Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Runtuh dari Dalam: Surah Ghafir dan Mereka yang Mengira Tak Tersentuh

0 Pendapat 00.0 / 5

Runtuh dari Dalam

Surah Ghafir juga memperlihatkan bahwa banyak manusia sebenarnya mengetahui mana yang benar. Masalahnya bukan selalu kurang pengetahuan, melainkan kesombongan.

Fir‘aun tidak hancur karena tidak mengetahui kebenaran. Fir‘aun hancur karena merasa dirinya terlalu besar untuk tunduk kepada kebenaran. Pada titik itu, kekuasaan berubah menjadi penjara bagi pemiliknya sendiri.

Ketika manusia terlalu mencintai kekuasaan, perlahan kemampuan mendengar nasihat mulai hilang. Ketika terlalu mencintai diri sendiri, kritik mulai dipandang sebagai ancaman. Jika keadaan itu berlangsung terus-menerus, hati menjadi keras. Banyak kezaliman akhirnya runtuh bukan pertama-tama karena diserang dari luar, melainkan karena busuk di bagian dalamnya sendiri.

Al-Qur’an tidak pernah meminta orang beriman mengukur kebenaran dari besarnya kekuasaan. Sebab sesuatu yang besar belum tentu bertahan lama. Fir‘aun pernah merasa dirinya penguasa tertinggi. Tetapi hari ini namanya justru dikenang sebagai simbol kesombongan dan kehancuran. Sementara Musa as, yang dahulu dikejar dan ditekan, tetap hidup dalam ingatan manusia sebagai pembawa kebenaran.

Kebatilan kadang tampak menang untuk sementara, tetapi tidak pernah benar-benar tenang. Ada ketakutan yang diam-diam menggerogoti dari dalam. Sebaliknya, kebenaran mungkin tampak lemah di permukaan, tetapi memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kebatilan, yaitu daya untuk bertahan.

Dan hari ini, pelajaran itu terasa semakin dekat. Di tengah dunia yang dipenuhi perebutan pengaruh, propaganda, dan kegaduhan kekuasaan, manusia kembali menyaksikan bagaimana sebagian orang mulai merasa berada di atas kritik, di atas hukum, bahkan di atas kepentingan rakyat yang seharusnya mereka jaga.

Tanah air ini juga berkali-kali memperlihatkan hal serupa. Ada kekuasaan yang tampak kokoh selama bertahun-tahun, tetapi runtuh lebih cepat daripada yang dibayangkan. Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah kekuasaan bertahan bukan rasa takut, melainkan keadilan.

Padahal sejarah selalu bergerak dengan cara yang sunyi. Sedikit demi sedikit, mencatat kesombongan, menyimpan ketidakadilan, lalu pada waktunya menjatuhkan semuanya. Dan ketika itu terjadi, yang tersisa bukan lagi besarnya kekuasaan, melainkan bagaimana manusia pernah menggunakannya. []