Jalan Pulang Agama 5
Perjalanan intelektual tersebut kemudian memasuki wilayah yang lebih reflektif melalui Halaman Akhir 1 dan Halaman Akhir 2. Dalam kedua jilid buku tersebut, Dr. Jalaluddin Rakhmat tidak lagi berbicara terutama mengenai polemik keagamaan, melainkan mengenai perjalanan batin manusia. Pembaca diajak merenungkan makna cinta, kerendahan hati, pengampunan, kematian, harapan, dan perjumpaan dengan Tuhan. Keberagamaan tidak lagi diukur dari kemenangan dalam perdebatan, tetapi dari kemampuan manusia menghadirkan kasih sayang, memaafkan kesalahan sesama, serta membersihkan hati dari kesombongan dan kebencian. Akhlak tampil bukan hanya sebagai norma sosial, melainkan sebagai buah dari kedewasaan spiritual.
Seluruh perjalanan tersebut mencapai sintesisnya melalui Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih. Dr.Jalaluddin Rakhmat tidak sedang mempertentangkan fiqih dengan akhlak. Sebaliknya, beliau mengingatkan bahwa fiqih memperoleh maknanya ketika mengantarkan manusia kepada tujuan yang lebih luhur. Syariat merupakan hasil ikhtiar para ulama dalam memahami wahyu, sedangkan akhlak merupakan ruh yang menghidupkan seluruh bangunan agama. Ketika fiqih dipisahkan dari akhlak, hukum berisiko berubah menjadi formalitas yang kehilangan daya pembebasannya. Sebaliknya, ketika akhlak menjadi orientasi utama, fiqih kembali menjalankan fungsi profetiknya sebagai penjaga keadilan, kasih sayang, dan kemaslahatan.

