Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Maulid Nabi SAW dan Ujian Istiqamah Umat 2

0 Pendapat 00.0 / 5

Kesamaan penyebutan Surah Hud dalam dua jalur periwayatan itu mengarah pada pertanyaan yang lebih penting. Apa yang membuat surah tersebut demikian berat bagi Rasulullah SAW?

Salah satu penjelasan yang paling dikenal merujuk kepada firman Allah dalam Surah Hud ayat 112.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ

“Beristiqamahlah sebagaimana engkau diperintahkan, demikian pula mereka yang kembali bersamamu.”

Perintah itu tidak hanya ditujukan kepada Rasulullah SAW. Keteguhan juga menjadi kewajiban mereka yang memilih mengikuti jalan beliau. Tambahan وَمَنْ تَابَ مَعَكَ memperlihatkan bahwa beban tersebut jauh melampaui keteguhan pribadi seorang Nabi.

Rasulullah SAW telah menunjukkan keteguhan dalam memikul risalah. Persoalan yang kemudian diwariskan kepada umat adalah apakah mereka mampu bertahan di jalan yang sama setelah menyatakan keimanan dan kesetiaan.

Imam Khomeini, ketika menjelaskan ayat tersebut, memberi perhatian khusus pada bagian وَمَنْ تَابَ مَعَكَ. Menurut penjelasannya, Rasulullah SAW tidak mengkhawatirkan dirinya akan meninggalkan istiqamah. Kegelisahan beliau justru berkaitan dengan mereka yang telah datang kepada Islam dan menyatakan diri sebagai pengikutnya. Apakah mereka akan tetap bertahan?

Pertanyaan itu memberi Maulid Nabi bobot yang jauh melampaui seremoni. Mengenang kemuliaan Rasulullah SAW adalah bagian dari cinta kepada beliau. Namun cinta kepada seorang Nabi diuji ketika umat diminta tetap memegang jalan yang dibawanya, terutama ketika jalan tersebut menuntut kesabaran, pengorbanan, keberanian, dan kesediaan untuk tidak mengikuti arus yang lebih mudah.