahaya kebenaran.

